Ia menuturkan, waktu itu dia mengambil gambar dan video pengerusakan. Mengetahui aksinya direkam, beberapa orang menyerangnya. Fahrurrozi, anaknya yang merupakan dosen UIN berusaha melindungi sang ibu. Pemukulan pun tidak bisa dihindari. Kepalanya pun terluka berlumur darah.
Nurul Yakin menyebut, pelaku penyerangan cukup banyak. Sehingga tidak bisa dicegah. Pihak kampus pun menyerahkan penanganan kasus itu ke kepolisian. ”Kami sudah lapor,” katanya.
Aksi brutal itu terjadi dini hari, pukul 00.30 Wita. Saat itu baru saja dilakukan pergantian penjaga keamanan kampus. Tiba-tiba, sekelompok orang dari arah timur merangsek masuk melalui tembok dan melakukan penyerangan.
Dalam rekaman yang didapatkan Lombok Post, kelompok orang itu melempari kaca-kaca kampus dengan batu dan kayu. Pos satpam dan pintu gerbang kampus dirusak. Lampu-lampu yang baru dipasang pun rusak. Para mahasiswa yang tinggal di asrama dibuat kaget.
H Subuh, kepala Biro Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Mataram menerangkan, insiden bermula setelah pihak ketiga, PT Rajawali, selaku penyelenggaraan keamanan kampus melakukan serah terima petugas keamanan. ”Setelah itu datang penjaga malam (pengganti) 20 orang dari Karang Anyar dan Sekarbela,” katanya.
Setelah itu, datang sekelompok warga itu. Dia meminta semua orang di kampus keluar. ”Ada pelemparan dan terdengar suara pecah kaca,” tuturnya.
Aksi pengerusakan berlangsung 30 menit. Pelaku berhenti pukul 01.00 Wita. ”Saya langsung minta bantuan polisi,” katanya.
Setelah insiden pengerusakan mereda, aparat kepolisian datang mengamankan lokasi. Pihak UIN Mataram kemudian melaporkan kejadian itu kepada Polresta Mataram. ”Ada pelanggaran hukum, karena ini perusakan barang milik negara,” katanya.
Dia mencatat, ada 10 gedung yang mengalami kerusakan. Sebagian besar merupakan gedung yang baru dibangun. ”Kerugian kita taksir sekitar Rp 1 miliar ini,” sebutnya.
H Subuh menduga, pelaku merupakan warga sekitar kampus di Lingkungan Jempong. ”Mungkin karena merasa piringnya diambil, mereka tidak terima orang luar yang menjaga kampus,” katanya.
Dia menjelaskan, ada 40 orang warga Jempong yang putus kontraknya sebagai penjaga keamanan. Selama ini mereka dipekerjakan PT Rajawali. ”Kontrak mereka memang sampai jam 12 malam itu,” katanya.
Setelah kontrak dengan pihak ketiga habis, pihak kampus pun mengangkat penjaga keamanan baru. Hal itu dilakukan sembari menunggu proses lelang penyelenggaraan keamanan kampus. ”Kita menunggu proses lelang ini,” ujarnya.
Petugas keamanan yang diangkat UIN Mataram berasal dari luar Jempong. Sedangkan warga Jempong, menurut Subuh, tidak mau karena hanya sebagian yang akan diangkat. ”Mereka tetap ngotot, harus kami (warga Jempong) semua yang menangani keamanan di kampus UIN Mataram,” tuturnya.
Karena manajemen kampus tidak bisa menampung keinginan warga, insiden penyerangan pun terjadi. ”Kita mau mau bilang apa kalau warga sudah begitu,” ujarnya.
Kabag Ops Polresta Mataram Kompol M Taufik menerangkan, pihaknya baru mengetahui insiden itu pukul 01.15 Wita. ”Saat petugas ke sini kacanya sudah seperti ini,” katanya.
Menurutnya, penyerangan disebabkan kesalahpahaman warga dengan pihak kampus. Dalam beberapa pertemuan, sudah disepakati warga Jempong akan direkrut setelah dua bulan nanti. ”Namun ada selentingan-selentingan yang menyatakan warga Jempong hanya sebagian saja,” katanya.
Isu itulah yang membuat warga emosi dan melakukan penyerangan. Dengan kejadian itu, pihaknya akan memproses laporan itu. ”Kami imbau kepada warga, kiranya ini adalah perbuatannya silakan serahkan diri ke kepolisian!” imbuhnya.
Taufik memastikan, aparat kepolisian sudah melihat wajah-wajah pelaku di rekaman CCTV kampus. Sehingga lebih baik mereka menyerahkan diri. (ili/r5) Editor : Administrator