”Memang requirementnya, salah satunya soal progres smelter. Tapi saya lihat yang di Sumbawa progresnya bagus,” kata Gubernur NTB Zulkieflimansyah, Senin (29/5).
Larangan ekspor ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. Ekspor mineral mentah, termasuk konsentrat tembaga, mulai dilarang per Juni 2023 atau tiga tahun setelah beleid ini tersebut diundangkan.
Pemerintah menyebut larangan ekspor diberlakukan bagi perusahaan yang tidak membangun smelter. Dengan relaksasi ini, ada potensi bagi Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) untuk tetap melakukan ekspor, karena telah memulai pembangunan smelter.
Zul menyebut, dampak dari pembangunan smelter sangat terasa di wilayah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Daerah seperti Benete dan Maluk, semakin menggeliat aktivitas ekonominya.
”Geliatnya sangat terasa. Dan tenaga kerja juga sudah banyak, berbeda seperti beberapa waktu lalu,” ujarnya.
Terkait dengan larangan ekspor tersebut, Zul menilai pemerintah akan mengambil jalan tengah. Tidak serta merta melakukan pelarangan, sementara di sisi lain AMNT tengah menggenjot pembangunan smelternya.
Pelarangan ekspor dikhawatirkan membawa dampak bagi perekonomian masyarakat. Seperti diketahui, sektor tambang masih menjadi penyumbang tertinggi untuk angka ekspor bagi Provinsi NTB.
Dengan kondisi tersebut, Zul menyebut langkah pemprov dalam industrialisasi menjadi sangat penting. Dengan harapan bisa meningkatkan angka ekspor non tambang, seperti dari sektor perikanan, pertanian, hingga perkebunan.
”Saya akan melihat riil progres smelter di lapangan. Untuk memastikan juga larangan ekspor ini bisa direlaksasi untuk Amman,” kata Zul.
Terkait dengan progres smelter, dalam rapat koordinasi bersama Pemprov NTB pada Januari lalu, progress pembangunan smelter sudah mencapai 47 persen. Capaian ini didasari perhitungan pada realisasi anggaran kebutuhan untuk smelter. Sehingga tidak hanya mencakup pembangunan fisik, tapi juga pembelian peralatan dan mesin untuk operasional.
PT Amman telah melakukan kegiatan yang secara fisik nampak di lapangan. Ada juga yang secara fisik tidak terlihat, mengacu pada pembelian peralatan yang telah dilakukan namun barangnya belum tiba.
Alat-alat tersebut dibeli dari luar negeri, Eropa serta China. Kondisi global, seperti pandemi covid dan perang Rusia-Ukraina, mempengaruhi kedatangan alat dan mesin yang dibutuhkan PT Amman.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Januari 2023 nilai ekspor NTB dengan tambang mencapai USD 251,06 juta. Angka ini meningkat dibandingkan bulan Januari tahun 2022 sebesar USD 249,50 juta. Bila tambang dikeluarkan, nilai ekspor NTB mencapai USD 7,05 juta lebih besar dibandingkan bulan Januari tahun 2022 sebesar USD 1,66 juta.
”Sepanjang tahun dan sepanjang bulan, ekspor NTB lebih besar ketimbang impor. Nilai ekspor meningkat sejak kita miliki tambang di KSB,” kata Kepala BPS NTB Wahyuddin. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita