Dedi Shopan Shopian, Lombok Tengah
Sosok Putri Mandalika, tidak lepas dari legenda cacing laut atau Nyale. Konon ceritanya, Sang Putri Mandalika menceburkan diri di Pantai Seger di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Itu karena, Sang Putri tidak ingin melihat sejumlah kerajaan terpecah belah lantaran memperebutkan dirinya.
Agar semuanya merasakan keberadaannya, maka setiap tanggal 20, bulan 10 penanggalan Sasak setiap tahun, sosoknya selalu hadir. Itu dalam bentuk Nyale. Atau tahun ini, bertepatan pada 20-21 Februari mendatang.
Untuk mengenang perjalanan dan perjuangan Putri Mandalika, maka setiap tahunnya juga digelar pemilihan Putri Mandalika. Apalagi, sejak tahun 2018 lalu, Pesona Bau Nyale di Gumi Tatas Tuhu Trasna sendiri ditetapkan sebagai kalender event nasional.
Semula seleksi Putri Mandalika diikuti warga Loteng saja. Namun, sejak beberapa tahun terakhir ini diikuti seluruh kabupaten/kota di NTB. “Untuk tahun ini, ada ratusan peserta yang mendaftar,” ujar Putri Alifia Maulidina, Ketua Panitia Pemilihan Putri Mandalika NTB pada Lombok Post.
Seleksi akan dimulai 30 Januari mendatang. Untuk memilih 15 besar. Prosesnya dilaksanakan secara ketat, profesional dan akuntabel. Mereka yang 15 besar itu kemudian akan diberikan selempang finalis, sekaligus sesi foto.
Berikut akan mengikuti berbagai kegiatan dan seleksi, hingga karantina pada 11-12 Februari mendatang. Salah satunya, kunjungan ke Graha Pena Lombok, kantor Koran Lombok Post di Mataram. Di tempat itu, para finalis diharapkan akan mendapatkan wawasan dan pengetahuan tentang jurnalistik dan lain sebagainya.
“Pada 13 Januari barulah grand final,” ujar srikandi cantik berkacamata tersebut.
Kali ini untuk memilih lima besar. Dari lima orang itulah, akan dipilih kembali menjadi satu orang yakni Putri Mandalika.
Sisanya empat orang akan dijadikan Putri Pariwisata, Putri Kebudayaan, Putri Persahabatan dan Putri Favorit. Semuanya akan diketahui, saat puncak Pesona Bau Nyale.
“Karena masih pandemi Covid-19, maka proses yang ada kita batasi,” tandas Putri.
Tahun ini, proses seleksi dilakukan secara tatap muka terbatas. Dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat dan berlapis. Pengumuman seleksi memanfaatkan media sosial. Baik Facebook, grup WhatsApp, TikTok, Youtube hingga Instagram. Tidak lagi, mendatangi sekolah per sekolah di seluruh NTB.
“Kalau kita datangi sekolah per sekolah, bisa jadi peserta membeludak. Cuma karena Covid-19, tidak bisa,” terang Putri didampingi Pembina Paguyuban Terune Dedare Loteng Ahmad Rifani. (bersambung/r5) Editor : Redaksi Desain Grafis