”Kalau menyembunyikan kamar, kan tidak mungkin. Jadi kalau di hotel itu biasa, bisa ada dan tiada (kamarnya), bukan menyembunyikan,” kata Ketua Senggigi Hotels Association I Ketua M Jaya Kusuma, Kamis (17/2).
Ia mengatakan, hotel tidak mungkin menyembunyikan kamar. Apalagi dengan tujuan menaikkan harga. Yang terjadi justru sebaliknya, hotel memiliki tujuan agar semua kamar bisa terjual dengan cepat. ”Ngapain juga kita sembunyikan kalau ada yang mau beli,” tuturnya.
Soal menyembunyikan kamar seperti yang disebut Menteri Sandi, kata Ketut Jaya, bisa saja berasal dari sistem pemesanan kamar hotel. Ia menjelaskan, ketika ada tamu yang melakukan booking sebanyak 50 kamar kemudian membayar uang muka, seluruh kamar akan di blok sistem. Tidak muncul dalam sistem dengan status available.
Dalam perjalanannya, terjadi pembatalan pemesanan kamar, dari 50 menjadi 40 kamar. Secara otomatis, kamar yang batal dipesan tersebut akan dirilis kembali di dalam sistem.
”Ya muncul lagi, jadi bukan disembunyikan. Prinsipnya kita tidak pernah menyembunyikan avaibility kamar. Kalau seperti itu, justru menyalahi SOP,” jelas Ketut Jaya.
Hal senada diungkapkan Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM) Yono Sulistyo. Yono mengatakan, kamar hotel untuk anggota AHM memang sudah banyak dibeli maupun dibooking travel agent maupun korporasi dari pertengahan Desember 2021
”Saya pantau tidak ada. Termasuk hotel di bawah AHM,” kata Yono, kemarin.
Yono tidak membenarkan atau menyalahkan pernyataan yang dikatakan Menteri Sandi. Tapi yang pasti, kamar hotel untuk anggota AHM terjual dalam situasi wajar. Juga tidak ada yang disembunyikan.
Keheranannya bukan terkait dengan Menteri Sandi yang menyebut pengelola hotel menyembunyikan kamar. Tapi soal ada kamar hotel yang telah dipesan, bahkan sudah lunas, namun masih diperjualbelikan. Yang diduga kuat dilakukan broker maupun orang-orang yang ingin mendapat keuntungan lebih.
Kondisi itu, disebut Yono tidak bisa dikontrol pihak hotel. Di luar kewenangan mereka juga. ”Dari sisi hotel, kita sudah jual kamar dan dapat pembayaran. Sudah selesai. Tapi di luar sana, masih ada kamar hotel kami diperjualbelikan,” ungkap Yono.
Yono mengatakan banyak komplain yang diterima terkait situasi itu. ”Katanya hotelnya penuh, tapi kok di luar masih ada yang jual. Itu kita (banyak) terima keluhan begitu,” tuturnya.
Kamar hotel yang kembali diperjualbelikan, bakal merugikan hotel. Apalagi jika harganya berkali-kali lipat. Dikhawatirkan tamu akan memberi review jelek, disebabkan harga yang tidak sesuai dengan fasilitas kamar. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita