LombokPost– Upaya keluarga almarhum inisial SS, santri asal Lombok Tengah yang tewas akibat dibakar seniornya, untuk mencari keadilan kini sampai ke level tertinggi.
Merasa mentok dan diduga mendapat tekanan di tingkat lokal, ibunda almarhum terbang ke Jakarta untuk mengadukan langsung nasib pilunya ke Komisi III DPR RI, Senin (13/7).
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang berlangsung di Kompleks Parlemen, Senayan, tangis sang ibu pecah tak terbendung.
Duduk di hadapan para wakil rakyat, kondisi psikologisnya tampak terguncang hebat akibat duka mendalam yang belum sembuh.
Karena keterbatasan bahasa dan kondisi fisik yang melemah, surat terbuka sang ibu akhirnya dibacakan oleh Titi Tantry, perwakilan tim advokasi hukum Hotman 911 yang setia mendampingi keluarga korban.
"Saya hanyalah seorang ibu kampung yang miskin dan kini sakit-sakitan karena hancurnya hati melihat anak saya, Sahril Sobirin, dibakar hidup-hidup sampai meninggal dunia," ujar Titi membacakan dengan nada bergetar.
Melalui surat itu, sang ibu mengetuk pintu hati Presiden RI Prabowo Subianto dan pimpinan dewan. Ia menegaskan, anaknya dikirim jauh-jauh ke pondok pesantren untuk menuntut ilmu agama demi masa depan, bukan untuk dianiaya secara keji.
Baca Juga: Pimpinan Ponpes dan Satu Santri jadi Tersangka, Lalai Hingga Santri Tewas Terbakar di Loteng
"Anak saya ke ponpes untuk belajar agama, bukan untuk disiksa, ditelanjangi oleh anak pemilik ponpes lalu dibakar sampai mati," lanjutnya di ruang sidang.
Aroma tidak sedap dalam penanganan kasus ini di daerah menjadi alasan utama keluarga nekat menyambangi ibu kota. Pihak keluarga mencium adanya dugaan kongkalikong yang melibatkan oknum aparat penegak hukum dan oknum pejabat daerah di Lombok Tengah.
Ironisnya, alih-alih mendapat perlindungan, pihak keluarga mengaku sempat diabaikan bahkan mendapat tekanan psikologis setelah mereka secara tegas menolak menandatangani surat kesepakatan damai yang disodorkan oleh pihak-pihak tertentu.
Kasus yang sempat viral di jagat maya ini sejatinya bermula dari aksi perundungan (bullying) yang dialami oleh korban. Pelaku diduga menelanjangi korban dan santri lainnya.
Baca Juga: Polisi Tetapkan Dua Tersangka dalam Kasus Santri Tewas Terbakar di Ponpes Lombok Tengah
Tak terima aksi nakalnya dilaporkan ke pengurus ponpes hingga berujung teguran, pelaku yang gelap mata membalas dendam secara sadis. Tiga santri junior dibakar hidup-hidup, di mana SS menjadi korban tewas akibat luka bakar yang teramat parah.
Jeritan hati ibu dari Bumi Gora ini langsung mendapat respons keras dari Senayan. Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman menegaskan, parlemen tidak akan tinggal diam melihat adanya dugaan intervensi hukum atas kasus kekerasan di lingkungan pendidikan agama di Lombok ini.
“Insya Allah, kami dari Komisi III akan berupaya maksimal mengerahkan kewenangan pengawasan kami agar almarhum dan pihak keluarga bisa mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya," tegas politisi Gerindra tersebut.
Baca Juga: Manfaatkan Modus Pinjami HP, Oknum Guru Ponpes di Pujut Lombok Tengah Tega Sodomi Empat Santri
Komisi III berjanji akan mengawal ketat jalannya penyidikan kasus ini dan memastikan tidak ada ruang bagi oknum mana pun di daerah untuk bermain-main dengan hukum atas hilangnya nyawa seorang santri.
Editor : Akbar Sirinawa