Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Jeritan Petani dan Harapan Warga Mataram: Beras SPHP Laris Manis, Bagaimana Nasib Gabah Lokal?

Pujo Nugroho • Minggu, 10 Mei 2026 | 10:51 WIB
Salah seorang pekerja mengangkut beras SPHP ke dalam Pasar Kebon Roek, Ampenan, Mataram. (PUJO/LOMBOK POST)
Salah seorang pekerja mengangkut beras SPHP ke dalam Pasar Kebon Roek, Ampenan, Mataram. (PUJO/LOMBOK POST)

 

 

LombokPost Kehadiran beras SPHP kini benar-benar menjadi penyelamat bagi masyarakat di Mataram, NTB. Di tengah fluktuasi harga pangan, beras SPHP besutan Bulog ini kian diburu karena harganya yang jauh lebih terjangkau dibandingkan beras kemasan premium di pasaran. Pantauan di sejumlah pasar tradisional di Mataram menunjukkan stok beras SPHP menjadi yang pertama diburu Masyarakat.

Kualitas beras SPHP yang semakin membaik membuat warga Mataram tidak ragu lagi untuk beralih. ”Sekarang cari beras SPHP di pasar harus pagi-pagi sekali. Selisih harganya lumayan banget buat dapur, apalagi kualitas beras SPHP sekarang sudah pulen dan bersih,” ujar Siti, salah seorang ibu rumah tangga di Pasar Kebon Roek, Mataram.

Menurutnya, keberadaan beras SPHP sangat membantu menjaga daya beli masyarakat kecil di tengah naiknya harga kebutuhan pokok lainnya.

Baca Juga: Beras SPHP Jadi Penyelamat Dompet Masyarakat Kecil, Bulog Pastikan Stok Aman Sepanjang Tahun

Namun, di sisi lain, masifnya peredaran beras SPHP di Mataram menimbulkan reaksi beragam dari kalangan petani lokal di NTB. Para petani berharap kehadiran beras SPHP untuk menekan harga di tingkat konsumen tidak lantas mematikan harga jual gabah di tingkat produsen. Petani di pinggiran Mataram menekankan pentingnya serapan gabah petani oleh Bulog agar harga gabah mereka tidak anjlok saat musim panen tiba.

”Kami mendukung program beras SPHP untuk membantu warga, tapi kami juga minta Bulog tetap maksimal dalam serapan gabah petani lokal. Jangan sampai pasar dibanjiri beras SPHP tapi gabah kami di sawah sulit terserap dengan harga yang layak,” ungkap Wayan, seorang petani di lingkar selatan Mataram.

Baginya, keseimbangan antara ketersediaan beras SPHP dan perlindungan harga gabah lokal adalah kunci ketahanan pangan yang berkelanjutan di NTB.

Kini, warga hanya berharap agar pasokan beras SPHP di kios-kios pasar tetap konsisten dan tidak terjadi kelangkaan. Sementara itu, para petani di Mataram tetap menunggu realisasi nyata dari janji peningkatan serapan gabah petani agar kesejahteraan mereka tetap terjamin di tengah gempuran beras murah. Sinergi antara pemerintah, Bulog, dan petani lokal menjadi penentu suksesnya program beras SPHP di bumi Gora.

Baca Juga: Indonesia Swasembada Beras! Stok Tembus 5 Juta Ton, Komisi III DPR RI Kaget Lihat Isi Gudang BULOG Sunter

Kondisi ini mendapat perhatian serius dari Bulog. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani dalam siaran pers Bulog menegaskan bahwa stok beras SPHP saat ini dalam kondisi yang sangat kuat.

Dengan total stok mencapai 5 juta ton secara nasional, Bulog berkomitmen menjaga stabilitas pangan agar masyarakat kecil tidak kesulitan mendapatkan bahan pokok dengan harga beras yang terjangkau. Hingga April 2026, realisasi penyaluran beras SPHP tercatat telah menembus angka 380 ribu ton. Langkah masif ini dilakukan untuk memastikan bahwa stok beras SPHP tersedia di berbagai kanal, mulai dari pasar rakyat hingga ritel modern.

Bulog juga menggandeng pemerintah daerah untuk memperluas jangkauan distribusi agar masyarakat kecil di pelosok desa sekalipun bisa menikmati manfaat dari program beras SPHP ini. Distribusi juga diperkuat melalui jaringan Rumah Pangan Kita (RPK) yang kini telah mencapai sekitar 80 ribu titik di seluruh Indonesia, serta diperluas ke jaringan ritel modern dan swalayan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Bulog untuk memastikan akses masyarakat terhadap beras SPHP semakin mudah dan merata di berbagai wilayah.

Stok beras SPHP saat tiba di Pasar Kebon Roek, Ampenan, Mataram. (PUJO/LOMBOK POST)
Stok beras SPHP saat tiba di Pasar Kebon Roek, Ampenan, Mataram. (PUJO/LOMBOK POST)

 

Beras SPHP disalurkan dalam kemasan 5 kilogram dengan kualitas beras medium dan dijual sesuai HET, yaitu Rp 12.500 per kilogram untuk Zona 1 (Jawa, Lampung, Sumatra Selatan, Bali, NTB, Sulawesi), Rp 13.100 per kilogram untuk Zona 2 (Sumatra selain Lampung dan Sumsel, NTT, Kalimantan), serta Rp 13.500 per kilogram untuk Zona 3 (Maluku dan Papua).

”Upaya stabilisasi ini juga didukung oleh ketersediaan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog dalam kondisi sangat kuat, mencapai lebih dari 5 juta ton per akhir April 2026,” jelas Rizal.

Dengan dukungan stok yang memadai, jaringan distribusi yang luas, serta sinergi lintas sektor, Bulog memastikan program SPHP terus berjalan optimal sepanjang tahun 2026 guna menjaga stabilitas pasokan dan harga beras serta menjamin akses pangan yang terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Stok Melimpah, BULOG Rapel Bantuan Pangan Dua Bulan Sekali Gus: Setiap Keluarga Terima 20 Kg Beras dan 4 Liter MinyaKita

Bagi masyarakat kecil, kepastian ketersediaan beras SPHP adalah jaminan ketenangan. Bulog menjamin bahwa penyaluran beras SPHP akan terus berjalan tanpa jeda sepanjang tahun 2026. Dengan pengawasan ketat terhadap HET, diharapkan tidak ada lagi spekulan yang bermain dengan harga beras, sehingga stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah situasi global yang belum menentu.

Tak hanya konsumen, para petani pun menyambut positif program ini. Melalui beras SPHP, alur distribusi pangan menjadi lebih transparan. Bulog terus memastikan penyerapan gabah di tingkat hulu tetap optimal, sehingga kehadiran beras SPHP di pasar tidak lantas menjatuhkan harga di tingkat petani. Sinergi ini menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas pangan dan melindungi daya beli masyarakat kecil.

Dengan penguatan jaringan distribusi melalui Rumah Pangan Kita (RPK) dan Gerakan Pangan Murah, akses terhadap beras SPHP kini semakin mudah. Program beras SPHP dari Bulog ini diharapkan terus menjadi bantalan ekonomi yang tangguh, memastikan harga beras tetap terkendali, dan memberikan rasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat kecil di Indonesia.

 

Editor : Pujo Nugroho
#Harga Beras di Mataram #Serapan Gabah Petani #Beras sphp #bulog #stok beras bulog