Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Keberangkatan Dua Jamaah Calon Haji Kloter 4 Asal Lombok Timur Ditunda karena Hal Ini

Yuyun Kutari • Selasa, 6 Mei 2025 | 10:17 WIB
Pada saat pelepasan, JCH Kloter 4 asal Lombok Timur akan menerima paspor, living cost, boarding pass, dan pemeriksaan x-ray oleh bea cukai dan maskapai Garuda Indonesia, Senin (5/5).
Pada saat pelepasan, JCH Kloter 4 asal Lombok Timur akan menerima paspor, living cost, boarding pass, dan pemeriksaan x-ray oleh bea cukai dan maskapai Garuda Indonesia, Senin (5/5).

LombokPost - Jamaah Calon Haji (JCH) asal Lombok Timur yang tergabung di Kelompok Terbang (Kloter) 4 Embarkasi Lombok, telah diterbangkan menuju Madinah, Arab Saudi, Senin malam pukul 19.00 Wita. Namun, ada peristiwa yang menyertai proses keberangkatannya.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Mataram Suparlan mengungkapkan sebanyak dua JCH dari Kloter 4 asal Lombok Timur ini, harus ditunda keberangkatannya.

“Keduanya diganti dengan jamaah dari kloter lain, sehingga jumlah jamaah yang terbang tetap utuh ada 393 orang,” kata Suparlan, Senin (5/5).

JCH yang ditunda keberangkatannya, berinisial DM berusia 55 tahun berjenis kelamin perempuan. BKK Mataram harus merujuk jamaah tersebut ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma karena didiagnosa mengalami gangguan kejiwaan.

“Setelah hasil observasi di RSJ, beliau didiagnosa psikotik akut atau gangguan kejiwaan,” terangnya.

Kondisi ini diketahui oleh BKK Mataram setelah jamaah tersebut tiba di UPT Asrama Haji Embarkasi Lombok, sekitar pukul 19.00 Wita. Selama di aula Bir Ali II jamaah menunjukkan perilaku yang tidak sesuai biasanya, seperti merasa tidak betah, ingin pulang ke rumah, asing dengan suasana baru, gelisah, resah dan perasaan asing lainnya.

“Begitu dikumpulkan di aula, ngomong sendiri, terus keluar dari aula, tidak betah, tidak nyaman, tidak senang dengan situasi yang ramai, itulah alasannya kami rujuk beliau ke RSJ,” jelas Suparlan.

Jamaah inisial DM ini berstatus tunda keberangkatan. Ia menegaskan apabila nanti ada rekomendasi dari dokter spesialisis psikotis yang menangani perawatannya, memberikan rekomendasi layak untuk diberangkatkan, BKK akan mengusulkannya kepada pihak Kanwil Kemenag NTB untuk diterbangkan di kloter selanjutnya.

Jamaah berikutnya berinisial SM berusia 65 tahun berjenis kelamin laki-laki, mengalami penundaan keberangkatan karena terkena serangan jantung. Peristiwa itu terjadi pada saat seluruh JCH kloter 4 asal Lombok Timur dikumpulkan di aula Bir Ali 1 UPT Asrama Haji Embarkasi Lombok, dalam acara pelepasan jamaah menuju Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM), Senin siang (5/5).

“Serangan jantung ini terjadi pada proses pelepasan menuju bandara,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, BKK Mataram langsung merujuk jamaah tersebut ke RSUD NTB untuk mendapatkan penanganan dan perawatan lebih lanjut. Tim medis hingga saat ini terus memantau perkembangan kesehatannya, setelah jamaah mendapatkan penanganan kegawatdaruratan.

“Namanya serangan jantung perlu penangan khusus,” kata Suparlan.

BKK Mataram terus menunggu perubahan status kesehatan jamaah tersebut dari pihak RSUD NTB, apakah layak diterbangkan pada kloter berikutnya atau tidak.

Meski demikian, dirinya belum bisa memastikan berapa lama status kesehatan kedua jamaah tersebut akan berubah. Terlebih BKK Mataram menghadapi dua jenis penyakit yang berbeda.

“Kami belum bisa memastikan, tergantung dari segala pemeriksaan kesehatan yang menjadi kriteria dan pertimbangan dari masing-masing dokter di kedua rumah sakit itu, kita doakan yang terbaik,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan PPIH Embarkasi Lombok Anneda Hayati mengatakan selama pemeriksaan untuk kepentingan istitaah kesehatan, petugas di puskesmas dan rumah sakit di kabupaten dan kota, mengacu pada petunjuk dan pedoman dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Pemeriksaan harus mengacu pada pedoman kementerian,” jelasnya.

Pemenuhan syarat istitha'ah atau kemampuan kesehatan calon jamaah dilakukan melalui pemeriksaan medis menyeluruh, meliputi pemeriksaan dasar yakni anamnesis, pemeriksaan fisik, skrining kesehatan jiwa, pemeriksaan laboratorium, foto toraks dan elektrokardiografi.

Kemudian pemeriksaan kognitif, pemeriksaan kesehatan mental, pemeriksaan kemampuan aktivitas sehari-sehari, pemeriksaan medis lanjutan, serta pemeriksaan evaluasi.

Karenanya, saat terjadinya kondisi yang dialami dua jemaah tersebut, setibanya di embarkasi, bisa jadi ada faktor pemicu. “Bisa saja karena kelelahan,” jelasnya.

Karena dari hasil koordinasinya dengan Dikes Lombok Timur, melihat riwayat pemeriksaan kesehatan mulai dari tingkat puskesmas hingga ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di tingkat kabupaten, dua jamaah tersebut, sebelumnya dalam kondisi sehat.

“Kedua jemaah ini tidak terdiagnosis penyakit itu, semuanya baik-baik saja,” kata dia.

Namun, sebelum berangkat ke asrama haji, pihaknya menerima laporan jika kedua jamaah tersebut kelelahan.

Anneda mengatakan kelelahan bisa jadi disebabkan aktivitas jamaah selama persiapan jelang keberangkatan terlalu banyak.

“Maaf ya, di daerah kita kan banyak tradisi, dan itu dilakukan hampir setiap hari sebelum keberangkatan padahal ini seharusnya istirahat,” ujarnya.

Karenanya, ia meminta kepada petugas kesehatan di tingkat puskesmas tetap memberikan edukasi kepada jamaah dan tim kesehatan haji (TKH) di kabupaten dan kota, agar jamaah tetap menjaga kesehatan.

“Kurangi aktivitas yang tidak perlu menjelang keberangkatan,” imbaunya. (yun)

Editor : Marthadi
#Haji #RSUD NTB #Embarkasi lombok #Kesehatan #gangguan kejiwaan