LombokPost - Polres Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), bakal memanggil tiga anggota DPRD setempat yang diduga mengintimidasi dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni untuk dimintai klarifikasi. Ahli hukum pidana dan ahli psikologi juga bakal dilibatkan untuk memastikan apakah peristiwa tersebut mengandung unsur tindak pidana atau tidak.
“Kami sudah memeriksa rekan-rekan kerja korban yang berada di lokasi saat kejadian. Kami juga akan meminta rekam medis dari Rumah Sakit Leona dan berkoordinasi dengan RS Ben Mboi terkait hasil pemeriksaan psikologi korban,” kata Kapolres TTU AKBP Eliana Papote yang turut melayat ke rumah korban di Kabupaten Kupang, NTT, Ahad (28/6).
Dokter Icha, sapaan akrab korban, ditemukan meninggal di kediaman orang tuanya di Kabupaten Kupang, NTT, Jumat (26/6) pekan lalu. Dia sempat dirawat di rumah sakit dan menjalani pemeriksaan kejiwaan karena diduga depresi setelah menjadi korban dugaan intimidasi oleh keluarga anak korban gigitan ular (Selengkapnya lihat grafis).
Ketiga anggota DPRD tersebut merupakan kerabat pasien. Mereka adalah Norbertus Tubani (PKB), Therensius Lazakar (Golkar), dan Veronika Lake (PDIP), diduga melakukan intimidasi. Mereka mengklaim hanya bermaksud menanyakan penanganan pasien.
“Soal nada suara meninggi, itu hanya panik karena melihat kondisi pasien,” kata Therensius Lazakar.
Fabianus Banase, paman Icha, memastikan, keluarga akan melaporkan ketiga anggota DPRD TTU tersebut. “Kita pasti (lapor) ke Polda, laporkan tiga orang,” kata Fabianus kepada Timor Ekspres (Grup Jawa Pos).
Baca Juga: Saat Ratusan Dokter Mata ‘Menaklukkan’ Lintasan Sirkuit Mandalika
Terkait dugaan intimidasi yang melibatkan tiga anggota DPRD TTU, Falena menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum untuk melakukan investigasi secara mendalam. “Proses hukum perlu dilakukan agar seluruh fakta yang berkembang di masyarakat dapat diungkap secara objektif,” katanya.
Dari Jakarta, ucapan belasungkawa juga datang dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan investigasi menyeluruh terkait dugaan intimidasi yang dialami korban. Investigasi ini akan dilakukan bersama pihak-pihak terkait untuk memastikan fakta secara objektif, transparan, dan akuntabel.
“Kami sangat prihatin atas peristiwa ini. Tidak boleh ada intimidasi, tekanan, ataupun tindakan yang merendahkan martabat tenaga kesehatan,” kata Aji.
Baca Juga: Baznas RI Kembali Tinjau RSLT Labuhan Haji, Fasilitas Lengkap dengan 13 Dokter Spesialis
Pada Sabtu (27/6) malam, ratusan tenaga kesehatan (nakes) bersama mahasiswa di Kabupaten TTU juga menggelar aksi 1.000 lilin sebagai bentuk duka cita dan solidaritas atas meninggalnya dokter berusia 27 tahun itu. Aksi damai yang berlangsung di depan Kantor DPRD TTU itu juga menjadi momentum untuk menyuarakan harapan agar penanganan kasus kematian dokter muda tersebut dilakukan secara profesional, transparan, dan memberikan kepastian hukum. Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 18.30 Wita hingga 20.30 Wita itu diikuti ratusan peserta dari berbagai organisasi mahasiswa dan tenaga kesehatan di TTU.
“Aksi ini bukan sekadar ungkapan belasungkawa, tetapi juga seruan agar seluruh pihak menghormati martabat tenaga kesehatan dan mengawal proses hukum secara transparan,” kata Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kefamenanu Markolindo Balibo.
Kematian Tragis Dokter Icha
Sabtu (13/6)
- Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau Icha menangani pasien anak korban gigitan ular di IGD RS Leona Kefamenanu, Timor Tengah Utara (TTU), NTT.
- IDI TTU menyebut, Icha yang bertugas sebagai dokter jaga telah bekerja sesuai prosedur rumah sakit dan atas arahan dokter spesialis anak.
- Menurut keluarga Icha, keluarga pasien menuntut pasien diberi antibisa. Padahal, hasil pemeriksaan menunjukkan pasien tersebut belum boleh diberi serum tersebut. Stok antibisa juga tidak tersedia di rumah sakit itu.
- Dua orang yang mengaku anggota DPRD TTU diduga mengintimidasi Icha dengan suara tinggi dan menuding wajahnya. Mereka adalah Therensius Lazakar dari Partai Golkar dan Norbertus atau Nober Tubani dari PKB. Keduanya membantah tudingan intimidasi.
- Direktur rumah sakit yang dikontak Icha kemudian datang dan menengahi. Pasien tetap dalam observasi.
Minggu (14/6)
- Icha melihat dua orang yang mengintimidasinya berada di rumah sakit. Karena masih trauma, Icha kembali ke rumah. Rekan kerja yang mendatanginya ke rumah mendapati Icha dalam kondisi lemah dan lantas membawanya ke RS Leona.
Minggu (21/6)
- Icha diperbolehkan pulang setelah menjalani rawat inap selama sepekan.
Rabu (24/6)
- Icha menjalani pemeriksaan di Klinik Utama Jiwa Dewantara Mental Healthcare.
Jumat (26/6)
- Icha ditemukan meninggal di kediaman orang tuanya di Kabupaten Kupang, NTT.
Dari berbagai sumber (kr11/cr6/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online