LombokPost – Kembalinya BTS melalui konser comeback di Gwanghwamun Square pada 21 Maret lalu tidak hanya mengguncang industri musik, tetapi juga mencatatkan rekor statistik media sosial (Medsos) yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah hiburan global.
Dilansir dari KBS News, Big Hit Music bersama raksasa streaming Netflix resmi mengumumkan bahwa jumlah penyebutan (mention) terkait BTS di berbagai platform media sosial melampaui angka fantastis, yakni 2,62 miliar penyebutan dalam periode sekitar konser tersebut.
Angka 2,62 miliar ini menandai rekor tertinggi sepanjang masa untuk proyek siaran langsung di platform Netflix.
Pencapaian ini lebih dari dua kali lipat rekor sebelumnya yang dipegang oleh tayangan tinju dunia Jake Paul vs. Anthony Joshua yang mencatatkan 1,25 miliar penyebutan.
Hebatnya, analisis social listening Netflix mengungkapkan bahwa 80 hingga 90 persen dari total penyebutan selama 30 hari terakhir terkonsentrasi tepat di sekitar periode comeback BTS.
Hal ini membuktikan betapa masifnya ledakan atensi publik dunia terhadap album studio ke-5 mereka, 'ARIRANG'.
Menariknya, pengaruh BTS kali ini jauh melampaui sekadar musik. Penggunaan elemen sejarah dan latar belakang landmark Seoul dalam konser Gwanghwamun memicu rasa ingin tahu jutaan orang terhadap budaya Korea.
Data menunjukkan lonjakan signifikan pada kata kunci berbahasa Inggris terkait situs sejarah dan tokoh penting Korea. Beberapa poin utama peningkatan tersebut meliputi:
Raja Sejong Agung: Melonjak tajam 630 persen pada hari konser dibandingkan hari sebelumnya.
Tokoh Sejarah: Nama-nama yang sebelumnya kurang dikenal publik global seperti Lonceng Besar Raja Seongdeok dan pejuang kemerdekaan Kim Gu (Baekbeom) mendapatkan perhatian intens dalam waktu singkat.
Budaya Tradisional: Minat terhadap Gugak (musik tradisional Korea), Istana Gyeongbokgung, dan Gerbang Sungnyemun juga meningkat drastis selama satu minggu terakhir.
Kombinasi antara visual modern BTS dan kemegahan sejarah di Lapangan Gwanghwamun berhasil menciptakan narasi budaya yang kuat.
Para ahli komunikasi menyebut fenomena ini sebagai bentuk "diplomasi budaya digital" paling sukses di abad ke-21.
Editor : Kimda Farida