Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Lotim Cegah Pembelian Gabah di Bawah HPP, Loteng Antisipasi Rebah Tanaman

nur cahaya • Rabu, 26 Maret 2025 | 20:33 WIB

 

 

BEGABAH: Seorang buruh tani sedang panen padi atau Begabah di salah satu sawah milik petani di Lombok Timur (Lotim) belum lama ini.
BEGABAH: Seorang buruh tani sedang panen padi atau Begabah di salah satu sawah milik petani di Lombok Timur (Lotim) belum lama ini.

 

 

LombokPost-Bupati Lombok Timur (Lotim) H Haerul Warisin meminta masyarakat agar melaporkan bila mengalami atau menemukan pembelian gabah di bawah harga pembelian pemerintah (HPP).

HPP yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp 6.500 per kilogram.

“Segera laporkan jika ada yang membeli di bawah HPP. Bulog saat ini membeli dengan harga HPP sebesar Rp 6.500 per kilogram,” terang  Haerul Warisin, Selasa (25/3)

Kata dia, harga gabah kering panen (GKP) dengan kualitas bagus sudah ditetapkan beberapa bulan sebelumnya sebesar Rp 6.500.

Untuk itu ia meminta masyarakat dapat memanfaatkan hal tersebut. Terlebih Bulog Lotim tidak dibatasi jumlah pembelian gabah petani.

Saat ini, Bulog baru menyerap beberapa persen hasil panen petani.

Selain HPP GKP, dia juga meminta masyarakat melaporkan jika menemukan adanya penjualan komoditas seperti pupuk, gas LPG atau lainnya yang sudah disubsidi pemerintah, namun dijual tidak sesuai harga yang telah ditetapkan.

“Pemerintah akan terus berusaha dan berkomitmen untuk menjaga kemampuan atau daya beli masyarakat, ”katanya.

Selain itu, dirinya juga mengingatkan agar para petani di Lotim dapat menyesuaikan jenis komoditas yang ditanam, dengan melihat kondisi cuaca dan iklim saat ini.

Untuk mengantisipasi kerugian petani.

Terlebih Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan tahun ini akan terjadi La Nina yang berdampak terhadap curah hujan.

Sehingga diharapkan petani lebih selektif menanam tanaman.

Kendati demikian ia meminta petani mengupdate informasi terkait cuaca.

“Selain mengupdate informasi terkait cuaca,  penyuluhan pertanian juga sangat penting dilakukan. Termasuk komunikasi yang intens dengan kelompok tani,” katanya.

Terkait adanya efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah pusat, dirinya meminta agar masyarakat tidak mengkhawatirkan informasi tersebut.

Sebab tidak berdampak terhadap masyarakat.

Menurutnya efisiensi hanya dilakukan terhadap operasional pemerintahan.

Seperti dana perjalanan dinas baik Pemkab maupun DPRD.

Dana hasil efisiensi akan dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Jadi masyarakat tidak perlu khawatir dengan efisiensi. Salah satu fokus Pemda ialah membenahi kebersihan dimulai dari kawasan perkotaan. Karena sampah tidak hanya mengganggu keindahan. Tetapi penanganan sampah juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat,” pungkasnya.

Terpisah, Dinas Pertanian (Distan) Lombok Tengah mengimbau para petani untuk waspada rebah tanaman padi saat musim hujan yang belakangan terjadi.

Walau tidak berdampak luas pada lahan padi, rebah tanaman padi dapat merugikan petani. Khususnya tanaman padi yang masih hijau.

“Hasil produksi sih memang tidak terpengaruh, tapi kualitas padi atau gabah yang dipanen nanti banyak kadar air (buruk, red),” ungkap Kepala Bidang Perkebunan Distan Loteng Zaenal Arifin pada Koran ini, Selasa (25/3).

Ia menuturkan, kejadian rebah tanaman padi tidak terlalu meluas.

Serta belum masuk kategori puso lantaran masih bisa menghasilkan gabah.

Kondisi ini masih bisa diselamatkan petani secara manual, jika tanaman padi masih butuh waktu hinga panen, dengan mendirikan tanaman padi dengan cara diikat.

“Kumpulkan, dirikan tanaman dan diikat. Masih bisa kok diselamatkan sampai panen,” tambahnya.

Terlepas penyebab rebah tanaman oleh cuaca, kata dia, juga bisa disebabkan tanaman kebanyakan diberikan pupuk urea.

Membuat batang tanaman padi tidak kuat.

“Kita sarankan petani gunakan pupuk secara berimbang, namun kebiasaan petani mencari pupuk yang namanya urea,” kata Zaenal.

Pada cuaca ekstrem ini, ia melihat sebagian petani sudah mulai panen sehingga diprediksi puncak panen raya pada bulan April.

“Sepanjang jalan bypass itu padinya sudah siap panen, tapi karena ini puasa, mereka tunda ke April nanti,” ucap dia.

Kepala Distan Loteng M Kamrin menambahkan, rebah tanaman padi dikhawatirkan mempengaruhi kualitas padi akibat terendam air hujan. Sebab membutuhkan penanganan lebih untuk mengeringkan gabah, baik dari segi waktu dan tenaga.

“Dari segi kuantitas sama, tapi kualitas padi atau gabah sedikit menurun. Tapi kalau padinya sudah siap panen, tidak ada masalah walau rebah tanaman,” ujarnya. (par/ewi/r6)

Editor : Prihadi Zoldic
#harga #pembelian #daya beli #Petani #efisiensi #GKP #HPP