Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Raja Ampat Dianiaya, Orang Pariwisata Bersuara

Prihadi Zoldic • Jumat, 6 Juni 2025 | 18:47 WIB
Keindahan dan keanekaragaman hayati laut Raja Ampat yang tak tertandingi kini berada di ambang ancaman serius.
Keindahan dan keanekaragaman hayati laut Raja Ampat yang tak tertandingi kini berada di ambang ancaman serius.

 

LombokPost - Raja Ampat bak surga yang terluka akibat tambang. "Kalau surga bisa difoto, barangkali bentuknya seperti Raja Ampat," kata Taufan Rahmadi, pemerhati pariwisata. 

Dikatakan, Raja Ampat kini, surga itu mulai berubah wajah. Dan luka yang tengah timbul itu bukan karena bencana alam, tapi oleh tangan manusia yang serakah.

Dikutip dari berbagai sumber, empat perusahaan tambang, PT Gag Nikel, PT Kawei Sejahtera Mining, PT Anugerah Surya Pratama (PMA China), dan PT Mulia Raymond Perkasa diketahui menggerus pulau-pulau kecil di Raja Ampat.

Ada yang beroperasi tanpa dokumen lingkungan. Ada yang menggali di luar izin kawasan. Ada yang menyebabkan sedimentasi berat di pesisir. Kesemuanya membuat Raja Ampat tersakiti. 

“Kita bisa bangun gedung pencakar langit, tapi kita tak bisa bangun kembali ekosistem laut yang rusak," tegas Taufan Rahmadi terkait persoalan Raja Ampat yang kini menjadi isu nasional. 

Raja Ampat tegas Taufan Rahmadi bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah titik jantung biodiversitas dunia.

Tak kurang dari 75 persen spesies karang dunia hidup di Raja Ampat. Di sinilah Manta Ray menari. Di sinilah nelayan adat hidup dengan hukum sasi, menjaga laut lewat kearifan yang diwariskan turun-temurun.

Tapi kini hukum adat dilangkahi. Lautan dilukai. Ekowisata terancam mati sebelum berkembang. Taufan Rahmadi mengatakan sungguh malang nasib Raja Ampat. 

“Pariwisata itu renewable economy. Nikel itu one shot deal. Setelah digali, habis," sambung Taufan Rahmadi. 

Taufan Rahmadi lantas mengingatkan, Presiden Prabowo pernah berkata:
"Kita punya keajaiban alam dan budaya. Kita harus menjaganya, bukan menjualnya."

Maka dari itu, berkaca dari kasus Raja Ampat menurut Taufan Rahmadi, kita harus memilih: Menjadi bangsa konservator atau Menjadi bangsa destructor. 

Pemandangan eksotis Raja Ampat yang kini terancam oleh aktivitas pertambangan nikel. (Sumber internet)
Pemandangan eksotis Raja Ampat yang kini terancam oleh aktivitas pertambangan nikel. (Sumber internet)

Karena kalau kita diam, mungkin yang kita wariskan pada anak cucu nanti bukan laut yang biru. Tapi bekas galian dan puing-puing penyesalan.

"Terus kita kita bersuara, kawal pariwisata Indonesia, karena Raja Ampat bukan tambang, ini adalah warisan dunia," tutup Taufan Rahmadi. (yuk/r6) 

Editor : Prihadi Zoldic
#Taufan Rahmadi #raja ampat #tambang #Pariwisata