Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

MENOLAK LUPA! Ibu Angkat Prada Lucky Terngiang Saat Didatangi Mendiang Dengan Badan Penuh Luka

Rosmayanthi • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 16:53 WIB

Pada Senin pagi (28/7), Prada Lucky datang kembali ke rumah Ibu Iren,  ibu angkatnya, namun dengan kondisi tubuh penuh luka.
Pada Senin pagi (28/7), Prada Lucky datang kembali ke rumah Ibu Iren, ibu angkatnya, namun dengan kondisi tubuh penuh luka.
LombokPost - Kepergian Prada Lucky Chepril Saputra Namo, prajurit dari Batalyon TP 834/Wakanga Mere di Aeramo, Kabupaten Nagekeo, yang diduga menjadi korban penganiayaan oleh 20 seniornya di dalam kesatuan tak bisa dilupakan begitu saja oleh keluarga maupun masyarakat.

Pasalnya, kepergian Prada Lucky yang tragis menimbulkan luka mendalam tak hanya bagi orang tua dan keluarganya dan juga masyarakat yang masih menunggu hasil investigasi TNI.

Sudah hampir sebulan tapi belum ada kejelasan soal penyebab tewasnya Prada Lucky dan juga siapa saja pelakunya.

Sementara pihak keluarga sampai kini masih berduka dan terus terbayang-bayang kejadian mengerikan yang dialami Prada Lucky.

Begitu pula yang dialami Ibu Iren, ibu asuh Prada Lucky selama di Nagekeo.

Kepada sejumlah wartawan, Ibu Iren menceritakan seperti apa sosok mediang Prada Lucky

Ibu Iren mulai mengenal almarhum Prada Lucky Namo sekitar pekan kedua bulan Juli 2025. Dimatanya, anak angkatnya itu dikenal sebagai pribadi yang baik hati dan senang membantu sesama. 

Sejak Prada Lucky ditugaskan di Batalyon TP 834/Wakanga Mere di Aeramo, Ibu Iren kerap mengunjunginya.

Hampir setiap hari (pagi, siang, maupun malam) Ibu Iren datang ke barak, dan dia selalu melihat Prada Lucky sedang mencuci piring. Karena kebetulan, Prada Lucky Namo sering ditugaskan di bagian pencucian piring.

Ibu Iren juga kerap membantu Prada Lucky mencuci piring, terutama ketika tak ada rekan yang membantunya membersihkan peralatan makan seluruh anggota Batalyon TP 834/Wakanga Mere.

Ibu Iren bersaksi jika ia sering melihat, dia selalu mencuci piring sendirian. Teman-temannya biasanya hanya meletakkan piring kotor di dekatnya setelah makan, lalu dia yang mencucinya. 

"Saya kurang tahu apa sebenarnya tugas utamanya, tapi setiap hari kami melihatnya di tempat cuci piring. Kadang pagi saat kami datang, dia sudah di sana, siang pun begitu, bahkan sore juga masih ada di tempat itu," ungkap Ibu Iren.

Ibu Iren sempat menanyakan kepada Prada Lucky Namo, "Kalau dapat libur, biasanya pergi ke mana?" 

Namun, Lucky menjawab bahwa ia hanya tetap berada di barak karena tidak memiliki sanak keluarga di Nagekeo.

Selain membantu cuci piring, rupanya Ibu Iren juga kerap mengambil makanan sisa di dapur barak. Sisa makanan yang dikumpulkan biasanya diberikan untuk pakan ternaknya.

Suatu waktu, tiba-tiba Prada Lucky menyampaikan keinginannya untuk bermain dan bermalam di rumah Ibu Iren saat mendapat libur atau izin bermalam. 

Prada Lucky juga minta ijin kepada Ibu Iren, dan ia mengiyakan. Bahkan Prada Lucky meminta Ibu Iren menjadi ibu angkatnya karena dia tidak memiliki keluarga di daerah tersebut.

Saat tinggal di rumah Ibu Iren, almarhum Prada Lucky tidak pernah bercerita apapun soal kehidupannya di barak maupun kehidupan pribadinya.

"Soal apakah dia punya pacar atau tidak, saya tidak tahu karena Lucky tidak pernah cerita," aku Ibu Iren.

Lalu pada Senin pagi (28/7), Prada Lucky datang kembali ke rumah Ibu Iren, namun dengan kondisi tubuh penuh luka.

"Waktu itu memang sudah ada luka-luka di bagian punggung, ada lebam dan goresan. Lengan, paha, dan paha atasnya juga terlihat memar. Semuanya tampak seperti luka baru," ucap Ibu Iren.

