LombokPost - Satu bulan setelah ambruknya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Sidoarjo, yang menewaskan puluhan santri, dua kejadian yang juga memakan korban terjadi di dua ponpes di dua kabupaten berbeda di Jawa Timur: Situbondo dan Pasuruan. Masing-masing satu santri meninggal di kedua tempat tersebut.
Mengutip Radar Situbondo Grup Jawa Pos, diduga akibat diterjang hujan dan angin kencang, plafon asrama Ponpes Syalafiah Syafi'iyyah Syekh Abdul Qodir Jailani Ra di Dusun Pesanggrahan, Desa Blimbing, Kecamatan Besuki, Situbondo, ambrol Rabu (29/10).
Seorang santriwati atau santri putri meninggal dan belasan santriwati lainnya terluka.
Hujan disertai angin kencang menerjang kawasan tersebut mulai Selasa (28/10) malam sekitar pukul 23.00. Dua jam kemudian, saat para santri putri sudah tidur di dalam asrama, tiba-tiba plafon ambrol menimpa mereka.
Atas insiden tersebut, Pengasuh Ponpes Syalafiah Syafi'iyyah Syekh Abdul Qodir Jaelani KH Muhammad Hasan Ainul Ilmi mengucapkan belasungkawa yang mendalam.
“Ini cobaan berat bagi keluarga besar pesantren. Kami akan memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan dan pendampingan penuh,” ujarnya.
Koordinator BPBD Situbondo Puriyono mengatakan, santri yang meninggal bernama Putri Hemilia, 13, asal Dusun Rawan, Desa/Kecamatan Besuki. Korban sempat dilarikan ke RSIA Jatimed, tapi kemudian meninggal pukul 6.00.
“Jenazah korban sudah dimakamkan pukul 8.00. Pihak keluarga korban menganggap kematian putrinya sebagai takdir dan menerima musibah yang terjadi, serta membuat surat pernyataan tidak menuntut pihak mana pun,” tegas Puriyono.
Korban lain yang terluka sebanyak 11 santri. Puriyono menambahkan, penyebab plafon roboh diduga akibat diterjang hujan dan angin kencang.
Untuk penyebab yang lebih pasti masih menunggu hasil penyelidikan Polres Situbondo.
Jatuh dari Tangga. Di Desa Pandean, Rembang, Pasuruan, insiden menimpa Ponpes Darullughah Wadda’wah (Dalwa). Pada Senin (27/10), belasan santri dilaporkan jatuh dari tangga gedung asrama. Satu santri meninggal karena kejadian itu.
Informasi yang dihimpun Radar Bromo Grup Jawa Pos, total 12 santri dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Bangil. Para korban mengalami luka serius di berbagai bagian tubuh, mulai dari patah tulang hingga cedera berat.
Humas RSUD Bangil M. Hayat membenarkan kedatangan belasan santri itu ke IGD RSUD Bangil. “Benar, ada 12 pasien dari Ponpes Dalwa yang datang hampir bersamaan. Sebagian besar mengalami fraktur atau patah tulang,” ujarnya saat dikonfirmasi Selasa (28/10).
Menurut Hayat, tim medis langsung melakukan tindakan cepat. Beberapa korban menjalani operasi, sedangkan lainnya diobservasi intensif. “Ada juga beberapa yang sudah diperbolehkan pulang sesuai pertimbangan dokter,” jelasnya.
Dari 12 korban tersebut, satu santri berinisial IMY, 15, tidak tertolong. Korban meninggal sesaat setelah tiba di IGD. “Belum sempat dilakukan tindakan apa pun, karena sudah dalam kondisi tidak bernyawa,” ungkap Hayat.
Pihak kepolisian sampai dengan kemarin belum memberikan keterangan rinci tentang insiden tersebut. Kapolsek Rembang AKP Mulyono saat dikonfirmasi sekadar membenarkan terjadinya peristiwa tersebut. Namun, tidak ada penjelasan lebih lanjut.
Kapolres Pasuruan AKBP Jazuli Dani Iriawan saat dikonfirmasi di gedung DPRD Kabupaten Pasuruan juga belum memberikan penjelasan detail. “Belum. Itu belum. Saya belum dapat informasi,” terangnya.
Selasa (28/10) atau sehari setelah insiden itu, Jawa Pos Radar Bromo berusaha mengonfirmasi pihak Ponpes Dalwa dengan mendatangi gedung asrama ponpes tempat insiden itu terjadi. Namun, tidak terlihat adanya aktivitas apa pun di tempat itu.
Jawa Pos Radar Bromo juga sudah berupaya meminta konfirmasi kepada Ustad Ismail Al Ayub dari pihak Ponpes Dalwa. Sayangnya, sampai berita ini ditulis, pesan WhatsApp ke ponsel yang bersangkutan belum dibalas. (hum/tom/hn/hen/ttg/JPG/r3)
Editor : Siti Aeny Maryam