Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Orang Pertama Kali Turun Jurang Menyelamatkan Juliana Adalah Pemandu Wisatanya Sendiri

Lalu Mohammad Zaenudin • Jumat, 4 Juli 2025 | 12:21 WIB
Upaya Ali Musthofa mencoba menuruni jurang Rinjani.
Upaya Ali Musthofa mencoba menuruni jurang Rinjani.

LombokPost – Dalam rekaman video yang beredar, Ali Musthofa terlihat turun jurang tanpa anchor. Tanpa harness. Tanpa karabiner. Tanpa jumar.

Hanya bermodal satu hal: rasa tanggung jawab.

Adalah Ali Musthofa, pemandu lokal Gunung Rinjani, yang kini menjadi sasaran kemarahan publik internasional setelah insiden tragis yang merenggut nyawa pendaki asal Brasil, Juliana Marins.

Namun di balik ribuan komentar yang menuduhnya, di balik tagar yang menyudutkannya, ada satu kenyataan yang tak terbantahkan: Ali adalah orang pertama yang turun.

“Saya memintanya untuk istirahat karena dia bilang lelah. Kami sepakat saya akan jalan sedikit ke depan,” ujar Ali dalam sebuah wawancara.

Beberapa menit setelahnya, ia sadar Juliana tak menyusul. Ia menoleh ke belakang, dan melihat kilatan samar dari cahaya senter yang berada jauh di bawah tebing.

“Saat dia tidak muncul, saya menoleh ke belakang dan melihat cahaya senter di bawah, dalam kegelapan,” ungkapnya.

 Baca Juga: Perbedaan Kesaksian Ali Musthofa vs Ayah Juliana Marins, Putri Kami Mati Karena Diterlantarkan Merokok

Ali tidak membawa standar rescue. Tali tak cukup. Tidak ada sistem pengaman. Tapi dia turun bukan karena yakin bisa menyelamatkan, tapi karena itulah naluri pertamanya sebagai seorang guide: memastikan kliennya tidak sendiri.

“Tali pun tak cukup. Tapi dia tetap turun, meski tak terlihat apa-apa di bawah sana,” tulis netizen yang melihat foto upaya Ali Musthofa turun jurang. 

"Kalau tali itu lepas, mati dia,” timpal yang lain. 

Upaya evakuasi itu gagal. Medannya terlalu curam, alatnya terlalu minim. Tapi ia sudah mencoba sesuatu yang tidak semua orang berani lakukan: bergerak di saat yang lain masih bertanya-tanya harus mulai dari mana.

“Begitu saya sadar dia tidak ada di belakang saya, saya langsung kembali,” ucap Ali dalam keterangan berikutnya.  

Namun dunia tak ingin mendengar. Ia disebut meninggalkan. Ia disalahkan. Ia bahkan disebut telah di-blacklist dari pekerjaannya — tempat ia sebelumnya menggantungkan hidup.

“Saya hanya pergi beberapa menit. Lalu saya kembali. Saya tidak meninggalkannya,” katanya lirih.

 Baca Juga: Sedih Tak Bisa Selamatkan Juliana Marins, Agam Rinjani Berbisik Lirih: Seandainya Saya Ada Disana Dia Pasti Masih Hidup

Juliana Marins ditemukan tewas beberapa hari kemudian, jauh di bawah titik Cemara Nunggal. Sebuah jalur yang dikenal rawan, sebuah medan yang bahkan rescuer profesional pun tak mudah menaklukkannya.

Keluarga Juliana menuntut jawaban. Netizen menuntut keadilan. Tapi siapa yang benar-benar tahu, apa yang dirasakan seorang guide muda ketika melihat lampu kliennya sudah di dasar jurang?

“I did not abandon Juliana,” ucap Ali.

 Banyak yang menyebut sistem SAR lambat. Banyak pula yang lupa bahwa para guide lokal seperti Ali sering kali bekerja tanpa pelatihan penyelamatan vertikal. 

Ali Musthofa bukan pahlawan. Ia juga bukan penjahat. Ia hanya seorang pemandu muda yang memutuskan untuk bertindak, saat semua orang masih ragu.

Dalam dunia yang menuntut hasil sempurna, tindakannya dianggap sia-sia. Tapi dalam nuraninya, ia tahu: ia tidak membiarkan Juliana sendiri.

"Saya memintanya istirahat. Saya kembali. Saya lihat senternya. Saya coba turun. Saya gagal. Tapi saya tidak meninggalkannya.”

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Evakuasi Gunung #Guide Pendakian #Kecelakaan Gunung Rinjani #Netizen Internasional #Ali Musthofa #Tragedi Rinjani #Pendaki Brazil #Tanggung Jawab Guide #Juliana Marins