MATARAM-Provinsi NTB masih bergantung daerah lain. Kebutuhan telur dan daging ayam harus dipasok dari Bali dan Jawa Timur. Sebanyak 600 ribu butir telur per hari didatangkan dari dua daerah tersebut. "Kebutuhan kita 30 juta butir telur per tahunnya," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB Hj Budi Septiani, kemarin (24/2).
Bumi Gora sendiri punya potensi peternakan unggas yang cukup menjanjikan. Namun belum mampu memenuhi semua kebutuhan telur dan ayam dalam daerah. Hal itu menggambarkan peluang usaha peternakan unggas sangat menjanjikan. Pengusaha lokal harus memanfaatkan peluang tersebut dan menjadi pemain utama di dalam daerah. "Jangan sampai ini diambil daerah lain," imbuh mantan Kadis Ketahanan Pangan NTB itu.
Ia yakin para pengusaha dan peternak lokal bisa mengambil alih peluang itu. Karena itu, pemprov mendorong semua kabupaten/kota mengembangkan peternakan unggas agar mandiri daging ayam dan telur. Minimal mereka bisa memenuhi kebutuhan telur dan daging ayam di daerah sendiri. "Kita punya program untuk kemandirian NTB dari daging ayam dan telur," ujarnya.
Program yang akan dijalankan untuk itu adalah kampung unggas di tiap daerah. Tapi awal tahun ini belum bisa terlaksana karena dana program belum disiapkan di APBD 2019. "Saya baru masuk (jadi kadis) saat anggaran sudah berjalan," katanya.
Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB Iskandar Zulkarnain menyebutkan, populasi unggas di NTB sebenarnya cukup banyak. Data per 31 Desember 2018 menunjukkan, populasi ternak unggas mencapai 48,6 juta ekor. Terdiri dari 782 ribu ekor ayam kampung; 5,5 juta ekor ayam pejantan; 3,2 juta ekor lebih ayam petelur; dan 39,1 juta ekor lebih ayam pedaging. Namun itu belum memenuhi kebutuhan pasar, sebab tidak semua warga memelihara unggas untuk dijual.
Sementara data tingkat konsumsi protein daging unggas, telur maupun sapi di NTB cukup tinggi. Sepanjang tahun 2018, konsumsi daging ayam beku 45.906 kg, daging sapi beku 215.759 kg, daging kambing beku 500.000 kg, dan telur ayam ras 30.501.650 butir setahun.
Sementara konsumsi daging sapi olahan 39.930 kg, daging ayam olahan 73.397 kg, jeroan 1.500 kg, daging babi olahan 14.400 kg, daging bebek beku 4.800 kg. Juga dalam bentuk butter cheese atau keju 28.800 kg, susu 144.160 kg, dan olahan susu atau yogurt 2.209 kg. (ili/r7)
Editor : Administrator