LombokPost – Setelah ditutup sejak Selasa (24/6) untuk kepentingan evakuasi pendaki WNA asal Brasil, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) kembali membuka jalur pendakian menuju puncak Gunung Rinjani.
Pembukaan jalur pendakian mulai berlaku Sabtu (28/6).
Pengumuman itu disampaikan melalui kanal resmi Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang disiarkan Jumat malam (27/6).
"Sehubungan dengan telah selesainya kegiatan evakuasi korban kecelakaan di Cemara Nunggal, jalur menuju puncak Gunung Rinjani dibuka kembali mulai tanggal 28 Juni 2025," jelas Kepala Balai TNGR Yarman.
Setelah tragedi jatuhnya pendaki Brasil, Balai TNGR kini lebih ekstra waspada agar insiden serupa tidak terulang lagi.
Pihaknya pun mengimbau seluruh pengunjung yang mendaki melalui semua jalur pendakian TNGR untuk mengutamakan keselamatan.
Selama aktivitas pendakian pengunjung diminta untuk tetap mematuhi standar operasional prosedur (SOP) pendakian yang telah ditetapkan TNGR.
Salah satunya melakukan aktivitas pendakian melalui jalur-jalur resmi.
Hal itu untuk memudahkan pemantauan oleh petugas demi keselamatan pendaki.
"Gunung Rinjani bukan hanya tujuan. Tapi juga tanggung jawab bersama. Mari cintai Rinjani dengan peduli," papar Yarman.
Seperti diketahui, Balai TNGR sempat menutup jalur pendakian dari Pelawangan 4 Sembalun menuju puncak Gunung Rinjani.
Penutupan dilakukan sejak Selasa lalu (24/6). Saat itu tim SAR gabungan sedang berjuang keras melakukan proses evakuasi pendaki wanita asal Brasil yang terjatuh ke bawah jurang di area Cemara Nunggal.
Sebetulnya, pengunjung tetap bisa melakukan aktivitas pendakian di seluruh jalur wisata pendakian TNGR.
Tapi batas yang diperbolehkan sampai dengan lokasi Pelawangan 4 Sembalun.
Adapun dari Pelawangan 4 Sembalun menuju puncak Gunung Rinjani ditutup total saat itu untuk memperlancar kegiatan operasi SAR.
Nah, mulai Sabtu (28/6) jalur menuju puncak Rinjani kembali dibuka karena operasi SAR sudah selesai.
Tim Basarnas dan petugas gabungan berhasil mengevakuasi pendaki wanita asal Brasil bernama Juliana De Sauza Pereira Marins pada Rabu lalu (25/6).
Korban berhasil dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia dari kedalaman 600 meter.
Medan yang ekstrem dan kabut tebal dengan cuaca yang tidak menentu jadi kendala utama dalam misi kemanusiaan itu.
Editor : Siti Aeny Maryam