"Ada dua indikator yang harus digenjot, pendidikan dan kesehatan untuk meningkatkan IPM NTB," kata Kepala BPS NTB Wahyudin, Selasa (11/10).
Provinsi NTB menempati urutan ke-29 dari 34 provinsi di Indonesia, dengan tingkat capaian IPM hanya 68,65. Angka ini lebih rendah dari standar IPM nasional yang mencapai 72,29.
Wahyudin menjelaskan, angka rata-rata lama sekolah di NTB masih jauh dari yang diharapkan yakni di bawah 7 tahun. Artinya, rata-rata pendidikan sekolah di NTB hanya tamat sekolah dasar (SD). "Itu (rata-rata lama sekolah, red) kita ambil 25 tahun ke atas. Orang-orang tua, banyak yang belum bisa baca, banyak yang tidak sekolah dan tidak tamat SD," tambahnya.
Begitu juga mereka yang sudah usia lanjut saat ini. Kata Wahyudin, sebagian besar mereka tidak pernah sekolah. Sehingga apapun program pendidikan yang dicanangkan pemerintah akan sulit direalisasikan. Baik itu paket A, B maupun C tidak bisa dilaksanakan.
"Mau program apa pada mereka, baca saja tidak bisa, kecuali untuk yang usia 25 sampai dengan 50 tahun. Itu yang bisa kita programkan," kata Wahyudin.
Guna meningkatkan IPM NTB, sambungnya, program pendidikan oleh pemerintah harus menyasar pada usia yang masih produktif. Paket A untuk lulusan SD, Paket B untuk lulusan SMP dan paket C bagi mereka yang lulus SMA.
"Kalau itu (program pendidikan) bisa dilaksanakan serentak di seluruh NTB, rata-rata lama sekolah bisa langsung naik. Kenaikan itu juga akan meningkatkan angka IPM kita," bebernya.
Kemudian, untuk harapan lama sekolah. Meski angkanya cukup bagus, yakni 13 tahun atau sudah mulai kuliah, pemerintah juga harus mengambil sikap antisipasi melalui beasiswa.Terhadap kemungkinan drop out dari bangku sekolah.
Sementara dari sisi kesehatan, diakui Wahyudin, angka kematian bayi sejalan dengan angka harapan hidup. Artinya, usia harapan hidup tidak bisa didata jika tidak ada angka kematian bayi. Sehingga kondisi kesehatan ibu hamil harus tetap dijaga. Untuk menghindari kematian dini pada bayi.
"Ini bisa melalui program keluarga harapan (PKH), diharapkan program ini tepat sasaran juga," tambahnya.
Menurut Wahyudin, program PKH bagi masyarakat miskin sangat penting bisa tepat sasaran. Terutama untuk menjaga kesehatan ibu hamil, bayi usia balita dan anak sekolah. Jika ini terjaga maka berdampak pada peningkatan angka IPM NTB. "Paling tidak bisa keluar 5 besar terbawah," tukasnya. (ewi/r5) Editor : Rury Anjas Andita