LombokPost - Cuaca ekstrem mengakibatkan 34 perahu nelayan di Pelabuhan Kalbut dan Pasir Putih, Situbondo, Jawa Timur rusak diterjang gelombang besar pada Senin (19/8) malam.
Diperkirakan, kerugian yang dialami per unit perahu mencapai Rp 60 juta.
Di Pelabuhan Kalbut, ada 13 perahu nelayan yang rusak. Sementara, di Pasir Putih tercatat sebanyak 21 perahu yang terdampak gelombang.
Menurut salah satu pemilik perahu Jasmito mengatakan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 20.00.
”Tiba-tiba datang gelombang tinggi yang membuat perahu saling berbenturan. Karena banyak perahu yang sedang ditambatkan di lokasi tersebut, akhirnya saling menabrak dan mengalami kerusakan,” ucapnya.
Menurut Jasmito, beberapa kapal rusak dan terbawa arus hingga bertabrakan karena tali tambatnya lepas.
”Kerugian saya sendiri cukup besar. Dua kapal saya rusak, satu kerugiannya sekitar Rp 60 juta, satunya lagi Rp 30 juta. Total kapal yang tenggelam sekitar 9 unit, dan yang rusak parah ada 4 unit,” jelasnya.
Kasat Polairud Polres Situbondo AKP Gede Sukarmadiyasa menjelaskan, perahu yang rusak berada di pinggir pantai dan sudah ditambatkan, bukan perahu yang sedang melaut.
”Kami mengimbau agar nelayan tidak menambatkan perahu terlalu dekat dengan bebatuan. Ketika terjadi gelombang besar, perahu bisa terbentur batu dan mengalami kerusakan parah,” paparnya.
Gede juga mengimbau masyarakat, khususnya para nelayan, untuk tetap mewaspadai cuaca ekstrem. ”Cuaca saat ini sulit diprediksi. Kami harap para nelayan selalu berhati-hati agar kejadian seperti ini tidak terulang,” pungkasnya.
Dari analisis BMKG, hujan yang turun beberapa hari belakangan dipicu kombinasi sejumlah faktor dinamika atmosfer. BMKG juga memperkirakan dalam sepekan ke depan, masih ada potensi cuaca ekstrem, seperti hujan lebat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani menuturkan, terjadi signifikansi cuaca pada 18 Agustus dan 19 Agustus, khususnya di wilayah Pulau Jawa.
Kondisi itu disebabkan oleh kombinasi sejumlah faktor dinamika atmosfer, yaitu fase IOD (Indian Dipole) negatif, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), aktivitas gelombang ekuator, khususnya Mixed Rossby Gravity (MRG) dan Low Frequency, sirkulasi di barat Sumatra, serta suhu muka laut yang hangat berkisar antara 28–30 °C.
”Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat atmosfer berada dalam kondisi labil dan mendukung terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di beberapa wilayah,” paparnya.
Orang Hilang
Basarnas mencatat sepuluh orang hilang di laut dalam beberapa hari terakhir. Kasi Ops Basarnas Semarang Moel Wahyono menuturkan, sepuluh orang hilang di lima lokasi berbeda di Jawa Tengah. ”Rata-rata penyebabnya kapal nelayan atau pemancing yang diempas ombak,” ujarnya.
Dia memerinci lokasi pencarian korban. Yaitu di Jepara satu korban nelayan terjatuh, Pekalongan satu orang pemancing terjatuh dari kapal, Kendal tiga orang hilang, Tegal ada dua orang nelayan yang terjatuh akibat guncangan ombak, dan Semarang tiga orang jatuh dari perahu. ”Sampai saat ini masih dalam pencarian,” ujarnya. (rif/idr/aph/JPG/r3)
Editor : Siti Aeny Maryam