Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Penanganan Covid Tak Optimal, Empat Kabupaten di NTB Dapat Atensi Khusus

Rury Anjas Andita • Senin, 31 Mei 2021 | 12:30 WIB
VAKSINASI: Seorang warga Kota Mataram saat mendapatkan vaksinasi covid-19 di RSJ Mutiara Sukma, beberapa waktu lalu. Penanganan dan pengendalian covid di Kota Mataram dianggap sudah baik oleh Pemprov NTB. (Wahyu/Lombok Post)
VAKSINASI: Seorang warga Kota Mataram saat mendapatkan vaksinasi covid-19 di RSJ Mutiara Sukma, beberapa waktu lalu. Penanganan dan pengendalian covid di Kota Mataram dianggap sudah baik oleh Pemprov NTB. (Wahyu/Lombok Post)
MATARAM-Penanganan dan pengendalian covid di empat kabupaten jadi atensi khusus Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah. Keempat kabupaten itu yakni Lombok Tengah (Loteng), Lombok Barat (Lobar), Sumbawa, dan Lombok Utara (Lotara).

”Beberapa masih punya PR yang harus dikerjakan, dibenahi agar lebih baik lagi,” kata Rohmi.

Empat kabupaten itu disebut Rohmi agak parah, terkait penanganan covid. Adapun enam kabupaten/kota lainnya dinilainya sudah mulai bagus.

Kekurangan utama terlihat pada persentase kematian. Untuk NTB, rata-rata kematian akibat covid mencapai 4,5 persen. Adapun di empat kabupaten tersebut, angkanya masih di atas NTB. Lombok Utara 5,8 persen; Sumbawa 5,9 persen; Lobar 6,1 persen; dan Loteng sebesar 7,8 persen.

Begitu juga untuk angka kesembuhan, Lombok Utara menjadi yang terendah di angka 81 persen; Lobar 88,2 persen; Sumbawa 89 persen; Loteng 90 persen. Sementara NTB, berdasarkan data kasus kesembuhan covid di 29 Mei, kesembuhannya di posisi 91,8 persen.

Selanjutnya ada tracing atau pelacakan kontak erat dari pasien positif. Dua kabupaten, seperti Lobar dan Loteng rasionya lebih baik dibanding rata-rata NTB, masing-masing 1:9 dan 1:8. Sementara Lotara dan Sumbawa masih sangat rendah, hanya 1:4 dan 1:3. Adapun NTB, masih di kisaran rasio 1:7.

”Kekurangan yang paling utama di tracing. Ada ketakutan ketemu orang positif,” beber Rohmi.

Ia mengatakan, satgas terus mendorong sepuluh kabupaten/kota untuk meningkatkan tracing. Apalagi sudah ada Rapid Antigen Entram, yang merupakan produk lokal, untuk percepatan tracing. Sekaligus bisa mendiagnosa kasus positif.

”Kita sudah pesan 50 ribu dan sudah mulai didistribusikan juga ke daerah. Adanya Entram itu kita dorong tracing,” kata Rohmi.

Peningkatan angka tracing, membuka kemungkinan ditemukannya kasus positif lebih banyak. Yang bagi Rohmi, menjadi hal baik bagi penanganan covid di NTB. Terutama untuk case fatality rate (CFR) atau kasus kematian covid.

”Konsekuensinya memang kasus naik. Artinya apa, ketika cepat kita temukan positif, mereka masih dalam keadaan baik. Bisa langsung diisolasi dan tidak menularkan ke orang lain,” ujarnya.

Persoalan tracing, lanjut Rohmi, bukan saja PR bagi empat kabupaten maupun Provinsi NTB. Tapi juga seluruh daerah di Indonesia. Meski begitu, ini bukan menjadi alasan pembenar. Harus ada upaya lebih giat dan masif lagi, agar rasio tracing bisa meningkat. ”PR seluruh Indonesia, bukan hanya NTB,” imbuh mantan Ketua DPRD Lotim itu.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB dr H Lalu Hamzi Fikri mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan petugas tracing.Untuk melacak kontak erat terhadap pasien positif pascalebaran ini. Upaya tersebut diperkuat dengan Rapid Antigen Entram yang mulai diproduksi masal.

”Kalau dari sisi penegakan protokol dari petugas, itu kan tetap ketat. Sebelumnya kita lihat ada pembatasan di mana-mana,” katanya. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#Virus Korona #Covid-19 #Vaksinasi #Provinsi NTB