Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Balai TNGR Butuh Alat Canggih Imbas Insiden Terjatuhnya Juliana Marins di Rinjani

Yuyun Kutari • Sabtu, 28 Juni 2025 | 11:17 WIB
BERPACU DENGAN WAKTU: Tim SAR Gabungan bahu-membahu melakukan evakuasi jenazah Juliana Marins yang jatuh di kawasan Cemara Nunggal, ke arah Danau Segara Anak, Gunung Rinjani belum lama ini.
BERPACU DENGAN WAKTU: Tim SAR Gabungan bahu-membahu melakukan evakuasi jenazah Juliana Marins yang jatuh di kawasan Cemara Nunggal, ke arah Danau Segara Anak, Gunung Rinjani belum lama ini.

Lombok Post - Insiden jatuhnya Juliana Marins (27), pendaki asal Brasil, di Gunung Rinjani pada Sabtu lalu (21/6), hingga ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa menjadi bahan evaluasi bagi Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Saat proses evakuasi jenazah Juliana, kurangnya peralatan memadai menjadi sorotan berbagai kalangan.

Menanggapi kritikan tersebut, Kepala Balai TNGR Yarman mengungkapkan kejadian ini akan menjadi bahan evaluasi pihaknya. “Kami akan selalu berbenah, apa pun kejadiannya tetap menjadi bahan evaluasi kami,” ujarnya, Jumat (27/6).

Dalam hal penyelamatan di aktivitas pendakian, Balai TNGR telah memiliki shelter darurat. Fasilitas ini disediakan untuk membantu pendaki yang membutuhkan pertolongan, terutama dalam situasi darurat seperti kecelakaan atau cuaca buruk.

Balai TNGR telah menyiapkan shelter darurat di sekitar Danau Segara Anak. Pihaknya pun bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan keselamatan pendaki Gunung Rinjani. “Kami sudah bangun itu, artinya fasilitas yang menjadi upaya pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan, namun memang ada item-item peralatan yang masih perlu kami lengkapi,” terangnya.

Balai TNGR saat ini sudah mengusulkan pengadaan untuk sejumlah peralatan pertolongan pertama atau evakuasi. Yarman mengatakan saat ini pihaknya sangat membutuhkan rescue drone, ini digunakan untuk misi penyelamatan. “Misalnya untuk mengirim makanan, sebagai langkah kita melakukan pertolongan pertama kepada pendaki yang terjatuh atau terjebak, mudah-mudahan ada di 2026 ini,” harapnya.

Tak kalah penting, intensifkan pelatihan bagi tim penyelamat korban yang terjatuh, saat mendaki. Menurutnya, ini sangat penting untuk menjamin keselamatan korban dan tim itu sendiri. Pelatihan ini harus mencakup berbagai aspek teknis, medis, hingga psikologis.

Kemudian, pelatihan bagi tim yang bisa mengoperasikan peralatan penyelamatan. “Tidak bisa hanya pengadaan alat saja, SDM kita juga perlu dilatih untuk mengoperasikannya. Intinya kejadian ini sekali lagi menjadi bahan evaluasi kami,” tandas Yarman.

Plh Sekda NTB Lalu Mohammad Faozal mengakui insiden tersebut menjadi pelajaran berharga bagi Pemprov NTB, selaku tuan rumah dari aktivitas pendakian Gunung Rinjani.

Ia berencana akan memanggil seluruh penyelenggara jasa pendakian dan pemandu wisata yang beraktivitas di Gunung Rinjani, untuk evaluasi menyeluruh. “Mulai dari porter, manajemen yang ada di taman nasional dan juga para pihak yang bekerja untuk hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan pendakian, saya kira ini pelajaran yang berharga,” jelasnya.

Wakil Gubernur NTB Hj Indah Dhamayanti Putri menyampaikan ucapan belasungkawa atas meninggalnya Juliana Marins. “Kedukaan ini bukan hanya milik keluarga Juliana, melainkan juga duka masyarakat NTB, karena mendiang hadir sebagai tamu kita, tamu kita semua. Karena itu kami menyampaikan duka yang mendalam,” terangnya.

Editor : Jelo Sangaji
#Balai TNGR #Gunung Rinjani #rinjani #brasil #Juliana Marins