LombokPost - Wilayah NTB termasuk satu dari 185 zona musim (ZOM) di Indonesia yang mengalami musim kemarau dengan sifat di atas normal.
Kondisi itu ditandai dengan akumulasi curah hujan lebih tinggi dari biasanya selama musim kemarau.
Dampaknya, meski secara kalender sudah memasuki musim kemarau, NTB masih terus diguyur hujan lebat.
“Inilah yang beberapa menyebabkan daerah di NTB masih sering turun hujan,” jelas Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (Stamet ZAM) Satria Topan Primadi kepada Lombok Post, Jumat (23/5).
hari Sepanjang kemarin, hujan mengguyur Pulau Lombok, seperti Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Lombok Utara.
Hujan juga turun di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima. Hujan turun dengan intensitas mulai dari sedang hingga lebat.
Baca Juga: Musim Kemarau Sudah Tiba, tapi Kok Masih Hujan? Ini Penjelasan BMKG Soal Cuaca Tak Menentu Mei 2025
Pos Pantauan Lombok menunjukkan hujan cukup lebat terjadi mulai dari Lombok Tengah, Lombok Barat, hingga Kota Mataram.
Turunnya hujan kontan menimbulkan titik berkumpul di sejumlah lokasi, namun tidak sampai banjir.
“Kami sudah mengeluarkan peringatan dini potensi hujan selama tiga hari, mulai hari ini (kemarin, Red) sampai Minggu (25/5),” jelas Topan.
Baca Juga: Wilayah NTB Masih Sering Hujan Lebat Meski Sudah Masuk Kemarau, Begini Penjelasan BMKG
Meski begitu, dari pantauan radar BMKG tidak ada potensi angin kencang disertai petir. Hanya hujan dengan intensitas sedang dan lebat yang mengguyur.
BMKG pun mengimbau masyarakat sebagai pengguna maupun operator transportasi laut, seperti nelayan, pelaku wisata bahari, maupun warga yang beraktivitas di sekitar wilayah pesisir untuk tetap berhati-hati.
Sebab, tinggi gelombang laut bisa mencapai lebih dari 2 meter.
Kondisi itu bisa terjadi di Selat Lombok bagian utara dan selatan, perairan selatan Pulau Lombok, perairan utara dan selatan Pulau Sumbawa, Selat Alas bagian selatan, dan Samudra Hindia selatan NTB.
Baca Juga: NTB Siap Memasuki Peralihan Musim Menuju Kemarau, Ini Catatan BMKG
“Kondisi itu juga diikuti kelembapan udara yang cenderung basah di berbagai ketinggian, serta labilitas atmosfer yang kuat yang mendorong terbentuknya awan hujan secara masif,” jelas Topan.
Prakirawan BMKG Stamet ZAM Dhian Yulie Cahyono menyampaikan, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di NTB kemarin disebabkan oleh indeks labilitas yang berada pada kategori labil sedang hingga kuat.
Hal ini menyebabkan kelembapan udara relatif basah pada lapisan udara atas. Selain itu, masih ada sisa gelombang atmosfer yang aktif di wilayah NTB sehingga mendukung pertumbuhan awan konvektif.
“Inilah sebabnya hujan masih sering terjadi meskipun sudah masuk musim kemarau,” papar Dhian Yulie.
Hujan di musim kemarau dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang menunjukkan pola konvergensi di NTB.
Kondisi atmosfer ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan Cumulonimbus yang menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Baca Juga: Waspada, Cuaca Ekstrem Masih Ancam NTB, Awan Cumulonimbus Picu Intensitas Hujan di Musim Kemarau,
“Kemarau basah seperti ini diperkirakan berlangsung sampai awal Juni dengan intensitas terus menurun,” papar Dhian. (mar/r7)
Editor : Kimda Farida