Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Program Pompanisasi Kementerian Pertanian, Kelompok Tani di NTB Dapat 5.100 Unit Pompa Air

Yuyun Kutari • Sabtu, 6 April 2024 | 09:30 WIB

 

TINGKATKAN PRODUKSI: Lahan persawahan tadah hujan membutuhkan sentuhan kebijakan yang progresif, salah satunya pompanisasi, agar dapat memproduksi lebih banyak gabah. (FOTO: IVAN/LOMBOK POST)
TINGKATKAN PRODUKSI: Lahan persawahan tadah hujan membutuhkan sentuhan kebijakan yang progresif, salah satunya pompanisasi, agar dapat memproduksi lebih banyak gabah. (FOTO: IVAN/LOMBOK POST)

LombokPost-Kementerian Pertanian (Kementan) memberikan bantuan berupa pompa air kepada ribuan kelompok tani di NTB tahun ini. Awalnya sebanyak 8.621 unit pompa air akan disebar, namun setelah dilakukan verifikasi, jumlahnya menyusut menjadi 5.100 unit.

”Bantuan diberikan per kelompok tani,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB Muhammad Taufieq Hidayat.

Pengurangan jumlah tersebut disebabkan program pemberian pompa kepada petani akan ada dua jenis. Pertama, dengan bantuan mesin pompa air ukuran 2 inci dan program irigasi perpompaan dengan mesin ukuran 6 inci-8 inci.

Khusus untuk program irigasi perpompaan, setiap kelompok tani mendapatkan bantuan senilai Rp 112,8 juta. Dana itu dipakai untuk pengadaan pompa, perpipaan, rumah pompa dan kantong atau bak penampung. Jumlahnya terbatas yaitu 153 unit.

”Ini mesin yang 6 inci-8 inci. Letaknya harus di sumber air yang tetap mengalir sepanjang tahun dan debit airnya besar. Misalnya dari danau atau sungai besar,” jelas pria asal Sumbawa tersebut.

Karena itu, sumber dan ketersediaan air menjadi salah satu syarat mutlak. Sehingga ada revisi dari Kementan dengan menyesuaikan kebutuhan daerah. ”Irigasi perpompaan mesinnya besar, tidak boleh dari sumur-sumur dangkal atau air permukaan. Harus air kali yang mengalir terus menerus. Kalau pompanisasi bisa dari air permukaan karena pompanya kecil,” kata dia.

Nantinya, ribuan unit pompa tersebut diberikan kepada kelompok tani yang selama ini menggarap pertanian di lahan kering dan tadah hujan. Lahan yang biasanya hanya bisa ditanami satu kali panen, diharapkan bisa menjadi dua sampai tiga kali panen padi.

Dari hasil pemetaan Kementan RI, persawahan tadah hujan yang tersebar di seluruh NTB seluas 95.519 hektare. Dengan adanya bantuan pompanisasi dan irigasi perpompaan ini, produksi padi di NTB ditargetkan bisa bertambah dan tetap menjadi lumbung pangan.

Tahun 2024 ini, target produksi padi di NTB sebanyak 1,4 juta ton gabah kering giling (GKG). Meskipun pada 2023, realisasi produksi padi di NTB mencapai 1,52 juta ton GKG.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Distanbun NTB H Agus Hidayatulloh mengatakan berapapun jumlah dan jenis pompa yang diberikan, tetap akan diterima pemerintah daerah.

”Karena memang verifikasi itu sangat menentukan, ya kalau sesuai kebutuhan kami bersyukur, kalau kurang dari itu, kami memaklumi kan ini pasti butuh anggaran besar, dan programnya seluruh Indonesia,” jelasnya. (yun/r11)

 

Editor : Akbar Sirinawa
#lumbung pangan #Kementerian Pertanian #irigasi #gabah kering giling #sumber air #NTB #Dinas Pertanian dan Perkebunan #tadah hujan #Pompanisasi