Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ini Tiga Lokasi yang Berpeluang Jadi Venue MXGP di Pulau Lombok

Rury Anjas Andita • Kamis, 4 Agustus 2022 | 09:45 WIB
BUKA PELUANG INVESTASI: Para pembalap MXGP 2022 akan menjajal medan balapan pada Juni mendatang. Event balap motor cross grand prix ini diprediksi membuka peluang investasi di Pulau Sumbawa, Provinsi NTB.(IST/LOMBOK POST)
BUKA PELUANG INVESTASI: Para pembalap MXGP 2022 akan menjajal medan balapan pada Juni mendatang. Event balap motor cross grand prix ini diprediksi membuka peluang investasi di Pulau Sumbawa, Provinsi NTB.(IST/LOMBOK POST)
MATARAM-Tahun depan, dua seri Motocros Grand Prix (MXGP) akan tersaji di NTB. Masing-masing di Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok. ”Promotornya sendiri yang mengusulkan, untuk tambah satu seri di NTB. Tentu kami menyambut baik,” kata Gubernur NTB Zulkieflimansyah, Rabu (4/8).

Balapan MXGP di Pulau Sumbawa, dipastikan tetap digelar di Sirkuit Samota. Sementara untuk Pulau Lombok, ada tiga pilihan lokasi yang akan ditawarkan pemerintah. Yakni di Kawasan Mandalika dan Sirkuit Lantan, Lombok Tengah dan eks Bandara Selaparang di Kota Mataram.

”Nanti InFront yang akan memutuskan dari tiga lokasi itu mana yang dipilih,” sebutnya.

Tambahan satu seri MXGP di Pulau Lombok, tak lepas dari pengalaman balapan di Samota, Sumbawa. Zul menerangkan, Sirkuit Samota sangat menantang bagi pembalap MXGP. Layout treknya dinilai paling berat jika dibandingkan sirkuit lain yang digunakan untuk seri MXGP.

Namun ada sisi lain terhadap pujian positif yang dilontarkan para pembalap MXGP. Kata gubernur, dengan sirkuit yang menantang, pembalap mengeluarkan effort lebih untuk bisa menaklukkan Sirkuit Samota. Kondisi tersebut menguras tenaga pembalap di tengah seri balapan MXGP yang padat. Dan mengharuskan pembalap berpindah negara dalam waktu singkat.

”Indonesia kan dapat dua seri. Nah, kalau mereka harus pindah ke Sumatera atau Jawa, itu kejauhan. Perpindahan logistik juga cukup berat,” jelas gubernur.

Atas alasan tersebut, InFront kemudian mengusulkan satu seri lain untuk Indonesia, disatukan di NTB. ”Kalau satu seri di Pulau Lombok, pembalap juga bisa langsung terbang ke luar negeri lewat Bandara Lombok,” sebutnya.

Tiga lokasi di Pulau Lombok, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Misalnya di Sirkuit Lantan di Kecamatan Batukliang Utara, kelebihannya sudah terdapat bangunan sirkuit. Namun, aksesibilitas menuju sirkuit belum cukup baik. Terutama untuk mobilitas logistik balapan.

Sementara di Kawasan Mandalika, kelebihan jika MXGP digelar di sini, penonton maupun pembalap tidak sulit mencari akomodasi. Hanya saja, di Mandalika belum bisa dipastikan di titik mana sirkuit akan dibangun.

Bagaimana dengan Kota Mataram? Zul mengatakan, arena MXGP bisa digelar di eks Bandara Selaparang. Area yang luas memungkinkan untuk dibangun sirkuit motocross berkelas internasional. Tentunya sesuai dengan standar dari InFront. ”Angkasa Pura sudah oke. Wali Kota Mataram juga sangat setuju,” ungkap Zul.

Kata Zul, jika MXGP digelar di eks Bandara Selaparang, tidak hanya menghidupkan perekonomian masyarakat ibu kota. Setidaknya ada dua kabupaten lain yang terkena dampaknya. Yakni, Lombok Utara dan Lombok Barat.

”Karena berada di tengah-tengah. Mau ke Lombok Barat dekat, ke Lombok Utara juga begitu. Bisa lewat Pusuk, yang jalannya sudah lebar itu,” imbuhnya.

Dengan dua seri balapan MXGP di NTB, Zul tak khawatir jika balapan di Pulau Sumbawa akan sepi penonton. Menurutnya, itu menjadi tugas dari panitia penyelenggara untuk menarik sebanyak-banyaknya penonton. Bisa melalui harga tiket murah atau menampilkan side event lain yang bisa menarik penonton.

”Tugas panitia itu. Yang seri MXGP Samota, itu juga kan lebih banyak penonton dari Pulau Sumbawa,” sebutnya.

Yang harus menjadi fokus pemerintah, lanjut Zul, adalah menyiapkan atraksi-atraksi terbaik bagi penonton dan pembalap MXGP selama berada NTB. Sebab, pembalap maupun krunya, minimal tinggal selama dua pekan untuk dua seri di Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok.

”Tugas kami ya itu. Karena setelah (balapan) di Samota, pembalap dan kru tidak pulang. Itu langsung berpindah ke Lombok. Nah, apa yang bisa ditawarkan kabupaten/kota untuk MXGP di Pulau Lombok,” tandas Zul.

Balapan MXGP Samota pada Juni lalu disebut sukses digelar. Tolak ukurnya dari perputaran uang yang dihitung Badan Pusat Statistik (BPS) NTB selama MXGP mencapai Rp 154 miliar.

Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan, sektor akomodasi dan makan minum yang mendapat dampak ekonomi terbesar selama MXGP, yakni Rp 35 miliar lebih. Disusul dengan sektor konstruksi di angka Rp 34 miliar, sisanya tersebar pada sektor transportasi dan yang lainnya.

Kemudian khusus pada sektor pertanian, perputaran uangnya mencapai Rp 12 miliar. ”Orang yang datang nonton kan butuh makan. Berasnya dari petani, ikannya dari nelayan. Jadi sektor ini juga ikut terpengaruh saat MXGP,” sebut Wahyudin. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#sirkuit lantan #Eks Bandara Selaparang #MXGP #KEK Mandalika