LombokPost - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperingatkan pelaku industri dalam negeri untuk segera mengantisipasi dampak meluas dari konflik Iran dan Israel terhadap sektor manufaktur nasional.
Sedangkan, Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) menyampaikan ketegangan geopolitik berpotensi mengganggu pasokan bahan baku utama dan jalur logistik industri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa industri sangat rentan terhadap gangguan pasokan energi dan bahan baku akibat ketergantungan impor, terutama dari kawasan Timur Tengah yang kini berada dalam ketegangan geopolitik tinggi.
"Efisiensi energi menjadi kunci, sekaligus mendukung kedaulatan energi,” ujarnya.
Industri diminta ikut memperkuat ketahanan energi nasional melalui pengembangan produk-produk pendukung, seperti mesin pembangkit, infrastruktur energi, dan komponen energi terbarukan.
Di sektor pangan, Agus menekankan pentingnya hilirisasi agroindustri sebagai respon atas lonjakan biaya logistik global dan gejolak kurs yang berdampak pada harga bahan pangan impor.
“Industri harus berperan aktif dalam memproses hasil pertanian dan perikanan domestik agar tidak terus tergantung pada bahan baku impor,” urainya.
Pemerintah juga mendorong pemanfaatan fasilitas local currency settlement (LCS) dari Bank Indonesia sebagai alat untuk meredam dampak fluktuasi nilai tukar terhadap biaya input produksi.
Krisis di Timur Tengah juga memperlihatkan kerentanan rantai pasok global. Gangguan di Selat Hormuz dan Terusan Suez telah memaksa pengalihan rute pengiriman, menambah waktu tempuh hingga 15 hari dan meningkatkan biaya logistik hingga 200 persen.
“Konflik ini sangat mengganggu. Bukan hanya dari sisi keamanan global, tapi juga akan berdampak langsung terhadap pengapalan bahan baku kami,” ujar Ketua Umum Gapmmi Adhi Lukman.
Menurut Adhi, kekhawatiran utama terletak pada potensi lonjakan biaya logistik, seperti yang pernah terjadi dua tahun lalu ketika ketegangan serupa di kawasan Timur Tengah memicu lonjakan ongkos kirim.
Adhi juga memperingatkan bahwa beban biaya tersebut kemungkinan akan diteruskan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga jual produk makanan dan minuman. “Itu apabila tidak ada perbaikan kondisi dalam waktu dekat,” ujarnya
Terkait langkah mitigasi, Adhi mengaku bahwa pelaku industriberada dalam posisi sulit untuk melakukan tindakan konkret, selain berharap adanya perbaikan situasi global. ”Memang kami belum bisa berbuat banyak saat ini. Tapi harapan ke depan, ketergantungan terhadap impor harus semakin dikurangi agar industri kita lebih mandiri,” ujarnya. (agf/dio/jpg)
Editor : Pujo Nugroho