LombokPost – Di tengah dominasi film horor di bioskop, film GJLS: Ibuku Ibu-Ibu hadir sebagai kejutan yang absurd sekaligus menghibur.
Film garapan sutradara Monty Tiwa ini menyajikan komedi liar dan penuh improvisasi khas trio GJLS, yakni Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir.
GJLS: Ibuku Ibu-Ibu bercerita tentang tiga bersaudara yang hidup tak karuan pasca meninggalnya sang ibu.
Mereka tinggal bersama sang ayah, Tyo (diperankan Bucek), pemilik kos-kosan yang tiba-tiba ingin menikahi SPG muda bernama Feni (Nadya Arina).
Reaksi penolakan dari Rigen, Rispo, dan Hifdzi justru membuka konflik absurd yang kocak dan nggak jelas.
Film GJLS: Ibuku Ibu-Ibu juga dibumbui dengan cerita pribadi Hifdzi, yang terinspirasi dari kisah nyata sang ayah.
Cerita ini dikembangkan menjadi naskah oleh Monty Tiwa, lalu dieksekusi dengan improvisasi penuh oleh GJLS.
Di balik kekacauan narasi dan konflik, penonton disuguhkan celetukan random yang natural dan bloopers yang sengaja ditampilkan sepanjang film.
Di film ini, Rigen berperan sebagai pawang hujan, Rispo sebagai pecandu judi daring, dan Hifdzi sebagai MC dangdut.
Ketiganya menghadapi masalah pribadi: dari mobil bos yang hilang, utang pinjol yang menumpuk, hingga tuntutan untuk menikah karena pacar berbadan dua.
Di sisi lain, muncul Sumi (Luna Maya), teman lama sang ayah yang diam-diam mencuri sertifikat kos.
GJLS: Ibuku Ibu-Ibu terasa seperti potret masyarakat Indonesia yang absurd namun dekat.
Rigen bahkan menyebut bahwa film ini mencerminkan “DNA asli orang Indonesia”—kelakuan random, liar, tapi tetap lucu.
Meski dari segi cerita dan karakter tak terlalu kuat, film GJLS: Ibuku Ibu-Ibu tetap menghibur.
Apalagi dengan adanya bloopers yang tampil nyata dalam film. Cameo artis seperti Maxime Bouttier dan Prilly Latuconsina juga jadi kejutan tambahan.
Monty Tiwa mengakui bahwa membiarkan trio GJLS berimprovisasi adalah tantangan tersendiri.
Namun ia tetap menjaga batas agar komedinya tetap terkendali. “Pengalaman yang nggak pernah serius, tapi selalu bermakna,” katanya.
Bagi penonton yang mencari tawa tanpa perlu logika berlebihan, film GJLS: Ibuku Ibu-Ibu bisa jadi alternatif segar di tengah tren horor.
Sebuah tontonan komedi absurd yang “nggak jelas” tapi mungkin justru karena itu jadi menyenangkan.
Editor : Rury Anjas Andita