Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Hilal Masih di Bawah Ufuk pada 17 Februari, Benarkah Puasa Ramadan 2026 Dimulai Kamis 19 Februari?

Nurul Hidayati • Sabtu, 14 Februari 2026 | 13:10 WIB
Agar Ramadan tidak mengalir begitu saja, diperlukan target yang terukur (roadmap). Hal ini menjadi panduan sekaligus motivasi agar kita tidak kendor di tengah jalan. (Pixabay)
Agar Ramadan tidak mengalir begitu saja, diperlukan target yang terukur (roadmap). Hal ini menjadi panduan sekaligus motivasi agar kita tidak kendor di tengah jalan. (Pixabay)

LombokPost - Umat Islam di Indonesia bersiap menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah yang diperkirakan tiba dalam waktu dekat.

Namun, penentuan awal puasa tahun ini berpotensi mengalami perbedaan antara pemerintah dan ormas keagamaan karena perbedaan metode dan posisi hilal secara astronomis.

Data Astronomis BMKG: Hilal Belum Terlihat pada 17 Februari Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konjungsi (ijtima') awal bulan Ramadan 1447 H baru akan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB.

Karena waktu konjungsi terjadi setelah matahari terbenam, maka pada saat Maghrib 17 Februari, posisi hilal di seluruh Indonesia masih berada di bawah ufuk (antara -2,41° hingga -0,93°).

Secara astronomis, hilal tidak mungkin terlihat pada Selasa malam. Jika merujuk pada kriteria MABIMS (tinggi minimal 3° dan elongasi 6,4°), maka bulan Syakban kemungkinan besar akan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.

Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah kemungkinan akan menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026 setelah melalui sidang isbat.

Muhammadiyah Tetapkan Rabu, 18 Februari 2026

Di sisi lain, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah mengeluarkan maklumat resmi yang menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Penetapan ini menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal dengan acuan Kalender Hijriah Global Tunggal. Muhammadiyah berpandangan bahwa selama kriteria hilal global terpenuhi di wilayah mana pun di dunia, maka bulan baru sudah dimulai bagi seluruh umat Islam.

Sidang Isbat dan Pantauan Hilal Pemerintah melalui Kementerian Agama menjadwalkan sidang isbat pada Selasa, 17 Februari 2026.

 Pantauan hilal (rukyatul hilal) akan tetap dilakukan di berbagai titik di Indonesia.

Secara teknis, visibilitas hilal yang memenuhi syarat secara teori baru akan muncul pada Rabu malam, 18 Februari 2026, di mana ketinggian hilal sudah mencapai 7,62° hingga 10,03° dengan elongasi di atas 10°.

Perbedaan ini diharapkan tidak mengurangi kekhusyukan umat dalam menyambut bulan suci, sebagaimana semangat toleransi yang selama ini terjaga di tengah masyarakat Indonesia.

Berdasarkan data BMKG untuk penentuan awal bulan Ramadan 1447 H, konjungsi akan terjadi pada hari Selasa, 17 Februari 2026 M, pukul 12.01.07 UT atau Selasa, 17 Februari 2026 M, pukul 19.01.07 WIB atau Selasa, 17 Februari 2026 M, pukul 20.01.07 WITA atau Selasa, 17 Februari 2026 M, pukul 21.01.07 WIT, yaitu saat nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tepat sama 328.83⁰.

Di wilayah Indonesia pada tanggal 17 Februari 2026, waktu Matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.56.44 WIT di Jayapura, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir adalah pukul 18.51.25 WIB di Banda Aceh, Aceh.

Sementara pada tanggal 18 Februari 2026, waktu Matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.56.35 WIT di Jayapura, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir adalah pukul 18.51.29 WIB di Banda Aceh, Aceh.

Dengan memperhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam tanggal 17 Februari 2026 di seluruh wilayah Indonesia.

Karena konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam pada tanggal 17 Februari 2026, secara astronomis pelaksanaan rukyat Hilal penentu awal bulan Ramadan 1447 H bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuannya adalah setelah Matahari terbenam pada tanggal 18 Februari 2026.

Dan bagi yang menerapkan hisab dalam penentuan awal bulan Ramadan 1447 H, perlu diperhitungkan kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam tanggal 18 Februari 2026 tersebut.

Ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Februari 2026, berkisar antara -2.41⁰ di Jayapura, Papua sampai dengan -0.93⁰ di Tua Pejat, Sumatera Barat. Ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 18 Februari 2026, berkisar antara 7.62⁰ di Merauke, Papua sampai dengan 10.03⁰ di Sabang, Aceh.

Elongasi geosentris di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Februari 2026, berkisar antara 0.94⁰ di Banda Aceh, Aceh sampai dengan 1.89⁰ di Jayapura, Papua. Elongasi geosentris di Indonesia saat Matahari terbenam pada 18 Februari 2026, berkisar antara 10.7⁰ di Jayapura, Papua sampai dengan 12.21⁰ di Banda Aceh, Aceh.

Umur Bulan di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Februari 2026, berkisar antara -3.07 jam di Jayapura, Papua sampai dengan -0.16 jam di Banda Aceh, Aceh.

Umur Bulan di Indonesia saat Matahari terbenam pada 18 Februari 2026, berkisar antara 20.92 jam di Jayapura, Papua sampai dengan 23.84 jam di Banda Aceh, Aceh.

Lag di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Februari 2026, berkisar antara -8.27 menit di Jayapura, Papua sampai dengan -3.11 menit di Tua Pejat, Sumatera Barat. Lag di Indonesia saat Matahari terbenam pada 18 Februari 2026, berkisar antara 34.99 menit di Merauke, Papua sampai dengan 45.17 menit di Sabang, Aceh.

Fraksi Illuminasi Bulan di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Februari 2026, berkisar antara 0.01% di Sinabang, Aceh sampai dengan 0.05% di Jayapura, Papua. Fraksi Illuminasi Bulan di Indonesia saat Matahari terbenam pada 18 Februari 2026, berkisar antara 0.74% di Jayapura, Papua sampai dengan 0.98% di Calang, Aceh.

Pada tanggal 17 Februari 2026, dari sejak Bulan terbenam hingga Matahari terbenam tidak ada objek astronomis lainnya yang jarak sudutnya lebih kecil daripada 10° dari Bulan.

Pada tanggal 18 Februari 2026, dari sejak Matahari terbenam hingga Bulan terbenam tidak ada objek astronomis lainnya yang jarak sudutnya lebih kecil daripada 10° dari Bulan.

Editor : Kimda Farida
#ramadan #bmkg #muhammadiyah #pemerintah #Sidang Isbat