Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Semua Pihak Harus Berkolaborasi, Jangan Tunggu Lebih Banyak Hotel di Senggigi Tumbang!

Umar Wirahadi • Senin, 7 Oktober 2024 | 09:14 WIB
SISA KEJAYAAN SENGGIGI: Seperti inilah penampakan hotel Sentosa Senggigi saat ini. Dulu hotel ini sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan. (Ivan/Lombok Post)
SISA KEJAYAAN SENGGIGI: Seperti inilah penampakan hotel Sentosa Senggigi saat ini. Dulu hotel ini sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan. (Ivan/Lombok Post)

LombokPost--Detik-detik tumbangnya hotel The Santosa Villas and Resort diceritakan dengan sangat emosional oleh Mustajib.

Maklum, pria itu  sudah 15 tahun bekerja di hotel berbintang itu sebelum akhirnya tutup total pada Oktober 2018 lalu.

Padahal hotel itu dulu menjadi primadona turis-turis tajir asal Eropa, Amerika Serikat hingga Australia.

Bahkan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tercatat pernah menggelar lunch bersama sejumlah menterinya.

Mantan Wakil Presiden (Wapres) Boediono juga pernah menginap di hotel yang terletak di Jalan Raya Senggigi itu.

"Dulu hotel ini jadi jujugan turis-turis yang dompetnya tebal. Karena telaknya sangat strategis. Kita bisa saksikan sunset dari dalam hotel. Tapi sangat disayangkan akhirnya tutup," kata Mustajib sambil menerawang.

Disampaikan, kesulitan finansial menjadi pemicu utama ambruknya hotel dengan luas 7 hektare itu.

Sejak awal 2018, operasional hotel sudah mulai megap-megap.

Kondisi itu disebabkan karena tamu, khususnya turis asing yang menginap sudah mulai jarang.

Setidaknya tren grafik penurunan tamu sudah mulai dirasakan sejak 2016. Kondisinya makin parah dari tahun ke tahun.

"Seringkali listrik diganti genset karena manajemen tidak mampu bayar listrik. Karena tamu mulai sepi," tutur Mustajib.

Puncaknya pada Agustus 2018, gempa dahsyat mengguncang Lombok.

Kondisi itu turut menimpa sejumlah hotel di Senggigi yang rusak parah. Termasuk di antaranya hotel The Santosa Villas and Resort.

Banyak kerusakan pada bangunan hotel. Sementara owner tidak mampu lagi untuk merenovasi bangunan yang rusak.

Sampai akhirnya pada Oktober 2018, manajemen hotel mengumumkan secara resmi bahwa The Santosa Villas and Resort harus menghentikan operasionalnya.

Para karyawan pun harus berhenti bekerja dengan berat hati. Kondisi semakin parah karena pandemi Covid-19 yang melanda mulai akhir 2019.

"Tidak ada dana buat operasi. Intinya memang masalah finansial yang sangat serius," tutur pria dengan jabatan terakhir sebagai sport and recreation supervisor itu.

Cerita tentang bangkrutnya The Santosa Villas and Resort itu turut menjadi bahan diskusi para pelaku pariwisata Senggigi yang digelar pada awal September lalu.

Hadir juga sejumlah stakeholder, pemerhati wisata, akademisi dan beberapa ekspatriat yang peduli dengan Senggigi.

Mereka kompak merasa resah. Muncul kekhawatiran bersama, jika Senggigi terus dibiarkan sepi seperti saat ini, bukan mustahil akan muncul hotel-hotel lain yang bertumbangan karena tamu sepi.

"Terus terang ini menjadi kekhawatiran kami sebagai pelaku wisata di Senggigi," kata Muhammad Rukhi, pemilik resto The Curry Leaf.

Dia menggaungkan bahwa semua pihak harus turun tangan menyelamatkan wisata Senggigi.

Khususnya pemerintah. Mulai Pemkab Lombok Barat, Pemprov NTB maupun pemerintah pusat melalui Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

"Kami mengetuk kesadaran pemerintah, Senggigi ini harus diselamatkan. Save Senggigi," tegas Rukhi.

Menurutnya, pemerintah terkesan lepas tangan dengan kondisi wisata Senggigi yang tengah sepi.

Mulai tidak adanya promosi  serius yang digaungkan hingga sepinya event yang bisa menggaet wisatawan asing.

Termasuk misalnya event kesenian dan budaya.

"Senggigi ini seakan dilupakan oleh pemerintah. Padahal semua pelaku usaha di sini bayar pajak," paparnya.

Ketua Forum Komunikasi Kelompok Sadar Wisata (FK Pokdarwis) Provinsi NTB Hajir menambahkan selama setahun terakhir tidak ada event kesenian sama sekali di Senggigi.

Semua pihak termasuk pemerintah sibuk oleh momen politik. Mulai dari pilpres, pileg hingga berlanjut pilkada saat ini.

"Setahun terakhir ini politik terus yang dikumandangkan. Pariwisata benar-benar dilupakan," tegasnya. 

Gencarkan Promosi dan Event 

Banyak pihak bertanya-tanya mengapa pariwisata Senggigi sepi.

Seharusnya itu tidak boleh terjadi jika pemerintah dan semua stakeholder berkolaborasi membangkitkan lagi icon pariwisata bahari Provinsi NTB itu.

"Jelas kita heran kok bisa Senggigi sepi. Dari dulu Senggigi ini sudah cantik dan eksotis. Senggigi ini kurang apa," kata Ketua Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi NTB Ni Ketut Wolini.

Menurutnya, banyak cara untuk membangkitkan kembali Senggigi. Program yang paling urgent saat ini, misalnya dengan memperbanyak event jangka pendek.

Seperti menggelar bazar kuliner yang dibalut dengan pertunjukkan kesenian dan budaya. Misalnya peresean, gendang beleq maupun tarian-tarian khas Sasak.

Event seperti ini bisa digelar beberapa hari secara berkelanjutan.

"Kalau sudah ada acara kesenian seperti ini turis akan datang dengan sendirinya. Awalnya mereka menginap semalam, tapi karena ada event jadi bermalam-malam. Ini menguntungkan  hotel maupun UMKM," jelas Wolini.

Keramahan warga disertai suguhan kesenian tradisional jadi daya tarik utama yang bisa dijual ke turis asing.

Pemerintah juga harus memperbaiki sejumlah fasilitas. Seperti menambah lampu penerangan jalan.

Saat ini memang banyak keluhan soal gelapnya jalan raya di sekitar Senggigi. Saat malam hari tempat wisata itu gelap gulita. Hanya di beberapa titik saja yang terang.

"Kalau jalannya gelap orang jadi takut untuk jalan malam. Karena ini menyangkut keamanan wisatawan," ungkap Wolini. 

Di sisi lain, Wolini memaklumi kekecewaan dan kemarahan pelaku wisata. Sebab sepinya kunjungan sangat berdampak langsung pada ekosistem ekonomi pariwisata.

"Wajar pelaku wisata marah. Karena ini masalah perut. Mereka menggantungkan urusan dapur dan perut dari sektor pariwisata," tegasnya.

Dia setuju saat ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Semua bisa melakukan kolaborasi untuk kemajuan pariwisata Senggigi.

Mulai dari pemerintah Provinsi NTB, Pemkab Lombok Barat, Pemerintah Desa Batulayar hingga warga di sekitar Senggigi.

"Tapi semua muaranya adalah pemerintah. Kita sebagai stakeholder pariwisata siap pendukung program pemerintah," tandasnya. (mar/r5)

Editor : Kimda Farida
#Senggigi #Pemkab Lombok Barat #Pariwisata NTB #Lombok