LombokPost - Kalau saja tak dipatuk ular yang membuatnya kehilangan kesadaran, Rafa dijadwalkan dikhitan lima hari berselang.
Keluarga sudah sebar undangan perayaan khitanan.
Ini menjadi pengingat pentingnya pertolongan pertama kepada korban gigitan ular.
UNDANGAN perayaan khitanan yang telah disebar itu akhirnya hanya menjadi monumen kesedihan. Gigitan ular merenggut nyawa Rafa Ramadhani Suwondo, bocah yang akan disunat, setelah lebih dari sebulan dalam kondisi koma.
“Ibunya ndak pernah berhenti nangis sejak jenazah tiba pagi tadi (kemarin) pukul 04.00,” kata salah seorang tetangga yang tengah bertakziah di rumah duka di Desa Bukur, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Rafa meninggal tepat di pergantian hari dari Sabtu (19/7) ke Minggu (20/7) pukul 00.00. “Keterangan terakhir dokter, Rafa sudah lemah. Kondisinya menurun semua sejak (Sabtu) pagi. Jam 11 malam (23.00) dokter memanggil kami, bilang kondisinya makin menurun. Jam 12 malam sudah tidak ada (meninggal),” ungkap Suwondo, ayah Rafa, sebagaimana dilansir Metro Pekalongan Minggu (20/7).
Bocah asal Desa Bukur, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, Jateng itu diduga digigit ular di rumahnya pada 16 Juni lalu. Keluarga kemudian membawanya ke RSUD Kajen, Kabupaten Pekalongan.
Di sana, Rafa mendapatkan penanganan awal, tapi kemudian dipulangkan untuk rawat jalan. Belum sampai rumah, dia mengalami kejang-kejang.
Keluarga lantas melarikannya ke RSI Muhammadiyah Pekajangan, Kabupaten Pekalongan, sebelum akhirnya dirujuk ke RSUP dr Kariadi Semarang sejak Rabu (9/7) dua pekan lalu.
Ada yang menyebut Rafa digigit ular weling, salah satu jenis ular dengan bisa mematikan. Tapi, dr Tri Maharani, satu-satunya dokter spesialis toksinologi ular berbisa di Indonesia, belum berani menyimpulkan bahwa benar ular weling yang menggigit bocah yang telah disuntik puluhan antivenom tersebut.
Saat ditemui di RSUD Kajen pada akhir Juni (28/6), Maha, sapaan akrabnya, mengatakan, sejak kasus itu mencuat, belum ada bukti foto atau spesimen ular yang menggigit Rafa.
Bahkan, ia juga tak bisa menyimpulkan sepenuhnya bahwa itu gigitan ular atas dasar kehati-hatian dalam mendiagnosis. “Kalau ciri-cirinya iya (digigit ular). Sebab, hewan yang beracun dengan neurotoksin seperti yang ada di tubuh Rafa, ya, kemungkinan besar ular,” katanya.
Tinggal Kenangan
Kalau saja dia tidak digigit ular pada 16 Juni, lima hari sesudahnya dia dijadwalkan untuk dikhitan. “Undangan sudah disebar ke tetangga dan kerabat.
Tapi, bisa yang menyebar ke dalam tubuhnya membuat rencana itu tinggal kenangan. Karena tak pernah siuman sejak insiden gigitan di rumahnya di Desa Bukur, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan itu, Rafa pun tak meninggalkan pesan apa-apa.
“Saya dan ibunya terus mendampingi dia selama dirawat,” kata Suwondo setelah pemakaman.
Kasus anak sulung dari dua bersaudara itu menyita perhatian publik dan dunia medis sejak mencuat. Mulai dari dugaan salah diagnosa oleh RSUD Kajen sebagai rumah sakit pertama yang menangani, hingga turunnya ahli dari Kementerian Kesehatan. Dinas Kesehatan Jateng juga ikut memantau perkembangannya.
Petakziah terus berdatangan sepanjang hari kemarin, termasuk Kepala Sekolah SD Negeri 01 Bukur bersama beberapa teman sekelas Rafa. Mereka awalnya tampak tegar, namun akhirnya menangis sejadi-jadinya ketika jenazah Rafa dimasukkan ke dalam keranda.
“Rafa itu anaknya baik, ceria. Ya, seperti anak-anak pada umumnya, mudah bergaul,” kata Dewi Wati, Kepala SDN 01 Bukur.
Suara tangis di dalam rumah duka makin keras ketika keranda mulai diberangkatkan ke musala untuk prosesi salat jenazah. Ibunda Rafa tampak lunglai. Ibu-ibu di sekitarnya menguatkan dan memapahnya ke dalam rumah.
Pertolongan Pertama
Setiap kasus punya keunikan sendiri sehingga Maha tidak bisa menyatakan golden periode-nya. Yang bisa dilakukan adalah memastikan bahwa pengobatan pertama (first aid) dilakukan dengan tepat.
“Ya, memang di Indonesia ini kelemahannya adalah first aid yang salah,” katanya.
Kini yang tersisa hanya kenangan. Tentang Rafa yang ceria tapi tak sempat berpamitan kepada orang tuanya. Tentang Rafa yang gagal mendapat momen perayaan khitanannya. (NANANG RENDI AHMAD, Kabupaten Pekalongan/ttg/JPG/r3)
Editor : Siti Aeny Maryam