LombokPost-Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal bersama Wagub NTB Hj Indah Dhamayanti Putri belum lama ini mengunjungi Badan Riset Daerah (BRIDA) NTB.
Plt Kepala BRIDA NTB Lalu Suryadi mengungkapkan, Gubernur Iqbal menunjukkan ketertarikannya untuk mengembangkan mesin pirolisis, teknologi pemanasan tanpa oksigen yang mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar. “Ketertarikan ini muncul setelah orang nomor satu di NTB tersebut menyaksikan operasional teknologi itu secara langsung,” terangnya.
Di BRIDA NTB, Gubernur melihat dan mengamati kerja mesin, peralatan, serta prototipe hasil inovasi, termasuk alat pirolisis. Teknologi ini bekerja dengan memanaskan bahan organik pada suhu tinggi dalam lingkungan tanpa udara atau dengan udara yang sangat terbatas. Selama proses ini, bahan organik terurai menjadi gas, cairan, dan residu padat yang disebut biochar atau karbon aktif. Teknologi ini memungkinkan pemanfaatan limbah organik menjadi produk yang berguna.
“Beliau ingin agar itu dikembangkan dalam skala lebih besar,” sambungnya.
Sampah masih menjadi persoalan yang perlu ditangani dengan berbagai cara, termasuk pendekatan teknologi. Karena itu, ada keinginan agar mesin tersebut ditempatkan di TPAR Kebon Kongok. “Setidaknya dengan ini persoalan sampah bisa terurai, karena beliau sangat konsen dengan persoalan ini,” jelas Suryadi.
Jika persoalan sampah ditangani serius menggunakan teknologi, dampaknya akan positif bagi banyak sektor, terutama pariwisata. “Sektor ini tidak akan menarik jika banyak sampah yang tak terkelola,” ujarnya.
Selain itu, Gubernur juga meninjau pertanian hidroponik di BRIDA dan menunjukkan ketertarikannya untuk mengembangkan hidroponik dalam skala lebih besar. Masyarakat NTB yang mayoritas masih bertani dengan sistem tradisional didorong mencoba sistem ini guna meningkatkan kualitas dan nilai jual produk pertanian.
Suryadi menegaskan, ke depan BRIDA akan mengembangkan kompleks sains yang layak sebagai tempat pembelajaran bagi masyarakat, terutama anak muda. Terlebih, BRIDA NTB tidak pernah sepi dari kunjungan pelajar dan mahasiswa, dengan total kunjungan mencapai 12 ribu orang per tahun. “Umumnya kunjungan berasal dari mahasiswa, pelajar, dan studi komparasi dari luar daerah. Ini akan menjadi perhatian kami bagaimana OPD ini membawa dampak positif bagi masyarakat,” tandasnya. (yun/r7)
Editor : Rury Anjas Andita