Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Gunung Semeru Kembali Erupsi, Tinggi Letusan Capai 700 Meter

Lombok Post Online • Jumat, 30 Januari 2026 | 11:55 WIB

 

ERUPSI LAGI: Tampak Gunung Semeru erupsi pada pukul 07.22 WIB, kemarin (29/1). Tinggi letusan mencapai 700 meter.
ERUPSI LAGI: Tampak Gunung Semeru erupsi pada pukul 07.22 WIB, kemarin (29/1). Tinggi letusan mencapai 700 meter.
 

LombokPost - Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali erupsi Kamis (29/1). Jarak luncuran letusan hampir mencapai 1 kilometer (Km) dan berpotensi terjadi awan panas guguran (APG).

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru Mukdas Sofian mengatakan, sejak kemarin pagi, Gunung Semeru mengeluarkan letusan setinggi 700 meter di atas puncak atau setara dengan 4.376 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke tenggara.

”Seismograf merekam erupsi dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 115 detik,” paparnya.

Sebelumnya, Gunung Semeru juga mengeluarkan letusan kecil pada Rabu (28/1). Jarak luncurnya mencapai 500 meter.

Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Isnugroho menjelaskan, bila kondisinya tidak berubah, kemungkinan berpotensi terjadi APG.

”Kami pantau per jam per hari, karena masih ada kemungkinan letusan APG,” ujarnya.

Pemantauan Intensif

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih menetapkan status Gunung Raung pada Level II (Waspada) hingga kemarin.

Gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Banyuwangi, Jember, dan Bondowoso ini terus dipantau secara intensif.

Sejak statusnya meningkat pada Desember 2023, aktivitas vulkanik gunung setinggi 3.332 mdpl itu belum menurun.

Berdasarkan pengamatan, puncak Gunung Raung masih  mengeluarkan asap berwarna putih dengan ketinggian berkisar 100 hingga 500 meter dari puncak kawah.

Kepala PPGA Raung Agung Tri Subekti menjelaskan, data laporan 1-15 Januari 2026 menunjukkan aktivitas kegempaan yang masih fluktuatif.

Dalam periode tersebut, tercatat telah terjadi 165 kali gempa embusan.

”Selain itu, terekam pula 11 kali gempa tektonik lokal, 89 kali gempa tektonik jauh, dan 15 kali tremor menerus dengan amplitudo 0,5–1 mm, dengan dominasi pada 0,5 mm,” terangnya.

Meskipun aktivitasnya cenderung melandai, Agung menyebut bahwa Gunung Raung masih menyimpan potensi bahaya yang harus diwaspadai.

Salah satunya adalah akumulasi gas vulkanik dengan konsentrasi tinggi di dasar kawah.

”Selama periode pengamatan ini, memang tidak terekam adanya gempa vulkanik dalam maupun dangkal yang biasanya berkaitan dengan migrasi magma ke permukaan,” imbuhnya.

Agung menambahkan, berdasarkan catatan, erupsi Gunung Raung dapat menghasilkan aliran piroklastik atau awan panas, serta material padat seperti abu dan bom vulkanik.

Selain itu, terdapat potensi aliran lava andesitik hingga basaltik.

”Namun, karena saat ini tidak terjadi erupsi, aktivitas yang mendominasi hanya berupa hembusan gas dari dasar kawah,” paparnya.

Potensi bahaya lain adalah aliran lahar dingin di sepanjang sungai yang berhulu di puncak gunung. Itu dapat terjadi saat curah hujan tinggi.

”Potensi-potensi ancaman inilah yang menjadi dasar mengapa tingkat aktivitas Gunung Raung masih dipertahankan pada Level II atau Waspada,” tegas Agung.

Pulihkan Ekosistem

Aktivitas pendakian Gunung Raung melalui jalur Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, akan dihentikan sementara selama bulan Ramadan.

Kebijakan itu tertuang dalam surat pengumuman resmi Sekretariat Pendakian Gunung Raung. Penutupan dimulai 3-24 Maret 2026.

Salah satu operator pendakian Gunung Raung Dimas Wahyu Pramana mengungkapkan, selama puasa, pendakian memang selalu ditutup.

”Kebijakan itu sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan suci Ramadan, sekaligus untuk persiapan menyambut Hari Raya Idulfitri,” ujarnya.

Selain itu, masa penutupan yang berlangsung selama 21 hari juga dimanfaatkan untuk proses pemulihan ekosistem alam (recovery).

Diharapkan, kondisi lingkungan di sepanjang jalur pendakian dapat terjaga kelestariannya.

”Penutupan menjelang Ramadan sudah menjadi rutinitas agar tekanan aktivitas manusia di kawasan gunung dapat diminimalkan,” papar Dimas.

Menurut Dimas, para penyedia jasa pendakian telah mengantisipasi penutupan sejak jauh-jauh hari. Mereka tidak membuka jadwal pendakian pada periode tersebut.

”Biasanya, saat puasa, jumlah pendaki memang menurun drastis. Selama libur ini, rekan-rekan porter maupun guide biasanya akan melakukan pekerjaan sampingan lainnya,” tuturnya. (dea/sas/aph/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#vulkanik #Semeru #erupsi #gunung #status