Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Indonesia Mandiri! Kepala BRIN Arif Satria Suntik Teknologi AI ke Satelit: Data Bukan Cuma Gambar, Tapi Solusi Nyata!

Nurul Hidayati • Sabtu, 27 Desember 2025 | 17:44 WIB
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menegaskan komitmen kuat Indonesia untuk tidak lagi sekadar menjadi penonton dalam teknologi antariksa.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menegaskan komitmen kuat Indonesia untuk tidak lagi sekadar menjadi penonton dalam teknologi antariksa.

LombokPost - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menegaskan komitmen kuat Indonesia untuk tidak lagi sekadar menjadi penonton dalam teknologi antariksa.

Dalam kunjungannya ke Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun, Bandung, Rabu (24/12).

Ia menekankan pendekatan berbasis Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) adalah harga mati untuk memperkuat kemandirian nasional di bidang penginderaan jauh (remote sensing).

​Menurut Arif, di era digital ini, citra satelit tidak boleh hanya berhenti sebagai pajangan visual atau foto udara semata.

​“Saya butuh pendekatan baru berbasis pada AI. Citra satelit tidak hanya memotret berupa gambar, tetapi bisa langsung menafsirkan citra analisis,” tegas Arif Satria.

​Revolusi Kebencanaan: Pemodelan 3D dan Analisis Cepat

​Salah satu poin krusial yang disoroti adalah pemanfaatan AI untuk mitigasi bencana. Arif mendorong percepatan penggunaan pemodelan 3D berbasis AI, serupa dengan teknologi yang dikembangkan UNDP, untuk melakukan overlay data secara otomatis.

​Dengan teknologi ini, perbandingan kondisi sebelum dan sesudah bencana dapat dianalisis dalam hitungan detik.

Kecepatan dan presisi ini menjadi faktor penentu dalam menyelamatkan nyawa dan aset warga saat terjadi bencana alam.

​AI sebagai Isu Lintas Bidang

​Arif memandang riset AI bukan hanya milik satu departemen, melainkan isu lintas disiplin yang mencakup:

​Mekatronika Cerdas & Elektro: Untuk pengembangan sensor mandiri.

​Telekomunikasi & Komputasi: Infrastruktur pengiriman data satelit.

​Sains Data: Pengolahan informasi menjadi kebijakan publik.

​Ia menginstruksikan Organisasi Riset Elektronika dan Informatika (OREI) BRIN untuk berkolaborasi dengan organisasi riset lainnya guna mempercepat agenda riset nasional pada tahun 2026.

​Riset yang "Membumi" dan Mendengar User

​Kepala BRIN juga mengingatkan para periset agar hasil inovasi tidak hanya berakhir di laci meja laboratorium. Riset strategis harus berorientasi pada kebutuhan pengguna (user-oriented), mulai dari petani hingga pelaku industri.

“Kemajuan bangsa diukur dengan kemajuan teknologi, dan teknologi diukur dari riset yang relevan. Periset harus berinteraksi dengan user agar hasilnya memberi manfaat nyata,” tambahnya.

​Optimisme Industri Dirgantara

​Sebelum tiba di KST Samaun Samadikun, Arif Satria juga meninjau perkembangan pesawat N219 di PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Ia mengaku optimis bahwa kolaborasi antara BRIN dan industri strategis seperti PT DI akan menjadi mesin utama kebangkitan industri dirgantara nasional.

​Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian, menambahkan bahwa kunjungan ini merupakan langkah cepat untuk mengeksekusi riset yang hasilnya langsung dirasakan masyarakat. "Kita fokus melakukan riset yang dibutuhkan secara cepat," pungkas Amarulla.

Editor : Pujo Nugroho
#industri #BRIN #riset #teknologi #ai