LombokPost - Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh umat Muslim yang mampu secara fisik, finansial, dan spiritual.
Setiap tahunnya, jutaan umat Muslim dari seluruh dunia melakukan perjalanan panjang ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah ini.
Namun, kondisi perjalanan yang panjang dan padatnya kerumunan selama pelaksanaan haji, menimbulkan tantangan besar dari sisi kesehatan.
Salah satu penyakit yang menjadi perhatian utama adalah Tuberkulosis (TBC).
Baca Juga: Kesal Gara-Gara Tak Berhenti Menangis, Ayah Muda di Mataram Tega Aniaya Anaknya yang Masih Bayi
Ketua Tim Kerja 4 Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas 1 Mataram dr Ferry Wardhana menjelaskan TBC adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
“Penyakit ini terutama menyerang paru-paru dan menular melalui udara ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara,” terangnya, Sabtu (10/5).
Bagi jamaah haji, khususnya yang memiliki riwayat TBC aktif atau laten, perjalanan udara yang panjang dan kondisi lingkungan Arab Saudi yang ekstrem, bisa memperburuk kondisi mereka atau meningkatkan risiko penularan ke orang lain.
Baca Juga: Kasus Dugaan Korupsi Motocross Terkendala Audit Inspektorat
Perjalanan dari Indonesia ke Arab Saudi bisa memakan waktu lebih dari 10 jam penerbangan.
Dalam durasi tersebut, jamaah berada dalam kabin pesawat yang tertutup, dengan sirkulasi udara terbatas dan tekanan udara yang berbeda dari permukaan laut.
Bagi penderita TBC aktif, kata dr Ferry, perjalanan udara bisa memperparah gejala. Tekanan kabin rendah dan udara yang kering dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, memperburuk batuk, dan meningkatkan kemungkinan batuk berdarah.
“Kondisi ini bukan hanya membahayakan penderita, tapi juga meningkatkan risiko penularan kepada penumpang lain, terutama dalam ruang yang sempit dan tertutup,” terangnya.
Baca Juga: Dukung Pariwisata Hijau, Delegasi Indonesia Gastrodiplomacy Series Tanam Pohon di KEK Mandalika
Menurut WHO (2023), risiko penularan TBC di pesawat memang rendah, tetapi tetap ada, terutama jika perjalanan lebih dari 8 jam dan penderita batuk aktif tanpa menggunakan masker.
Karenanya, pemeriksaan kesehatan sebelum keberangkatan sangat penting untuk mengidentifikasi kasus TBC aktif dan mencegah komplikasi selama penerbangan.
Setibanya di Arab Saudi, jamaah akan menghadapi lingkungan baru yang memiliki risiko kesehatan tinggi.
Suhu yang ekstrem, kurangnya hidrasi, kelelahan fisik, dan kepadatan jamaah dapat memperburuk daya tahan tubuh dan menjadi pemicu kambuhnya TBC laten atau memperberat TBC aktif.
Kepadatan di lokasi-lokasi utama seperti Masjidil Haram, Mina, Arafah, dan Muzdalifah menciptakan lingkungan yang sangat ideal untuk penularan penyakit menular.
Baca Juga: Dukung Pariwisata Hijau, Delegasi Indonesia Gastrodiplomacy Series Tanam Pohon di KEK Mandalika
Salah satu laporan dari Kementerian Kesehatan Arab Saudi (MOH, 2022) menyebutkan TBC termasuk dalam daftar penyakit yang rutin dipantau, selama musim haji karena potensi penularannya yang tinggi dalam kerumunan besar.
Selain itu, fasilitas akomodasi yang digunakan jamaah, seperti tenda-tenda di Mina, sering kali penuh sesak dan ventilasinya terbatas.
“Kondisi ini bisa mempercepat penyebaran TBC, terutama jika ada penderita yang belum terdeteksi atau belum diobati,” tegasnya.
Pemerintah Indonesia menyadari pentingnya memastikan kesehatan jamaah sebelum keberangkatan ke Tanah Suci.
Sehingga Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengeluarkan regulasi terkait pemeriksaan kesehatan bagi calon jamaah haji.
Salah satunya adalah Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/508/2024 mengatur tentang perubahan atas Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/2118/2023 mengenai Standar Teknis Pemeriksaan Kesehatan dalam rangka Penetapan Istithaah Kesehatan Haji.
Baca Juga: Hadir di SMAN 5 Mataram, IP Goes To School Beri Pemahaman Kekayaan Intelektual
Dalam regulasi tersebut, disebutkan pemeriksaan untuk mendeteksi penyakit menular seperti TBC adalah wajib.
Jamaah calon haji dengan TBC aktif tidak diperkenankan untuk berangkat hingga mereka menyelesaikan pengobatan dan dinyatakan sembuh secara medis.
“Hal ini bertujuan untuk melindungi jamaah lain dari risiko penularan serta mencegah terjadinya komplikasi pada penderita selama ibadah haji,” jelas dr Ferry.
Upaya pencegahan juga dilakukan melalui edukasi yang diberikan kepada jamaah sebelum keberangkatan.
Petugas kesehatan haji Indonesia bekerja sama dengan otoritas kesehatan Arab Saudi untuk menyampaikan informasi mengenai bahaya TBC dan cara pencegahannya.
Edukasi ini mencakup pentingnya menggunakan masker selama perjalanan dan di tempat umum.
Kemudian menjaga etika batuk dan bersin. Menjaga kebersihan tangan. Menghindari kontak dekat dengan orang yang menunjukkan gejala TBC.
Mengenali gejala TBC seperti batuk berdahak lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, demam malam, dan keringat dingin.
Untuk seluruh jamaah, dr Ferry menyarankan untuk menjaga daya tahan tubuh dengan istirahat cukup, makan makanan bergizi, dan tetap terhidrasi selama perjalanan dan pelaksanaan ibadah. (yun)
Editor : Kimda Farida