LombokPost-Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merilis data statistik terbaru yang menunjukkan adanya deflasi tipis, penurunan Nilai Tukar Petani (NTP), serta penurunan produksi padi dan jagung di Februari 2025. Kepala BPS Provinsi NTB Wahyudin memaparkan rincian data tersebut dalam konferensi pers yang digelar pada Senin (3/3/2025).
"Pada Februari 2025, NTB mengalami deflasi year on year (y-on-y) sebesar 0,01 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 105,81," ungkap Wahyudin.
Deflasi ini disebabkan oleh penurunan harga pada beberapa kelompok pengeluaran, terutama perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami penurunan indeks sebesar 12,66 persen.
Baca Juga: Astra Motor NTB Bagikan Tips Berkendara di Saat Bulan Ramadan
Meskipun demikian, beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami kenaikan indeks, seperti perawatan pribadi dan jasa lainnya (8,94 persen), pendidikan (3,82 persen), dan kesehatan (2,35 persen). "Hal ini menunjukkan adanya dinamika harga yang beragam di berbagai sektor," jelas Wahyudin.
NTP NTB pada Februari 2025 tercatat sebesar 122,61, mengalami penurunan signifikan sebesar 2,62 persen dibandingkan bulan sebelumnya. "Penurunan ini disebabkan oleh penurunan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 3,02 persen, yang lebih besar daripada penurunan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,41 persen," papar Wahyudin.
Meskipun NTP mengalami penurunan, Wahyudin menegaskan bahwa NTP semua subsektor pertanian masih berada di atas 100, yang menunjukkan bahwa petani masih memiliki daya beli yang positif. Namun, penurunan ini tetap menjadi perhatian dan perlu diwaspadai.
Selain deflasi dan penurunan NTP, BPS juga mencatat penurunan produksi padi dan jagung di NTB pada tahun 2024. "Luas panen padi pada 2024 mencapai 281,72 ribu hektare, turun 2,02 persen dibandingkan 2023. Produksi padi juga turun 5,53 persen menjadi 1,45 juta ton GKG," ungkap Wahyudin.
Hal serupa juga terjadi pada produksi jagung. Luas panen jagung pipilan pada 2024 mencapai 173,76 ribu hektare, turun 2,94 persen. Produksi jagung pipilan kering juga turun 5,56 persen menjadi 1,21 juta ton.
"Penurunan produksi ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan iklim, serangan hama penyakit, dan penurunan luas lahan pertanian," jelas Wahyudin.
Baca Juga: DPRD KLU Minta Bupati Perhatikan Sektor UMKM untuk Tingkatkan Ekonomi Masyarakat
Pada sektor transportasi, jumlah penumpang yang datang dan berangkat melalui pelabuhan laut mengalami fluktuasi. Sementara itu, jumlah penumpang penerbangan domestik dan internasional mengalami penurunan. "Penurunan ini mungkin disebabkan oleh faktor musiman atau perubahan pola perjalanan masyarakat," kata Wahyudin.
Secara keseluruhan, data statistik Februari 2025 menunjukkan adanya dinamika ekonomi yang beragam di NTB. Deflasi tipis, penurunan NTP, dan penurunan produksi padi dan jagung menjadi tantangan yang perlu diatasi. Namun, Wahyudin optimis bahwa dengan upaya bersama dari pemerintah dan masyarakat, NTB dapat mengatasi tantangan ini dan terus tumbuh secara berkelanjutan. (nur)
Editor : Rury Anjas Andita