LombokPost - Efek dari serangan Amerika ke Iran meluas.
Salah satunya adalah rencana penutupan Selat Hormuz yang akan berdampak pada ekonomi dunia.
Di sisi lain, adu serangan dengan Israel juga masih terus berlangsung.
Di Teheran, Iran, suara ledakan masih terus terdengar Senin (23/6).
Bulan Sabit Merah Iran mengonfirmasi adanya serangan rudal Israel yang menghantam dekat markas mereka.
Di sisi lain, militer Israel mengklaim telah menyerang markas rudal di bagian barat Iran.
Ada enam bandara dan markas militer yang telah diserang sejauh ini.
Dikutip dari AFP Minggu (22/6), Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan pihaknya melakukan serangan dengan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dia menambahkan, ada kemungkinan Israel sekaligus menggulingkan kepemimpinan Iran, sebagaimana juga disampaikan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump setelah militernya menyerang tiga situs nuklir Iran pada Minggu (22/6).
"Jika Rezim Iran saat ini tidak dapat membuat Iran hebat lagi, mengapa tidak ada perubahan rezim?" kata Trump, dalam unggahannya di platform Truth Social.
Di sisi lain, di Israel, perusahaan listrik nasional setempat melaporkan adanya kerusakan di dekat fasilitas infrastruktur strategis di bagian selatan yang mengganggu pasokan listrik.
Tapi, beberapa detail kerusakan tidak dipublikasikan.
Sementara itu, meski langsung membombardir Israel dengan 30 rudal setelah tiga situs nuklirnya diserang AS, Iran memastikan kalau serangan balasan mereka belum akan berakhir.
Dikutip dari Al Jazeera, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Abdolrahim Mousavi mengatakan, AS telah melanggar kedaulatan Iran karena menyerang situs nuklir di Fordo, Natanz, dan Isfahan.
Garda Revolusi Iran mengancam akan menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah.
"Dengan menyerang fasilitas nuklir damai, Amerika secara de facto telah menempatkan diri mereka dalam bahaya langsung," kata Garda Revolusi, dalam pernyataan resmi mereka.
Washington memiliki banyak pangkalan di sekitar Teluk Persia, di antaranya di Bahrain dan Qatar.
Beberapa pangkalan terletak relatif dekat dengan Iran sehingga masuk dalam jangkauan daya tembak rudal-rudal mereka.
Sekitar 40.000–50.000 tentara AS ditempatkan di pangkalan-pangkalan militer tersebut.
Kelompok Houthi yang berpihak pada Iran di Yaman juga telah berjanji untuk memulai kembali serangan maritim mereka jika AS melanjutkan aksi militer mereka demi kepentingan Israel.
Kelompok tersebut rutin melancarkan serangan rudal terhadap Israel sebagai bentuk perlawanan terhadap tindakan mereka di Gaza.
Selat Strategis
Ada juga kemungkinan Iran mencoba menutup Selat Hormuz yang strategis dan kemungkinan keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
The Guardian melansir, parlemen Iran sudah menyetujui, tapi keputusan akhir di tangan Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei.
Jika itu dilakukan, distribusi minyak dunia terancam terganggu. Harganya pun dikhawatirkan akan semakin melonjak.
Selat Hormuz berada di antara Teluk Persia dan Teluk Oman. Selat itu menjadi satu-satunya jalur laut dari Teluk Persia ke laut lepas.
Di sisi pantai utara selat ini ada Iran, sedangkan pantai selatannya terletak di Semenanjung Musandam.
Kepada Hindustan Times, India, mantan ketua Hindustan Petroleum Corporation Limited MK Surana memprediksi harga minyak mentah dunia akan melonjak, tapi tidak akan melampaui USD 80 per barel.
Jika dilihat secara fundamental, harga minyak mentah akan berada pada kisaran USD 60 hingga USD 65 per barel.
“Selat Hormuz tidak pernah ditutup atau diblokir dalam sejarah. Akan terjadi eskalasi besar jika ada upaya dari pihak Iran untuk menutup selat tersebut,” kata Pakar Energi India Narendra Taneja.
Dia memprediksi AS kemungkinan besar akan menanggapi penutupan itu dengan cara militer dan membuat Iran tidak akan memblokir Selat Hormuz.
Selain itu, Arab Saudi, Kuwait dan Irak juga akan memprotes.
Sebanyak 90 persen minyak Iran dibeli Tiongkok dan diangkut melalui Selat Hormuz. Jadi, kalau benar ditutup, Negeri Panda itu tentu juga bakal terusik.
Karena itu, AS dilaporkan berusaha mendekati Tiongkok agar turut mendesak Iran untuk tidak menutup selat tersebut.
Pangkalan Militer AS di Timur Tengah
Amerika Serikat (AS) kali pertama menempatkan pasukan di Timur Tengah pada Juli 1958.
Sampai pertengahan 2025, ada sekitar 40 ribu sampai 50 ribu pasukan AS di Timur Tengah, baik di pangkalan besar dan permanen maupun di pos-pos lebih kecil.
Bahrain
Di sini ada Armada Kelima AL AS dan Markas Komando Pasukan Pusat Pasukan AL AS. AS menempatkan sejumlah kapal, termasuk empat kapal antiranjau.
Iraq
Ada sekitar 2.500 pasukan AS sebagai bagian koalisi internasional melawan kelompok Negara Islam (IS). Iraq sekutu Iran, tapi juga partner strategis AS.
Kuwait
Ada sejumlah basis militer. Pangkalan Udara Ali Al Salem, misalnya, jadi pintu utama untuk mengangkut pasukan dan peralatan perang ke wilayah Timur Tengah.
Qatar
Pangkalan Udara Al Udeid menjadi tempat pengangkutan, pemantauan udara, dan evakuasi aset udara.
Syria
AS sudah bertahun-tahun menempatkan pasukan di Syria sebagai bagian upaya internasional menghadapi kelompok Negara Islam.
Uni Emirat Arab
Pangkalan Udara Al Dhafra terdiri atas 10 skuadron pesawat dan termasuk sejenis MQ-9 Reapers. Juga jadi pusat pelatihan pertahanan rudal.
Sumber: AFP, Al Jazeera
Selat Hormuz, Jalur Krusial untuk Transportasi Minyak dan Gas
Iran
Iraq
Kuwait
Bahrain
Qatar
UEA
Oman
Teluk
Laut Arab
Laut Merah
Kepadatan lalu lintas tanker* dalam h/km2 (per September 2024)
- Kilang
- Terminal LNG (gas alam cair)
*Semua tanker, termasuk yang mengangkut minyak dan LNG
Data peta: OSM, Copernicus
Sumber: Global Maritime Traffic (data terakhir yang tersedia), Bloomberg 19 Juni 2025 (kilang dan terminal LNG)
(lyn/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida