LombokPost-Badan Pusat Statistik (BPS) NTB merilis data inflasi Bumi Gora per Januari berada di angka 2,87 persen.
Komoditas yang dominan memberikan andil atau penyumbang inflasi adalah beras.
“Komoditas ini juga masih jadi antisipasi kami di bulan-bulan berikutnya,” terang Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) NTB Baiq Nelly Yuniarti, usai ditemui rapat koordinasi Pengendalian Inflasi Tahun 2024 di Pendopo Timur Gubernur NTB, Senin (5/2).
Meski begitu, angka inflasi dari komoditas beras masih bisa ditekan karena adanya kebijakan penyaluran bantuan pangan (bapang) beras yang dilakukan oleh Bulog.
“Alhamdulillah agak sedikit terselamatkan karena adanya pembagian bapang ini,” ujarnya.
Mengacu data dari Bulog NTB, jumlah penerima Bapang di Bumi Gora menyasar 502.476 jiwa. Penyaluran Bapang tahap satu dilakukan pada Januari-Maret. Masing-masing penerima manfaat mendapatkan 10 kilogram beras per bulan.
Menurutnya, kebijakan tersebut dinilai efektif menekan angka inflasi.
“Kalau mereka mendapatkan bantuan ini, otomatis tidak akan mencari beras karena punya persediaan, dan ini bisa menghindari atau menunda niat masyarakat untuk membeli beras yang lagi mahal saat sekarang,” terang mantan Plt kepala Dinas Kominfotik NTB ini.
Ini sesuai hajat pemerintah pusat, Bapang disalurkan untuk mengurangi beban pengeluaran penerima bantuan pangan (PBP).
Sekaligus upaya dalam mengentaskan kemiskinan, menangani kerawanan pangan, menanggulangi kekurangan pangan dan gizi, menurunkan stunting, mengendalikan gejolak harga pangan dan inflasi. Serta melindungi produsen dan konsumen dari dampak fluktuasi harga.
Nelly menegaskan, ketika persediaan sudah menipis, masyarakat bisa kembali membeli beras, pada saat harga sudah relatif murah dan terjangkau, karena di saat yang bersamaan, petani di NTB sudah memasuki musim panen raya.
“Di tambah lagi, kalau petani kita sudah panen otomatis tidak lagi membeli beras kan, sebab persediaan mereka sudah ada, sehingga inflasi kita bisa terjaga,” terangnya.
Dirinya berharap, kebijakan ini juga bisa memberi dampak menekan angka inflasi di bulan Maret. Dimana, umat Islam menjalani puasa Ramadan. Di situasi ini, konsumsi kebutuhan bahan pokok (bapok) dipastikan meningkat, yang turut diikuti dengan kenaikan harga.
“Saya rasa, angka inflasi dari beras masih bisa kita tekan, karena penyaluran Bapang ini akan berlanjut di bulan-bulan berikutnya, di tambah juga kami akan intensif menggelar operasi pasar,” tandasnya.
Wakil Pimpinan Wilayah Bulog NTB Ismed Erlando mengakui, Bapang yang disalurkan pemerintah merupakan bagian dari upaya pengendalian inflasi.
Adapun penerima Bapang mengalami penurunan yang cukup siginifikan, dari 620.204 jiwa menjadi 502.476 jiwa. Artinya, ada pengurangan penerima sebanyak 117.728 jiwa pada 2024 ini.
“Otomatis jumlah beras yang disalurkan pun berkurang. Dari sebelumnya 6.202.040 kilogram, menjadi 5.024.760 kilogram. Berkurang sekitar 1.177.280 kilogram,” jelasnya. (yun)
Editor : Kimda Farida