LombokPost--Wilayah Provinsi NTB sedang memasuki masa peralihan musim. Dari periode musim hujan ke kemarau.
Bahkan Provinsi NTB tercatat salah satu wilayah yang mengalami kemarau lebih awal dibanding provinsi lainnya.
"Dari data BMKG pusat sebagian daerah di NTB sudah masuk awal musim kemarau," kata Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG NTB Nuga Putrantijo, Minggu (13/4).
Dijelaskan awal musim kemarau di NTB tidak serentak.
Berdasarkan kondisi dinamika atmosfer terkini, kemarau lebih dulu terjadi di daerah Kabupaten Bima bagian timur sejak dasarian I April (tanggal 1-10).
Selanjutnya, dasarian II April (tanggal 11-20), kemarau mulai terjadi di Kabupaten Lombok Timur bagian timur dan Lombok Tengah bagian timur tenggara.
Nah, sisanya mulai masuk musim kemarau di dasarian III April (tanggal 21-30) hingga awal Mei 2025. Meliputi Kabupaten Lombok Barat, Kota Mataram dan Lombok Utara.
"Memang munculnya kemarau di NTB tidak terjadi serempak. Pergeseran cuaca terlihat dari wilayah timur ke barat," jelasnya.
Dijelaskan, musim kemarau mulai dialami 57,7 persen zona musim (ZOM) di Indonesia
pada periode April hingga Juni. Termasuk di antaranya NTB.
Lima daerah lainnya yang masuk musim kemarau April ini adalah NTT, Bali, pesisir Jawa Timur, pesisir utara Jawa bagian barat dan Lampung bagian timur.
"Akumulasi curah hujan musim kemarau di sebagian besar ZOM diprediksikan pada kategori normal atau sama dengan biasanya. Artinya tidak lebih basah atau tidak lebih kering," jelas Nuga.
Disampaikan, puncak musim kemarau 2025 diprediksi terjadi pada Agustus di sebagian besar ZOM di Indonesia. Durasi musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia beragam. Dari yang paling singkat yaitu selama 6 dasarian atau 2 bulan pada sebagian Sumatera dan Kalimantan hingga lebih dari 24 dasarian di sebagian Sulawesi.
Di sisi lain, meski NTB sudah masuk awal musim hujan, tapi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih kerap mengguyur.
Bahkan beberapa titik jalan di Lombok Barat dan Kota Mataram sampai tergenang.
"Ini karena faktor topografi di wilayah NTB yang kompleks. Ada pegunungan, lembah, dan dataran rendah sehingga menyebabkan variasi iklim yang beragam," jelas Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (Stamet ZAM) Dhian Yulie Cahyono.
Disampaikan, hujan yang mengguyur di sejumlah daerah masih tergolong wajar dan normal.
Apalagi hujan signifikan adalah daerah yang diperkirakan belum memasuki musim kemarau. Seperti Kota Mataram dan Lombok Barat.
"Makanya beberapa kali masih hujan," ujar Dhian.
Meski masuk peralihan musim, masyarakat tetap harus waspada.
Karakteristik utama periode peralihan adalah perubahan cuaca secara tiba-tiba.
Pada pagi hingga siang cuaca bisa saja panas. Namun pada sore atau malam hari berubah menjadi hujan lebat disertai angin kencang hingga petir.
"Jadi tetap harus waspada dengan perhatikan informasi BMKG untuk mengantisipasi dampak bencana maupun kerugian dalam perencanaan kegiatan," tandasnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD NTB Ahmadi meminta masyarakat perlu mewaspadai dampak peralihan musim hujan menuju musim kemarau.
Seperti mewaspadai adanya potensi bencana hidrometeorologi. Yaitu hujan lebat disertai angin kencang yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan bersifat lokal.
Banjir dan tanah longsor.
"Saya kira masyarakat bisa juga memanfaatkan hujan yang turun untuk mengisi penampungan air sebelum kemarau. Seperti embung, waduk, atau penampungan air hujan lainnya," kata Ahmadi.
Lebih jauh Ahmadi meminta semua kabupaten/kota untuk bersiap-siap menghadapi musim kemarau. Terutama mengantisipasi bencana kekeringan.
Beberapa daerah masuk dalam daerah rawan kekeringan. Seperti Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Utara, hingga Lombok Timur bagian selatan.
"Tentu harapan kami agar daerah mulai lakukan antisipasi bencana kekeringan dari sekarang," tegas Ahmadi. (mar/r3)
Editor : Kimda Farida