Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Efek Perang Iran dan Israel ke RI, BBM Bisa Meledak! Ekonomi China dan Jepang Goyang, Indonesia Kena Imbas

Alfian Yusni • Senin, 30 Juni 2025 | 08:33 WIB
Perang Iran dan Israel bisa membuat negara-negara pengimpor minyak seperti Jepang, China, dan Eropa kalang kabut karena biaya energi melonjak. (istimewa)
Perang Iran dan Israel bisa membuat negara-negara pengimpor minyak seperti Jepang, China, dan Eropa kalang kabut karena biaya energi melonjak. (istimewa)

LombokPost - Perang Iran dan Israel makin panas dan efeknya mulai terasa ke mana-mana. Meski tidak langsung menghantam Indonesia, dampak perang Iran-Israel bisa bikin harga BBM naik, ekonomi global terguncang, dan pertumbuhan Indonesia melemah.

Ahmad Heri Firdaus, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), mengingatkan bahwa Indonesia harus siaga penuh.

“Perang ini bisa memicu krisis energi dan ganggu perdagangan global,” katanya dalam diskusi publik bertajuk Dampak Perang Iran-Israel terhadap Perekonomian Indonesia, Senin (30/6).

Baca Juga: Sekolah Rakyat Gratis Siap Dibuka, 100 Titik Dibangun, Sasar Anak dari Keluarga Termiskin!

Ahmad menyebutkan bahwa Iran adalah negara dengan cadangan minyak terbesar ketiga di dunia.

Jika jalur distribusi minyak terganggu, terutama lewat Selat Hormuz, maka bukan tidak mungkin harga minyak dunia melesat.

Kondisi ini bisa membuat negara-negara pengimpor minyak seperti Jepang, China, dan Eropa kalang kabut karena biaya energi melonjak.

“Kalau Timur Tengah terganggu, yang terdampak duluan itu China, India, Eropa. Tapi kita tetap kena imbas dari sisi perdagangan dan ekspor,” jelasnya.

Dari hasil simulasi Global Trade Analysis Project (GTAP), Ahmad menyebut konflik ini bisa membuat ekonomi Indonesia turun 0,005 persen.

Sekilas tampak kecil, tapi jika ekonomi China dan Jepang goyang, dengan proyeksi penurunan masing-masing 0,037 persen dan 0,048 persen, maka rantai dampaknya ke Indonesia bisa membesar.

“Ekspor kita bisa kena. Impor barang dari luar juga bisa turun drastis, dari pangan olahan sampai logam dan petrokimia. Daya saing produk Indonesia pun bisa melemah,” kata Ahmad.

 

Karena itu, ia menyarankan pemerintah segera ambil langkah cepat untuk menjaga kestabilan, terutama pada harga BBM dan LPG yang bisa ikut melonjak.

Langkah Cepat yang Harus Ditempuh Pemerintah:

1. Perkuat subsidi BBM dan LPG agar daya beli masyarakat tidak jeblok dan inflasi tetap terkontrol.

2. Diversifikasi sumber impor energi, alihkan pasokan dari wilayah konflik ke negara aman seperti Australia dan ASEAN.

3. Dorong kerja sama bilateral dalam perdagangan energi untuk jaga stok dan harga.

4. Perluas rantai pasok industri agar tak tergantung pada satu wilayah.

5. Genjot investasi sektor hulu, dari pupuk hingga energi alternatif.

6. Pemetaan sektor terdampak, khususnya manufaktur dan pertanian, supaya kebijakan stimulus lebih tepat sasaran.

“Kalau tidak segera ditangani, konflik Iran-Israel bisa seret Indonesia masuk ke dalam pusaran ketidakpastian global,” tegas Ahmad.

Harga BBM naik, harga LPG naik, dan ekonomi global terguncang bukan sekadar ancaman jauh di sana. Indonesia harus bersiap dari sekarang, sebelum semuanya terlambat. (***)

 

Editor : Alfian Yusni
#ekonomi global #Indonesia #harga #lpg #Perang Iran dan Israel #melemah #indef #terancam naik #BBM