Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ketegangan Geopolitik Picu Gejolak Pasar Perang Iran-Israel, IHSG Rentan Terkoreksi dan Potensi Arus Keluar Dana Asing Tinggi

Lombok Post Online • Senin, 23 Juni 2025 | 13:28 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost  - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada pekan ini.

Faktor eksternal berupa konflik Iran-Israel masih menjadi pengaruh penting yang akan dicermati investor.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan berpikir, IHSG menguji level support di kisaran 6.820 hingga 6.850, menyusul sinyal teknikal yang belum menunjukkan pembalikan arah.

Baca Juga: Gejolak Geopolitik Iran-Israel, NTB Alihkan Sementara Fokus Ekspor ke Pasar Asia

"Stochastic RSI menunjukkan posisi oversold, namun belum ada indikasi rebound. Selain itu, volume jual meningkat dan terjadi pelebaran kemiringan negatif pada indikator MACD," ujarnya Minggu (22/6).

Pada penutupan perdagangan Jumat (20/6) lalu, IHSG terkoreksi 0,88 persen ke level 6.907,14.

Tekanan ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran, serta pelemahan nilai tukar rupiah menjadi pemicu utama pelemahan indeks.

Baca Juga: Di Hadapan Sekjen PBB, Jokowi Bicara Soal Geopolitik, Tantangan Global, Hingga Gaza

“Kekhawatiran pasar meningkat seiring keterlibatan Amerika Serikat,” imbuhnya.

Di sisi lain, lanjut Valdy, bursa saham Asia bergerak bervariasi mengikuti keputusan Bank Sentral Tiongkok mempertahankan suku bunga acuan (loan prime rate) masing-masing 3 persen untuk tenor 1 tahun dan 3,5 persen untuk 5 tahun.

“Sentimen negatif juga terlihat di pasar komoditas. Harga emas ditekankan akibat kekhawatiran terhadap potensi kenaikan inflasi, yang memperkecil peluang penurunan suku bunga dan menguatkan posisi USD,” ucapnya.

Baca Juga: Menko Airlangga Dampingi Presiden Jokowi Temui Joe Biden Bahas Geopolitik

Sementara itu, Kepala Riset dan Chief Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto menyatakan, gejolak pasar ini dipicu oleh ketegangan geopolitik.

Dia memperkirakan volatilitas jangka pendek hingga menengah akan tetap tinggi, dengan harga energi dan permintaan aset safe haven kemungkinan akan tetap meningkat.

“Kondisi ini berpotensi memicu arus keluar dana asing yang signifikan dari pasar saham Indonesia, terutama pada saham-saham yang banyak dimiliki investor asing,” imbuhnya.

Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan data perdagangan saham pada pekan lalu (16/6-20/6) berakhir ditutup dengan pergerakan melemah.

Terlihat dari IHSG selama sepekan mengalami pelemahan sebesar 3,61 persen yang berakhir ditutup pada level 6.907,13 dari 7.166,06 pada pekan lalu.

RENTAN TERDAMPAK: Investor melihat Indeks Harga Saham Gabungan melalui layar laptop di Jakarta, Minggu (15/6).BEI melaporkan data perdagangan saham pada pekan lalu (16/6-20/6) berakhir ditutup melemah
RENTAN TERDAMPAK: Investor melihat Indeks Harga Saham Gabungan melalui layar laptop di Jakarta, Minggu (15/6).BEI melaporkan data perdagangan saham pada pekan lalu (16/6-20/6) berakhir ditutup melemah

Sementara, investor asing Jumat lalu (20/6) mencatatkan nilai jual bersih Rp 2,73 triliun dan sepanjang tahun ini, investor asing mencatatkan nilai jual bersih Rp 53,10 triliun, kata PH Sekretaris Perusahaan BEI, I Gusti Agung Alit Nityaryana. (agf/dio/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#ihsg #geopolitik #level #Tekanan #saham