Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Rupiah Melemah Beri Tekanan IHSG

Redaksi • Senin, 20 April 2026 | 08:26 WIB
MASIH TERTEKAN: Wartawan berada di depan papan pergerakan harga saham di galeri BEI, Jakarta, Senin (2/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 5,31 persen atau -442,45 poin.
MASIH TERTEKAN: Wartawan berada di depan papan pergerakan harga saham di galeri BEI, Jakarta, Senin (2/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 5,31 persen atau -442,45 poin.

LombokPost - Penguatan pasar saham belum sepenuhnya aman. Pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak fluktuatif di tengah bayang-bayang sentimen global.

Pengamat pasar modal Hans Kwee menilai, dinamika eksternal tetap menjadi faktor dominan. Mulai dari konflik Timur Tengah, arah suku bunga global, hingga tekanan nilai tukar rupiah.

 “IHSG berpotensi konsolidasi melemah dengan support di kisaran 7.575 hingga 7.308,” ujarnya Ahad (19/4).

Baca Juga: Pasar Saham Mulai Pulih Kini IHSG Naik 2,52 Persen, Sinyal Rebound Menguat

Sentimen global sempat membaik setelah Iran membuka kembali Selat Hormuz selama 10 hari. Langkah itu memicu optimisme pasar terhadap meredanya ketegangan geopolitik. Dampaknya, bursa global kompak menguat.

Di Wall Street, indeks utama bahkan mencetak rekor penutupan tertinggi. Pelaku pasar juga mulai berspekulasi peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve pada akhir tahun.

Namun, optimisme itu belum sepenuhnya solid. ”Pemulihan pasokan energi global tidak bisa berlangsung cepat. Produksi minyak di kawasan Timur Tengah diperkirakan butuh waktu hingga dua tahun untuk kembali normal,” tuturnya.

Baca Juga: Pasar Saham Bergejolak, Sentimen Negatif Picu Kekhawatiran Investor

Di sisi lain, tekanan domestik masih terasa. Rupiah melemah seiring kuatnya data ekonomi Amerika Serikat. Ditambah lagi, revisi proyeksi pertumbuhan Indonesia oleh International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia ikut menekan sentimen pasar.

Tak hanya itu, laporan S&P Global Ratings yang menyebut kawasan Asia Tenggara rentan selama konflik juga memicu aksi jual investor asing. Alhasil, arus dana keluar (capital outflow) masih membayangi pasar saham domestik. ”Risiko tambahan muncul jika Iran kembali menutup Selat Hormuz. Skenario tersebut berpotensi menekan rupiah sekaligus memperberat pergerakan IHSG di awal pekan,” paparnya.

Meskipun demikian, kinerja pasar sepekan lalu masih cukup positif. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, IHSG menguat 2,35 persen ke level 7.634. Kapitalisasi pasar ikut naik menjadi Rp13.635 triliun.

Baca Juga: 19 Juta Investor Pasar Modal dan 8 Juta Investor Saham Tercapai di Penutupan Bulan Inklusi Keuangan 2025

Sekretaris Perusahaan BEI Valentina Simon mengatakan, aktivitas transaksi juga melonjak signifikan. Volume perdagangan harian naik 33,12 persen menjadi 42,98 miliar saham. Frekuensi transaksi meningkat 32,71 persen, sementara nilai transaksi harian tumbuh 17,56 persen menjadi Rp 20,36 triliun. Namun, tekanan asing belum mereda. Sepanjang tahun berjalan, investor global masih mencatatkan net sell sebesar Rp 39,86 triliun.

Pergerakan IHSG Pekan Lalu

Senin (13/4)                       7.500,19

Selasa (14/4)                     7.675,95

Rabu (15/4)                        7.623,59

Kamis (16/4)                      7.621,38

Jumat (17/4)                      7.634

*Sumber: BEI (mim/dio/JPG/r3)

Editor : Redaksi
#selat hormus #ihsg #pertumbuhan #geopolitik #Pasar Saham