Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pesawat Pengangkut BBM Pelita Air Jatuh di Nunukan, Pilot Dinyatakan Meninggal Dunia

Redaksi Lombok Post • Kamis, 19 Februari 2026 | 23:27 WIB

Kecelakaan pesawat Pelita Air yang mengankut BBM, di dataran tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) pada Kamis siang (19/2). Pilot ditemukan meninggal dunia.
Kecelakaan pesawat Pelita Air yang mengankut BBM, di dataran tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) pada Kamis siang (19/2). Pilot ditemukan meninggal dunia.
LombokPost— Maskapai Pelita Air terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait untuk menginvestigasi insiden jatuhnya salah satu armada kargo mereka di wilayah Nunukan, Kalimantan Utara, pada Kamis (19/2/2026).

Pesawat nahas tersebut merupakan armada sewa (charter) pengangkut bahan bakar minyak (BBM) yang dioperasikan oleh seorang pilot tanpa awak kabin maupun penumpang.

Sekretaris Perusahaan PT Pelita Air Service, Patria Rhamadonna, dalam keterangan tertulisnya mengonfirmasi bahwa pesawat yang mengalami kecelakaan adalah tipe Air Tractor AT-802 dengan kode registrasi PK-PAA.

Patria menjelaskan bahwa armada tersebut memiliki misi khusus untuk mendistribusikan kargo dalam program BBM Satu Harga ke wilayah perbatasan.

Kronologi Hilang Kontak


Berdasarkan keterangan pihak manajemen, insiden terjadi saat pesawat dalam perjalanan pulang setelah menyelesaikan tugas distribusi.

"Pada saat pemantauan terakhir, pesawat baru saja menyelesaikan misi distribusi ke Long Bawan dan sedang dalam rute kembali menuju Bandara Juwata Tarakan," katanya.

Data dari AirNav Indonesia menunjukkan bahwa pesawat lepas landas dari Long Bawan pada pukul 12.10 WITA. Sesuai jadwal, pilot seharusnya melapor saat melintasi wilayah Malinau pada pukul 12.24 WITA dan diperkirakan tiba di Tarakan pada pukul 13.15 WITA.

Namun, pada pukul 12.20 WITA, menara pengawas di Malinau menerima laporan dari pesawat lain (PK-BVN) yang menangkap sinyal darurat atau Emergency Locator Transmitter (ELT). Sinyal ini umumnya memancar secara otomatis jika pesawat mengalami benturan atau guncangan hebat. Pesawat lain berkode PK-MEE juga mengonfirmasi adanya sinyal serupa.

Pada pukul 12.30 WITA, petugas di Malinau berhasil mengonfirmasi titik koordinat sinyal darurat berada pada posisi N 03 53 53 E 115 52 43.

Pemeriksaan Kelaikan Pesawat


Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menyatakan bahwa penyebab pasti kecelakaan tersebut masih dalam proses penyelidikan mendalam. Ia juga mengonfirmasi kabar duka mengenai kondisi sang penerbang.

"Informasi terakhir yang kami peroleh, pada pukul 15.16 WITA pilot atas nama Capt. Hendrick Lodewyck Adam dinyatakan meninggal dunia," sebutnya.

Dari sisi teknis kelaikudaraan, otoritas penerbangan memastikan bahwa pesawat PK-PAA telah menjalani pemeriksaan rutin 100 jam dan 200 jam pada 11 Februari 2026. Hingga saat kejadian, total jam terbang pesawat tercatat mencapai 3.303 jam. Saat ini, tim investigasi tengah berupaya mengumpulkan bukti-bukti di lokasi kejadian guna mengungkap penyebab jatuhnya pesawat tersebut.

Editor : Redaksi Lombok Post
#Pelita Air #Pesawat Jatuh