LombokPost--Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di TPA Regional (TPAR) Kebon Kongok mulai menarik minat investor.
Kepala UPT TPAR Kebon Kongok Dinas LHK NTB Radyus Ramli mengungkapkan, ada dua investor yang tertarik untuk menanamkan modal, yakni satu dari Belanda dan satu lagi dari Turki.
“Satu dari Belanda, satunya lagi dari Turki,” terangnya, Selasa (6/5).
Baca Juga: Bisnis Biliar Mulai Tumbuh di Lombok Utara, Banyak Diminati Generasi Muda
Investor asal Turki, menurut Radyus, telah melakukan penjajakan lebih lanjut.
Mereka kini tengah melakukan analisis secara rinci untuk menilai kelayakan pengembangan TPAR Kebon Kongok menjadi proyek PLTSa.
Analisis ini mencakup aspek teknis, lingkungan, sosial, ekonomi, dan bisnis.
“Mereka sudah mulai menganalisis proyek ini,” ujarnya.
Berdasarkan rencana awal, Radyus menyebutkan bahwa investor asal Turki akan menanamkan modal sebesar Rp 500 miliar untuk pembangunan PLTSa.
“Rencana awalnya segitu yang saya dengar,” imbuhnya.
Namun, angka tersebut masih bisa berubah sesuai dengan hasil studi kelayakan dari investor.
Nilai investasi untuk pembangunan PLTSa diperkirakan dapat mencapai lebih dari Rp 3 triliun, dengan angka minimal sekitar Rp 1 triliun.
Angka tersebut diperlukan untuk pengadaan berbagai peralatan yang mendukung operasional PLTSa, seperti bunker atau penampung sampah, derek pengambil sampah, ruang bakar dengan sistem parut bolak-balik, sistem pengendali polusi, pemasangan unit steam turbin pembangkit listrik, dan kebutuhan lainnya.
“Rencananya mereka mau investasi Rp 500 miliar dari Turki, ini masih nilai sementara, karena minimal investasi PLTSa ini bisa Rp 1 triliun. Saya belum tahu support systemnya investor Turki ini, kita lihat nanti,” jelasnya.
Investor asal Turki telah berkomunikasi dengan timnya dan meminta dukungan dari pemerintah daerah.
Mereka memerlukan jaminan pasokan sampah sebagai bahan baku dan kepastian pembelian listrik yang dihasilkan PLTSa oleh PLN.
“Mereka minta jaminan ini, ini masih didiskusikan,” katanya.
Baca Juga: Pejabat Eselon II Segera Dikocok Ulang, Birokrasi Lobar Butuh Orang Spesial
Radyus mendukung jika TPAR Kebon Kongok dijadikan lokasi PLTSa, karena ini merupakan bagian dari Energi Baru Terbarukan (EBT) dan dianggap sebagai solusi untuk mengatasi masalah sampah sekaligus menghasilkan listrik.
“Kalau bisa terwujud PLTSa, kita nggak perlu terlalu pusing mengurus sampah ini,” katanya.
Terkait dengan pengumpulan sampah yang dapat diolah di PLTSa, pihaknya telah menyiapkan solusi. Salah satunya adalah bekerja sama dengan TPA yang dikelola oleh Lombok Tengah dan Lombok Timur.
“Sangat bisa kalau kita lakukan kerja sama, supaya sampah di sana juga bisa teratasi,” ujarnya.
Baca Juga: Kades Lobar Belum Siap dengan Koperasi Merah Putih
Pihaknya juga berencana untuk mengoptimalkan sampah yang ada di Lombok Barat.
Estimasi total produksi sampah di Lombok Barat, berdasarkan jumlah penduduk, bisa mencapai 500 ton per hari, namun yang masuk ke TPAR Kebon Kongok hanya 100 ton.
Sementara itu, di Kota Mataram, diperkirakan total produksi sampah mencapai 300-350 ton per hari, dengan 250 ton di antaranya masuk ke TPAR Kebon Kongok.
“Kalau pengumpulan dan pengangkutan ini persoalan teknis, Insya Allah bisa kita atasi,” tandasnya.
Baca Juga: Honda Premium Matic Day Curi Perhatian Pengunjung Lombok Epicentrum Mall
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal menegaskan, pemerintah telah menyiapkan anggaran untuk pembebasan lahan seluas 2 hektare di sekitar TPAR Kebon Kongok sebagai lokasi pembangkit listrik.
Hal ini dilakukan karena pemprov harus memanfaatkan sampah yang ada sebagai sumber energi, mengingat kapasitas TPA Kebon Kongok yang hampir habis.
“TPA terus menerima sampah baru yang terus masuk, yang mana sebentar lagi kapasitas TPA Kebon Kongok ini akan habis, jadi nggak ada jalan lain kita jadikan sampah ini sebagai energi,” tegas Gubernur. (yun/r7)
Editor : Kimda Farida