Manajer Konservasi, Mitigasi Bencana dan Perubahan Iklim Unesco Global Geopark (UGG) Rinjani Lombok Meliawati mengatakan, meski dilanda gempa 2018 dan pandemi Covid-19 pesona Rinjani tidak pudar.”Gunung Rinjani masih menjadi primadona atau gunung yang paling difavoritkan di dunia,” katanya.
Bahkan, Rinjani saat ini diminta bergabung ke dalam The International Mountain Tourism Alliance (IMTA). ”Di komunitas ini hanya ada gunung-gunung yang dianggap keren di dunia itu yang diminta bergabung,” ujar Meliawati.
Anggota-anggota IMTA antara lain Pengunungan Alpen, Pengunungan Changbai, Gunung Elbrus, Gunung Fuji, Pegunungan Himalaya. Kemudian Table Mountain, Mount Huang, Itatiaia Hill, Mount Kilimanjaro, Rocky Mountains, Mount Tai, and Mount Fanjing.
Di komunitas internasional tersebut, mereka akan bertukar informasi tentang wisata pendakian.”Ini kesempatan yang sangat baik untuk mempromosikan wisata pendakian dan 13 wisata non pendakian di kawasan Rinjani,” ujarnya.
Sehingga, setelah pandemi Covid-19 selesai, wisatawan asing yang datang sudah mendapatkan informasi tentang wisata pendakian dan non pendakian di Lombok. ”Kami hanya minta untuk sama-sama menjaga Rinjani bersama,” ujarnya.
Sementara itu, General Manager UGG Rinjani Lombok M Farid Zaini mengatakan, mereka terus menjaga agar status Rinjani sebagai geopark dunia tetap dipertahankan.
Sebab tahun 2022 status tersebut akan dievaluasi dan ditentukan apakah masih layak atau tidak. Namun setahun sebelum itu, April–Agustus 2021 tim Unesco akan datang ke Lombok. ”Mereka akan melihat semua dokumen persyaratan dan apa saja yang sudah dilakukan,” jelasnya.
Namun sebelum itu, pengeloa UGG Rinjani harus menyerahkan dokumen di Januari 2021 ke Unesco. Sehingga sisa waktu yang ada akan mereka manfaatkan semaksimal mungkin. ”Kita butuh percepatan dan dengan tim yang baru mudah-mudahan lima bulan terakhir ini kita bisa maksimal,” harapnya. (ili/r5)
Editor : Baiq Farida