Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bunda Lale: Pahami Pola Asuh Anak Remaja di Era Digital

Halil E.D.C • Sabtu, 9 Desember 2023 | 09:36 WIB
Ir Hj Lale Prayatni Gita Ariadi
Ir Hj Lale Prayatni Gita Ariadi

LombokPost - Penjabat Ketua TP PKK NTB Ir Hj Lale Prayatni Gita Ariadi mengatakan, di era digital ini pola pengasuhan orang tua kepada anak harus terus mengikuti zaman.

Karena itu, Bunda Lale menekankan agar pelaksanaan Program Pola Asuh Anak Remaja di Era Digital (PAAREDI) terus digencarkan. Hal ini untuk menjawab tantangan kepengasuhan yang disesuaikan dengan kebiasaan anak yang akrab dengan perangkat digital.

Hal tersebut diungkapkan Bunda Lale saat launching Kelas Remaja Sahabat Online (KEREN) bersama Pokja Ketahanan Remaja BKKBN Provinsi NTB, IPK HIMPSI, dan PW Salimah NTB di Pendopo Gubernur NTB.

“Kelas Sahabat Remaja Online ini diharapkan bisa menambah wawasan dan pengetahuan para kader PKK dan para pihak termasuk orang tua dalam melakukan sosialisasi, edukasi dan, menerapkan PAAREDI pada keluarga dan lingkungannya,” kata Bunda Lale.

Kegiatan KEREN tersebut bertujuan untuk membahas 1.001 cara bicara orang tua dengan remaja. Tujuannya agar orangtua memiliki inspirasi untuk menemukan cara yang tepat tentang bagaimana harus berkomunikasi dengan anak remaja.

Mengingat pentingnya hal tersebut, TP PKK Provinsi NTB berusaha mendorong terbentuknya Desa Model PAAREDI yang terintegrasi dengan BKR (Bina Keluarga Remaja) yang dibentuk BKKBN. Nantinya setiap kabupaten/kota di Provinsi NTB membentuk satu Desa Model PAAREDI. 

Hak Anak Disabilitas

Di tempat terpisah, Bunda Lale mengatakan, pada tahun 2024 PKK NTB akan memprogramkan penanganan disabilitas. Karena prinsipnya, semua anak, baik penyandang disabilitas atau tidak mereka memiliki hak yang sama.

"Insya Allah, tahun 2024 untuk disabilitas akan kita masukkan ke dalam Program PKK,” kata Bunda Lale saat menghadiri pelatihan pengenalan konvensi hak dan anak GEDSI mainstreaming bagi OPD, organisasi disabilitas, perempuan dan anak, serta organisasi masyarakat di Mataram.

Bunda Lale menjelaskan, program PKK dari pusat hingga desa memiliki kesamaan. Terdiri atas empat kelompok kerja. Yang pertama programnnya penghayatan dan pengamalan pancasila, gotong royong.

Pokja kedua fokus bidang pendidikan dan keterampilan, pengembangan kehidupan berkoperasi. Pokja ketiga berkaitan dengan pangan, sandang, perumahan dan tata laksana rumah tangga. Sementara pokja keempat fokus pada kesehatan, kelestarian lingkungan hidup dan perencanaan sehat.

“PKK ini bergerak di semua bidang. Mengerjakan tugas yang bersumber dari dinas atau instansi. Banyak yang mengira PKK tempat kumpul ibu-ibu. Padahal sebagian dari tugas OPD juga dikerjekan oleh PKK,” katanya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi NTB Dra Nunung Triningsih mengatakan, seluruh OPD lingkup Provinsi NTB sudah banyak yang menyadari akan kesetaraan. 

Insya Allah, OPD lingkup Provinsi NTB, saya sudah melihat banyak yang sudah menyadari perlunya keseteraan. Tidak membeda bedakan, baik laki, perempuan, anak-anak, remaja, lansia, maupun teman-teman disabilistas,” katanya. (lil)

 

Editor : Haliludin