Dalam kondisi tersebut, Lucky sempat meminjam ponsel Ibu Iren untuk melakukan video call dengan ibu kandungnya di Kupang. Ibu Iren tidak mengetahui isi percakapan mereka karena saat menelpon, Prada Lucky masuk ke dalam kamar.

Saat tengah berbicara dengan ibunya di Kupang, tiba-tiba sepuluh orang rekan Prada Lucky datang ke rumah Ibu Iren untuk menjemputnya. 

Awalnya Ibu Iren belum mengizinkan mereka membawa Lucky kembali, karena sebelumnya seorang senior Prada Lucky pernah memintanya agar membiarkan Prada Lucky tinggal sementara waktu di rumah.

“Saya belum kasih izin mereka bawa pulang, waktu itu ada sekitar sepuluh orang. Salah satu temannya bilang dia hanya ditugaskan menjaga Lucky dan menunggu senior-seniornya datang. Saya sempat kasih Lucky makan siang dan memberinya obat, baru mereka bawa kembali ke batalyon hari itu juga. Setelah itu saya tidak tahu lagi kabarnya,” cerita Ibu Iren soal kronologis Prada Lucky dijemput kembali.

Menjadi Anggota Tentara Negara Indonesia (TNI) menjadi idaman banyak anak muda. Tak tercuali bagi Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), anggota TNI yang tewas ditangan para seniornya.
Menjadi Anggota Tentara Negara Indonesia (TNI) menjadi idaman banyak anak muda. Tak tercuali bagi Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), anggota TNI yang tewas ditangan para seniornya.

Ibu Iren juga bercerita jika pada Sabtu pagi tanggal 2/8/2025, Prada Lucky sempat dibawa ke Puskesmas Danga bersama seorang rekannya. Tapi dia tidak mengetahui soal ini. Termasuk ketika Senin tanggal 4/8/2025, ia mendapat kabar dari ibu kandung Prada Lucky jika putranya tengah dirawat di RSUD Aeramo.

Senin malam tanggal 4/8/205, Ibu Iren langsung menjenguk Prada Lucky bahkan masih sempat menyuapinya makan. 

"Dia makan sedikit, lalu sempat berbisik ke saya, bilang ‘Mama jangan pulang, mama jaga Lucky e.’ Tapi karena di situ ada teman-temannya yang jaga dan kami hanya orang sipil, saya tidak bisa menemaninya. Saat itu, ada tiga temannya yang menjaga, mereka satu angkatan, tidak ada seniornya,” jelas Ibu Iren.

Menurut kesaksian Ibu Iren, kondisi Prada Lucky saat itu sudah lemah namun masih bisa berkomunikasi. Tak lama setelah pulang dari rumah sakit, ia menerima kabar bahwa Lucky telah dipindahkan ke ruang ICU.

Keesokan harinya, Selasa pagi (5/8/2025), Ibu Iren kembali menjenguk Lucky di ICU RSUD Aeramo. Namun, kondisi Lucky sudah tidak sadarkan diri dan dalam keadaan koma.

Dari pagi sampai Prada Lucky meninggal dunia, Ibu Iren bersama Ibu Kandung selalu menemani Prada Lucky di ruang ICU. 

Saat dokter menyatakan Prada Lucky telah pergi, Ibu Iren benar-benar syok. Dia benar-benar tak menyangka jika anak angkatnya akan berakhir seperti ini.

"Ia baik dan sopan. Memang baru sekali berkunjung ke rumah, tetapi langsung ikut membantu memasak dan mencuci piring. Ia tidak bersikap seperti orang asing, sebaliknya seolah sudah menjadi bagian dari keluarga kami," ucap sedih Ibu Iren menceritakan tentang sosok Prada Lucky.

Itu sebabnya dia merasa sangat sedih dan kehilangan, apalagi dia ikut menyaksikan saat Prada Lucky menghembuskan napas terakhir.

Ibu kandung Prada Lucky, Sepriana menuntut keadilan atas kematian putranya.
Ibu kandung Prada Lucky, Sepriana menuntut keadilan atas kematian putranya.

"Rasanya sulit untuk menerima, tapi apa boleh buat itulah kehendak Tuhan," tambah Ibu Iren lirih.

Sama seperti orang tua kandung Prada Lucky, Ibu Iren pun berharap kasus kematian Prada Lucky diusut tuntas secara transparan.

Editor : Siti Aeny Maryam
#dapur #kondisi #ibu kandung #Prada Lucky #badan #ibu angkat #Ibu Iren