LombokPost – Sosok Indri Wahyuni kini tengah menjadi pusat perhatian netizen di berbagai platform media sosial. Pejabat di lingkungan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI ini menuai sorotan tajam setelah video Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) viral dan memicu perdebatan mengenai objektivitas penilaian juri.
Melansir informasi dari radarsolo.jawapos.com, Indri Wahyuni yang duduk di kursi dewan juri dikritik karena pembelaannya terhadap keputusan juri lain yang menyalahkan jawaban benar peserta dengan alasan masalah artikulasi. Berdasarkan data resmi laman MPR RI per 11 Mei 2026, Indri Wahyuni menjabat sebagai kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI. Dalam kesehariannya, ia memang kerap terlibat langsung dalam program pemasyarakatan Empat Pilar ke seluruh Indonesia.
Kronologi Polemik 'Artikulasi'
Kontroversi ini bermula saat babak Final LCC 4 Pilar tingkat Kalbar, di mana Grup C dari SMAN 1 Pontianak menjawab pertanyaan rebutan mengenai lembaga yang memberikan pertimbangan kepada DPR dalam memilih anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Peserta menjawab dengan tepat bahwa anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan diresmikan oleh Presiden.
Namun, juri Dyastasita memberikan nilai -5 karena mengklaim tidak mendengar kata "Dewan Perwakilan Daerah" (DPD). Hal yang memicu amarah netizen adalah ketika pertanyaan yang sama dijawab oleh Grup B dari SMAN 1 Sambas dengan jawaban serupa, juri justru memberikan poin penuh 10.
Baca Juga: Polda NTB dan Kepolisian Federal Australia Perkuat Kerja Sama Penanganan TPPO dan Perlindungan Anak
Saat Grup C melayangkan protes, Indri Wahyuni muncul memberikan peringatan keras kepada peserta. Ia menegaskan pentingnya artikulasi yang jelas dan menyatakan bahwa dewan juri berhak memberikan nilai minus jika tidak mendengar jawaban dengan jelas.
Reaksi Keras dari Publik dan Tokoh
Pernyataan Indri Wahyuni tersebut memicu kegaduhan di dunia maya. Banyak pihak menyayangkan sikap dewan juri yang dinilai antikritik dan justru menyalahkan keterbatasan pendengaran juri kepada peserta.
Bahkan, musisi Fiersa Besari turut berkomentar melalui akun Threads-nya, "Nyalahin artikulasi. Itu Cerdas Cermat atau Indonesian Idol?". Senada dengan hal tersebut, Habib Jafar (Husein Hadar) juga menyindir bahwa terkadang jurinya yang tidak cerdas dan tidak cermat dalam lomba tersebut.
Baca Juga: Pantau Seleksi Akpol 2026, Wakapolda NTB Tekankan Transparansi CAT
Hingga saat ini, publik terus mendesak adanya klarifikasi resmi dari Sekretariat Jenderal MPR RI terkait sistem penilaian dan transparansi dalam ajang bergengsi tersebut. Hal ini dinilai penting untuk menjaga marwah kompetisi yang berkaitan erat dengan pemahaman ideologi dan hukum dasar negara.
Editor : Marthadi