Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Petani Dibayangi Rasa Waswas, Harga Jagung Anjlok saat Panen Raya

nur cahaya • Sabtu, 19 April 2025 | 22:41 WIB

 

JEMUR JAGUNG: Warga Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sedang menjemur jagung setelah dipanen beberapa hari lalu. 
JEMUR JAGUNG: Warga Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sedang menjemur jagung setelah dipanen beberapa hari lalu. 
 

LombokPost-Panen raya jagung sedang berlangsung. Pada musim panen pertama ini, produksi jagung di NTB diprediksi meningkat sekitar 5–7 persen. Artinya, akan ada sekitar 1,2 juta ton jagung yang dihasilkan selama periode April–Mei ini.

Namun, alih-alih disambut suka cita oleh petani, panen justru dibayangi rasa waswas. Kekhawatiran itu muncul karena harga beli jagung berada di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) dan serapan jagung oleh Bulog Kanwil NTB diprediksi tidak maksimal.

“Masalah terkait jagung ini menumpuk. Karena persoalannya beragam,” kata Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal.

Pemerintah telah menetapkan HPP sebesar Rp 5.500 per kilogram. Namun, di lapangan, tak ada pengusaha yang mampu membeli dengan harga tersebut. Rata-rata harga jagung hanya Rp 4.300 sampai Rp 4.500 per kilogram. Paling tinggi, pabrik di Jawa Timur dan Jawa Tengah membeli dengan harga Rp 5.300 per kilogram di tingkat pabrik.

“Ini bukan harga di petani. Karena ongkos transportasi yang tinggi. Jadi bagaimana mau beli di petani dengan harga Rp 5.500 per kilo,” ujar Iqbal.

Photo
Photo

Pemprov NTB terus mencari solusi atas persoalan ini. Miq Iqbal telah menggelar pertemuan daring dengan seluruh kepala daerah se-NTB. Hasilnya, Bulog Kanwil NTB diminta untuk menyerap jagung petani sesuai HPP, yakni Rp 5.500 per kilogram.

“Karena ini pembelian dari pemerintah. Tapi persoalannya, kapasitas penampungan di Bulog NTB juga terbatas,” urai Iqbal.

Saat ini, Bulog Kanwil NTB hanya mampu menampung sekitar 43 ribu ton jagung kering. Angka itu belum mencapai 5 persen dari total produksi jagung NTB pada musim panen pertama tahun ini yang mencapai 1,2 juta ton. Kapasitas terbatas itu terjadi karena gudang-gudang Bulog masih dipenuhi stok jagung pembelian tahun lalu untuk cadangan pangan.

“Saat ini gudang Bulog sudah penuh semua,” ujar Iqbal.

Pemprov meminta para bupati dan wali kota mengidentifikasi ketersediaan gudang di masing-masing daerah, baik milik pemerintah maupun swasta. Data gudang tersebut akan diserahkan ke Bulog untuk dimanfaatkan.

“Kami minta Bulog manfaatkan gudang ini. Kalau milik pemerintah akan kita pinjamkan. Asalkan Bulog mau membeli jagung petani dengan harga Rp 5.500 per kg,” tandas Iqbal.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB Muhammad Taufieq Hidayat mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Bulog Kanwil NTB. Saat ini, Bulog NTB mendapat penugasan dari pusat untuk menyerap 78 ribu ton jagung petani. Namun, Pemprov meminta agar serapan bisa ditingkatkan hingga 200 ribu ton.

“Kami berupaya lakukan negosiasi semoga bisa menyerap lebih banyak lagi,” kata Taufieq. (mar/r7)

Editor : Jelo Sangaji
#Jagung #jawa #Penugasan #produksi #NTB