Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

NTB Gerak Cepat Jalankan Program Cek Kesehatan Gratis

Yuyun Kutari • Senin, 24 Maret 2025 | 09:09 WIB
(dari kiri ke kanan) Wakil Ketua II IDI Wilayah NTB dr Wahyu Sulistya Affarah, Ketua Forum Peduli NTB Sehat dr Hj Nurhandini Eka Dewi dan Kepala Dikes NTB H Lalu Hamzi Fikri mendukung program CKG
(dari kiri ke kanan) Wakil Ketua II IDI Wilayah NTB dr Wahyu Sulistya Affarah, Ketua Forum Peduli NTB Sehat dr Hj Nurhandini Eka Dewi dan Kepala Dikes NTB H Lalu Hamzi Fikri mendukung program CKG

LombokPost-Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari Presiden Prabowo Subianto direspons cepat Pemprov NTB. Kepala Dinas Kesehatan NTB DR Lalu Hamzi Fikri mengatakan, sebanyak 177 puskesmas dan sejumlah rumah sakit di NTB telah melayani masyarakat sejak 10 Februari.

“Kalau kita di NTB sudah langsung action, dan posisi kita sekarang berada di warna hijau, itu artinya berjalan,” tegasnya.

Program CKG menyasar bayi, remaja, dan lansia. Sasaran program ini meliputi bayi usia enam tahun, anak sekolah usia 7–17 tahun, serta masyarakat 18 tahun ke atas, termasuk lansia. Menurut Fikri, program ini sangat positif karena membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal sehingga bisa dilakukan intervensi dini.

“Prinsipnya, yang paling penting adalah sehat lebih utama daripada tiba-tiba jatuh sakit. Sekarang kita bawa Indonesia sehat, NTB sehat. Dari sini kita ingin memastikan produksi orang sehat jangan sampai sakit. Kita kan di NTB juga menuju NTB Emas,” ujarnya.

Sejak dicanangkan, lebih dari 6.000 masyarakat yang berulang tahun telah mengakses program ini, dengan 60 persen di antaranya perempuan. Fikri memperkirakan jumlah tersebut terus bertambah, terutama menjelang Agustus. “Ini yang kita antisipasi. Yang pasti, kita akan terus menyiapkan fasilitas dan layanan kesehatan yang memadai,” jelasnya.

Terkait kendala di lapangan, Fikri mengakui setiap program baru menghadapi tantangan. Salah satunya kurangnya sosialisasi, terutama karena masyarakat lebih banyak menerima informasi melalui media sosial. Selain itu, kendala juga terdapat pada sarana, prasarana, dan sumber daya manusia (SDM).

“Ini tetap kami evaluasi. Kami juga berharap ada tempat khusus pelayanan bagi program CKG,” sambungnya.

Fikri juga menekankan pentingnya insentif bagi tenaga kesehatan (nakes) dalam menjalankan program ini. Jangan sampai program terhambat karena insentif bagi nakes diabaikan.

“Tapi saya dengar ini sedang dibahas, karena program ini baru berjalan sekitar sebulan. Mudah-mudahan bisa segera direalisasikan,” tandasnya.

Wakil Ketua II IDI Wilayah NTB Wahyu Sulistya Affarah mengatakan, dirinya mendukung program CKG untuk mengembalikan marwah puskesmas sebagai pusat kesehatan, bukan pusat kesakitan.

“Sebelumnya ada banyak program preventif dari pemerintah, tetapi gaya komunikasi dengan masyarakat kurang familiar. Yang penting itu dampaknya nyata, salah satunya melalui pemeriksaan gratis ini,” tegas dokter Farah.

Terkait minimnya promosi CKG, ia menyarankan Dikes NTB menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami masyarakat dan memanfaatkan media sosial yang sudah dikenal luas.

Ketua Forum Peduli NTB Sehat Nurhandini Eka Dewi juga menilai CKG sangat membantu masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal.

“Bagaimana program ini dalam rangka orang bisa mencegah penyakit. Program ini sangat membantu, dan jarang-jarang pemerintah berani mengambil kebijakan seperti ini,” terangnya.

Sebelumnya, pernah ada program seperti Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), tetapi menurutnya, CKG lebih tepat karena langsung memberikan layanan pemeriksaan kesehatan.

“Kebiasaan masyarakat kita kan kalau tidak sakit, tidak berobat. Dengan ini, kita mulai mengubah mindset masyarakat agar datang ke rumah sakit atau sarana kesehatan untuk mengecek kesehatannya,” ujarnya. (yun/r7)

 

Editor : Pujo Nugroho
#cek kesehatan gratis #Tenaga Kesehatan #media sosial #NTB