MATARAM-Anggota DPR/MPR RI H Nanang Samodra kembali melakukan sosialisasi empat pilar MPR. Kegiatan diadakan Sabtu, 24 September, di Gedung Theater Ahmad Firdaus Sukmono Universitas Islam Al Azhar, Mataram. Peserta terdiri atas, mahasiswa, dosen, dan karyawan Universitas Islam Al Azhar.
Selaku narasumber, Nanang Samodra memaparkan panjang lebar mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. "Melalui Bhineka Tunggal Ika diharapkan dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa," kata pria bergelar doktor itu.
Diingatkan Nanang, kekayaan budaya Bangsa Indonesia yang beraneka ragam telah menginspirasi bangsa-bangsa lain untuk menirunya. "Pengertian dari Bhineka Tunggal Ika adalah walau pun berbeda-beda namun tetap menjadi kesatuan," ucapnya.
Oleh para pendiri bangsa, diberikan penafsiran baru karena dinilai relevan dengan keperluan strategis Bangsa Indonesia. Yaitu, walau pun di Indonesia terdapat banyak suku, agama, ras, budaya, adat, bahasa, dan lain sebagainya namun tetap satu kesatuan sebangsa dan setanah air.
Dalam mengelola kemajemukan masyarakat, Indonesia memiliki pengalaman sejarah yang cukup panjang bila dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Jauh sejak berabad-abad yang lalu bangsa Indonesia telah memiliki falsafah Bhinneka Tunggal Ika. Sejarah juga membuktikan bahwa semakin banyak suatu bangsa menerima warisan kemajemukan, maka semakin toleran bangsa itu terhadap kehadiran yang lain.
Keberagaman terdiri atas banyaknya pulau dan banyaknya suku bangsa yang menjadi ciri bangsa Indonesia telah menjadikan letak posisi geografis sangat strategis. "Budaya luhur Bangsa Indonesia tidak terlepas dari kebudayaan yang tumbuh dan berkembang yang menjadi warisan dari zaman kerajaan nusantara," kata politisi Demokrat itu.
Hal ini juga didukung antara lain dengan ditemukannya prasasti-prasasti bersejarah yang menggambarkan dinamika kehidupan Bangsa Indonesia. Sejak Indonesia merdeka, para pendiri bangsa dengan dukungan penuh dari seluruh masyarakat Indonesia bersepakat mencantumkan kalimat Bhinneka Tunggal Ika pada lambang Garuda Pancasila yang ditulis dengan huruf Latin pada pita putih yang dicengkeram burung garuda.
Namun demikian, saat ini terasa bahwa semangat Bhinneka Tunggal Ika mulai luntur. Banyak generasi muda yang tidak mengenal semboyan ini, bahkan banyak kalangan melupakan kata-kata ini. "Sehingga ikrar Sumpah Pemuda yang ditanamkan sejak tahun 1928 mulai memudar, seperti lentera kehabisan minyak," sorotnya.
Lunturnya semangat Bhinneka Tunggal Ika tersebut disebabkan oleh adanya disparitas sosial ekonomi sebagai dampak dari pengaruh demokrasi. Bahkan keadaan ini dikhawatirkan akan menimbulkan fanatisme daerah yang berlebihan. "Dengan kita kembali menggelorakan semangat kebhinekaan, maka perbedaan akan dipandang sebagai suatu kekuatan yang dapat mempersatukan bangsa dan negara dalam mewujudkan cita-cita," ucapnya.
Bagaimana cara yang dilakukan oleh negara untuk mengembalikan semangat berbhinneka di Indonesia dalam suasana disparitas perekonomian masyarakat yang semakin tajam?
Dalam situasi seperti apa Mpu Tantular dahulu mengembangkan konsep Bhinneka Tunggal Ika? Apakah zaman itu juga telah ada disparitas perekonomian masyarakat? Bagaimana naskah Sumpah Pemuda yang disiapkan jauh hari sebelum Negara Indonesia terbentuk, padahal saat itu kita masih dijajah oleh Belanda. Apakah tidak ada larangan yang diberlakukan oleh penjajah saat itu?
Meskipun saat ini kita sudah merdeka, namun ternyata masih banyak hak masyarakat adat yang terpinggirkan. Seperti misalkan hak ulayat di hutan-hutan. Tanpa sepengetahuan masyarakat adat setempat tiba-tiba hutan yang mereka kelola beralih status menjadi hak pengelolaan oleh perusahaan-perusahaan tertentu, dan masyarakat adatnya terusir. Apa, peran dari Mr Muhammad Yamin dalam Bhinneka Tunggal Ika?
Berbagai masalah dan pertanyaan itu dibahas Nanang bersama para peserta kegiatan. Semua turut urun rembuk untuk mencari solusi. (yuk/r9) Editor : Wahyu Prihadi