LombokPost - Indonesia bersiap mencetak sejarah baru di dunia kesehatan hewan.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi menjalin kolaborasi strategis dengan PT Vaksindo Satwa Nusantara untuk mengembangkan kandidat vaksin rabies berbasis mRNA.
Teknologi ini digadang-gadang sebagai terobosan besar untuk memperkuat kemandirian teknologi kesehatan nasional dalam mengendalikan penyakit zoonosis.
Vaksin Generasi Baru: Lebih Aman dan Cepat
Berbeda dengan vaksin konvensional yang biasanya menggunakan virus yang dimatikan (inaktivasi), teknologi mRNA bekerja dengan cara yang lebih canggih.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Veteriner BRIN, Muharam Saepulloh, menjelaskan bahwa fokus riset ini adalah menguji dua prototipe vaksin, yakni RQ3100 dan RQ3101.
"Vaksin mRNA berbasis protein G yang dibungkus lipid nanoparticle (LNP) jauh lebih aman karena tidak mengandung virus hidup. Ini adalah peluang besar bagi Indonesia untuk menguasai teknologi vaksin generasi terbaru," ungkap Muharam di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Cibinong.
Potensi Jadi yang Pertama di Indonesia
Head of Science & Innovation PT Vaksindo Satwa Nusantara, Maureen Kalona Kandou, menyatakan optimisme tinggi terhadap proyek ini.
Jika pengujian ilmiah ini berhasil, produk ini berpotensi menjadi vaksin mRNA hewan pertama yang terdaftar di Indonesia, sekaligus menjadi salah satu yang sangat terbatas jumlahnya di pasar global.
"Kemitraan ini adalah kunci. BRIN berperan dalam pelaksanaan penelitian mendalam, sementara kami di Vaksindo fokus pada tahap produksi hingga komersialisasi," jelas Maureen.
Dampak Nyata bagi Masyarakat
Kepala Pusat Riset Veteriner BRIN, Harimurti Nuradji, menekankan bahwa kerja sama ini mencerminkan komitmen BRIN untuk menghilirisasi riset agar tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah.
“Kolaborasi riset harus memberikan dampak nyata melalui produk inovatif. Ini adalah langkah strategis dalam penguatan ekosistem inovasi nasional, khususnya dalam menangani penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia seperti rabies,” tegasnya.
Tahapan Menuju Registrasi
Riset komprehensif ini diperkirakan akan berlangsung selama lebih dari satu tahun, mencakup uji keamanan dan tanggap kebal (imunogenisitas).
Setelah seluruh tahapan selesai, kandidat vaksin akan didaftarkan ke Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikat Obat Hewan (BBPMSOH) sebelum akhirnya diproduksi secara massal.
Melalui sinergi antara lembaga riset dan sektor industri ini, Indonesia diharapkan tidak hanya mampu mengendalikan wabah rabies di tingkat nasional, tetapi juga membuka pintu pemanfaatan teknologi mRNA untuk berbagai penyakit hewan lainnya di masa depan.
Editor : Kimda Farida