Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ekonomi RI Bocor Rp18 Triliun Akibat Impor Tembakau! BRIN Bongkar Rahasia Teknologi agar Petani Lokal Mandiri

Nurul Hidayati • Senin, 2 Februari 2026 | 13:33 WIB
Khairul Majdi salah seorang petani tembakau petani virgina di Kecamatan Sakra
Khairul Majdi salah seorang petani tembakau petani virgina di Kecamatan Sakra

LombokPost - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah tancap gas melakukan transformasi pada sektor budi daya tembakau nasional.

Langkah strategis ini diambil menyusul data memprihatinkan mengenai angka impor tembakau Indonesia yang menyentuh rata-rata 121 ribu ton per tahun dengan nilai mencapai Rp18 triliun.

Defisit yang Mengkhawatirkan Periset Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Djajadi, mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia mengalami defisit perdagangan tembakau yang cukup lebar.

Nilai ekspor nasional hanya sebesar 32 ribu ton, sangat jauh dibandingkan angka impor.

Rendahnya kualitas dan produktivitas petani lokal yang masih bertahan di angka empat kuintal per hektar hanya sebagian kecil dari potensi maksimal menjadi akar masalah utama.

Inovasi Teknologi: Senjata Baru BRIN Untuk memutus ketergantungan impor, BRIN memperkenalkan serangkaian inovasi teknologi mulai dari hulu hingga hilir.

Benih Super: Pengembangan benih bermutu dengan daya kecambah di atas 98% dan kemurnian varietas unggul melalui teknik "pengerudungan" bunga untuk mencegah perkawinan silang yang bisa merusak aroma.

Teknik Budidaya Presisi: Pengaturan jarak tanam optimal (25-30 cm) dan pembuatan guludan tinggi guna menghasilkan batang kokoh dan akar lebat.

Manajemen Nutrisi: Penerapan pemupukan yang efektif dan efisien sesuai kebutuhan tanaman untuk menekan biaya produksi.

Teknologi Pengolahan: Penggunaan Pengendali Suhu Otomatis (PSO) dalam proses pengovenan, mesin perajang modern, hingga konservasi lahan.

Fokus pada Tembakau Virginia Tantangan terbesar saat ini adalah memenuhi kebutuhan industri akan Tembakau Virginia.

Djajadi mendorong Kementerian Pertanian untuk memperluas pengembangan varietas ini di wilayah-wilayah yang memiliki kesesuaian lahan yang tepat.

“Inovasi-inovasi teknologi budi daya ini telah kami hasilkan dan akan terus disosialisasikan secara berkelanjutan kepada para petani guna memastikan dampak nyata di lapangan,” tegas Djajadi dalam seminar di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, baru-baru ini.

Melalui sinergi teknologi dan kebijakan berbasis risiko, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan daya saing tembakau lokal sehingga angka kebocoran ekonomi sebesar Rp18 triliun tersebut dapat dialihkan untuk kesejahteraan petani dalam negeri.

Editor : Kimda Farida
#industri #BRIN #tanaman #tembakau #perdagangan