LombokPost--Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia melalui Balai Pengelolaan DAS Dodokan Moyosari (BPDAS) melaksanakan aksi penanaman mangrove di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Rabu (7/2).
Program ini merupakan upaya rehabilitasi lahan basah dalam rangka World Wetland Day yang jatuh pada tanggal 2 Februari lalu.
BPDAS Dodokan Moyosari dalam aksi ini mengajak unsur pemerintah daerah, masyarakat, pemuda, siswa sekolah menengah, Pramuka dan Green Youth Movement NTB sebagai duta hijau Kementerian LHK.
Langkah tersebut diambil sebagai upaya memasyarakatkan tentang pentingnya kegiatan rehabilitasi kawasan mangrove.
Kegiatan aksi dipimpin langsung Tenaga Ahli Menteri LHK bidang Pengembangan Persemaian Modern Ir. Hudoyo, MM yang dihadiri sekaligus turut melakukan penanaman simbolis Asisten II Setda NTB H Fathul Gani.
Lokasi tanam adalah areal pasang surut di kawasan pesisir Mandalika, tidak berapa jauh sebelah timur dari sirkuit MotoGP Mandalika.
Pemilihan lokasi tersebut selain sebagai upaya yang bermanfaat secara ekologi sekaligus mendukung pengembangan pariwisata di kawasan Mandalika.
Bibit yang ditanam adalah jenis Bakau (Rhizhophora, sp) didapatkan dari Persemaian Permanen Pringgabaya yang merupakan salah satu Persemaian Permanen Balai Pengelolaan DAS Dodokan Moyosari, dimana persemaian tersebut menyediakan bibit gratis bagi masyarakat di NTB yang ingin melakukan kegiatan penanaman.
Menanam mangrove memiliki banyak manfaat yakni manfaat ekologi, dimana hutan mangrove dapat menjadi habitat yang nyaman bagi berbagai jenis biota laut seperti udang, kepiting kerang dan berbagai jenis ikan lainnya.
Selain itu, mangrove juga merupakan tempat bersarang berbagai spesies burung sehingga kelestariannya tentu sangat menunjang aktivitas ekonomi dan pariwisata di daerah tersebut.
Manfaat lainnya adalah mencegah abrasi, intrusi air laut dan sebagai formasi alami yang melindungi daratan dari hempasan ombak dan angin kencang.
Kondisi mangrove yang lestari juga untuk menjaga kualitas air dan udara karena perakaran mangrove merupakan bioremediasi alami yang dapat menyerap kandungan logam berbahaya di alam seperti Fe, Mn, Cr, Cu, Co, Ni, Pb, Zn, dan Cd.
Berbagai riset juga menunjukkan bahwa mangrove juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan, pakan ternak dan bahan obat obatan.
Dengan manfaat sedemikian rupa maka diharapkan kegiatan ini juga dapat menjadi media sosialisasi sehingga mendorong partisipasi aktif semua kalangan untuk melanjutkan upaya rehabilitasi kawasan mangrove secara lebih luas dan berkelanjutan di seluruh wilayah NTB dan bahkan secara nasional di seluruh wilayah potensi mangrove di Indonesia.
Diketahui, Worlds Wetland Day (Hari Lahan Basah Sedunia) merupakan sebuah kampanye kesadaran global untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya lahan basah.
Hal beranjak dari perjanjian internasional tentang pelestarian lahan basah (Konvensi Ramsar) yang disepakati dan ditandatangani pada tanggal 2 Februari 1971 di Kota Ramsar, Iran.
Saat ini ada sekitar 172 negara yang menjadi anggota Konvensi Ramsar.
Indonesia sebagai negara kepulauan merupakan salah satu negara yang memiliki ekosistem lahan basah terluas di Asia, setelah China, dengan luas sekitar 40,5 juta Ha.(ksj)
Editor : Kimda Farida